SURABAYA – Pengembangan batik terus dilakukan untuk pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi. Generasi muda perlu disasar agar batik tetap dicari. “Salah satu misinya adalah me- ngembangkan motifdan Teknik pemasaran. Bukan milenial lagi, tapi generasi Z,” ucap Soelistyowati, pemandu workshop peningkatan mutu dan kualitas batik.

Desain yang dimuat dalam batik tidak hanya menarik. Tetapi, juga harus menjaga filosofi batik. “Kekhasan daerah juga berpengaruh. Bisa berupa binatang lokal atau hasil alam yang menonjol untuk dijadikan ornamen,” ucap Enrico Ho, dan kualitas batik di Universitas Ciputra kemarin (23/11). Sesame pemandu. Dengan begitu, batik dari daerah tertentu akan berbeda dengan daerah lainnya. Keunikan bisa jadi nilai plus untuk pembeli nanti. Ornamen khasdari daerah tak boleh asal tempel. Dalam batik, ada pakem-pakem yang perlu diikuti. “Jadi, filosofi juga terjaga.

Bukan hanya hasil panen A ditempel bareng binatang sambung dosen Fashion Product Design Universitas Ciputraitu. Dengan menjaga filosofi, fungsi batik bukan hanya sebagai pakaian. Batik juga menjadi sarana untuk menurunkan nilai dan pengetahuan budaya.

“Apalagiini menyasar anak muda. Jadi, mereka belajar dan budaya tidak akan hilang,” ujar Lilis, sapaan akrab Soelistyowati. Dalam pelatihan Bersama UMKM batik asal Blitar itu, Lilis menemukan tantangan dalam mengubah pola pikir pembatik

terkait desain isan. (dya/c6/ady)

 

Sumber: Jawa Pos. 24 November 2021.