Surabaya – Desainer kondang Adjie Notonegoro unjuk karya dalam memperingati 80 tahun lahirnya brand menswear Wong-Hang Distinguished Tailor kemarin (23/2). Bertempat di The Royal Ballroom JW Marriot Hotel Surabaya, Adjie bersama desainer Wong Hang menampilkan koleksi-koleksi terbaru mereka.
Dapat Inspirasi Saat di Mobil
Dalam acara bertajuk Wong Hang Wedding Exhibition & Fashion Show itu, sekitar 40 setelan jas klasik minimalis dipamerkan kepada khalayak. Pilihan warna all black dengan double breasted mendominasi gaya jas pria terbaru yang diperagakan. Dengan variasi fancy tie dan bow tie, setelan busana pengantin pria terkesan klasik dan elegan.
Agar memberikan kesan glamour, untuk kali pertama di Indonesia Wong Hang menggunakan bahan jaquard yang ddimpor langsung dari Milan, Italia. Desain jaquard hitam dengan corak bunga menambah kesan mewah bak bangsawan Italia kepada pemakainya. Selain itu, hadir koleksi jas silk shinny wool dengan teknologi terkini yang menghadirkan jas berbahan ringan, antiair, sekaligus berkelas.
“Pilihan jas yang banyak diminati saat ini adalah yang double breated, seperti yang saya kenakan saat ini,” ujar Samuel Wongso, salah seorang desainer Wong Hang.
Melengkapi meriahnya fashion show, Adjie Notonegoro menghadirkan delapan koleksi terbaik gaun pengantin rancangannya. Inspirasi 1920-an yang berpotongan simpel namun kaya detail menjadi tren busana pengantin yang dipamerkan desainer kondang tersebut. Dengan taburan payet dan kristal swarovski, tampilan gaun semakin mewah dan memukau.
“Tren gaya 1920-an terlihat dari potongan rambut pendek para model, penggunaan topi bulu, juga aksesori bulu dan kristal pada gaun. Make up juga dipilih yang nude dengan lipstik merah, khas perempuan masa 1920-an,” ujar Adjie.
Mengaku mendapat inspirasi saat berada di dalam mobil, pria 52 tahun itu menampilkan tren warna everlasting dengan pilihan hitam dan putih untuk gaunnya. Sambutan pengunjung semakin meriah saat Mike Lewis memperagakan setelan jas pengantin karya Wong Hang yang bersanding serasi dengan gaun ala 1920-an karya Adjie Notonegoro.
Sumber : Jawa Pos, 24 Februari 2014, Hal29,39

