SURABAYA, SURYA – Kekayaan budaya kain di Indonesia sangat banyak dan beragam. Bahkan keindahannya menjadi ciri khas yang tidak tergantikan.
Keragaman kain tradisional inilah yang di eksplorasi oleh para perancang busana dari Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia ( APPMI) Jatim di ajang Surabaya Fashion Parade (ISFP) yang mengusung tema Niwasana Nusantara. Tema yang berarti kain atau baju khas nusantara ini, di gelar mulai Kamis (1/5)
Ada 104 rancangan busana yang ditampilkan oleh 13 anggota APPMI Jatim. Di antaranya karya Lia Afif yang mengangkat tema fearless beauty. Lia yang dikenal dengan rancangan busana muslimnya, kali ini juga masih mengusung konsep busana muslim glamour tetapi menonjolkan kecantikan perempuan. Sedangkan untuk nuansa kain Nusantaranya, Lia menggunakan kain torso kombinasi warna hijau, kuning dan ungu, sehingga pas untuk dikenakan saat pesta dan acara resmi. “Kain torso ini dari Jepara dan aku angkat sebagai symbol kecantikan seorang perempuan sekaligus pengejawantahan dari tagline-ku everybody is an artist of life,” ujar Lia yang ditemui di Convention Hall TP 3 saat pembukaan SFP 2014.
Berbeda dengan desainer Elok Rege Napjo yang selama ini lebih dikenal sebagai perancang kebaya. Rancangan nya yang mengambil tema sagacity yang bermakna kemegahan, kekuatan dan mengandung unsur misteri terlihat anggun meski berbahan tradisional.
Selain Lia dan Elok, masing-masing anggota APPMI mengusung tema dan kain khas Nusantara yang tidak kalah unik, seperti menggunakan kain tenun lurik, kain gedok dari Kediri, tenun Lombok, dan masih banyak lagi. “Hampir semua busana yang diperagakan hari ini (kemarin) semuanya berkonsep gaun malam. Rata-rata juga ready to wear dengan ciri khas masing- masing desainer tentunya,” terang ketua APPMI Jatim, Denny Djoewardi. (rie)
Sumber: Surya-2-Mei-2014.Hal_.9

