Oleh: Prof DR H Burhan Bungin (Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra)

Memang hoaks adalah sebuah konstruksi social ynag dibangun oleh orang-orang tertentu atau kalau dalam Bahasa ilmu pengetahuan itu agen. Selain agen, pembuat hoaks juga bisa dilakukan oleh siapa saja, antara lain simpatisan kelompok tertentu, tokoh tertentu, atau orang-orang yang iseng untuk membuat suasana semakin ‘ hidup’.

Kenapa demikian, karena hoaks itu sendiri bukan masalah rakyat, melainkan masalah negara. Kalau rakyat menganggap hoaks itu sebuah hiburan atau guyonan, dia berbicara digrup media social, lantas membagikan sesuatu ‘ wah’ digrup, menjadi senang.

Tetapi disisi lain hoaks menjadi ancaman negara hoaks tersebut diteruskan dan tersebar luas, negara itu bisa runtuh. Dan hal itu sudah terjadi dinegara-negara arab. Raja jatuh, negara jatuh, semua jatuh karena hoaks. Apalagi hoaks yang diagendakan yang dikonstruksi untuk sebuah tujuan menjatuhkan rezim.

Jadi, memang berbahaya bila hoaks tidak dikendalikan oleh negara. Negara didunia serta penguasa tentu akan merasa terancam dengan adanya hoaks ini.

Hoaks merupakan sebuah fenomena social yang sudah ada dari zaman dahulu. Tapi istilahnya dulu tidak dinamakan dengan hoaks, tetapi berbohong.

Seiring perkembangan zaman, kini kebohongan tersebut dimuat dimedia social. Kalau sudah menggunakan media social persoalannya pun makin luas.

Dalam media kita kenal ada terpaan massa atau agenda setting. Sekali saja diberitakan, semua orang akan tahu. Hoaks (kebohongan) kecil untuk gurauan, begitu masuk media akan dibaca semua orang. Kemudia setiap orang-orang menanggapinya berbeda. Media social inilah membuat sesuatu yang tidak serius menjadi serius.

Sebab, orang-orang yang melihat tidak tahu konteks sosialnya, yakni membuat hoaks (kebohongan) kecil untuk banyolan. Lantas mereka menafsirkan hal itu dengan pengalamannya dan kemudian disebar lagi ke orang lain.

Penyebaran informasi dimedia social sendiri tergolong sangat mudah. Hal ini yang membuat distorsi (oerubahan atau gangguan komunikasi) semakin melebar, dampak social pun semakin meluas.

Sementara terkait teknis produksi hoaks, kalau industry pasti ada agen yang membuat. Disebut industry karena ada pemesan atau usernya. Intinya, agen membuat hoaks sesuai yang diinginkan para pemesan. Seusai membuat hoaks, agen akan mengirimkannya ke buzzer. Tim buzzer  inilah yang berperan untuk menyebarluaskan hoaks tersebut.

Tetapi tanpa disadari terkadang kita juga turut menyebarluaskan hoaks. Biasanya penyebarluasan itu dilakukan untuk eksistensi diri. Mereka juga tak tahu efek dari membagikan hoaks. Bisa-bisa terjerat hokum.

Seharusnya yang dilakukan yakni mengecek dan ricek segala kabar yang diterima kemedia mainstream. Diera teknologi digital ini arus informasi bebas lalu lalang. Sehingga masyarakat tak dapat membedakan mana berita yang benar dan salah.

Selain itu, saya mengimbau agar masyarakat menjadi cyber security untuk akun medsos pribadi. Karena seseorang bisa menggandakan akun kita untuk menipu atau memnbuat dan menyebar hoaks. Sebaiknya juga jangan menggunakan nama asli, apalagi lengkap dengan foto kita.

Sumber: Surya. 15 Juli 2019