Ari Malibu (56) dan Reda Gaudiamo (54) telah bersama-sama menyebarluaskan puisi melalui lagu selama lebih dari 30 tahun. Sempat nyaris patah semangat, kini Ari dan Reda tengah menjali moment paling sibuk sepanjang masa bermusik mereka.
OLEH HERLAMBANG JALUARDI
Pada pekan terakhir Maret lalu, mereka meluncurkan album ketiga, Suara dari Jauh, dalam pentas khusus di Gedung Kesenian Jakarta. “Gedung yang sangat intimidatif ini. Grogi, gila!” celetuk Reda si penyanyi, kamis (23/3)
Posisi manggung mereka tidak berubah. Reda di sisi kiri jika dilihat sudut pandang penonton dan Ari di kanan memangku gitar akustik. Keduanya duduk dengan kaki menapak lantai. Antara mereka dan penonton ada tiang yang menopang buku berisi puluhan puisi yang jadi lirik lagu mereka. Itu adalah syarat utama pentas mereka yang kini tampil dengan nama AriReda.
Kegugupan kecil terlihat sebelum mereka memulai lagu ketujuh. Reda menyebut judul lagunya “Di restoran”. Ari malah memainkan intrio “Aku ingin” hingga satu bar, lantas kembali ke lagu semestinya. Lagu mengiris dari puisi Sapardi Djoko Damono itu tetap selesai dengan baik walau mulainya agak kikuk.
Gedung berkapasitas sekita 400 orang itu ramai meskipun tidak penuh. Penonton yang membeli tiket seharga Rp 75.000 hingga Rp 100.000 terpaku di kursi empuk menyimak 21 lagu yang mereka gelar dalam dua babak.
Babak pertama terdiri dari delapan lagu yang dicuplik dari dua album terdahulu. Selepas jeda sepuluh menit, Goenawan Mohamad membuka babak kedua. Ia diberi tugas mengenalkan duo ini kepada penonton. “AriReda, melalui musik, menghidupkan unsur bunyi pada puisi. Itu bukan tugas penyair lagi,” ucap Goenawan.
REDA GAUDIAMO
- Lahir: Surabaya, 1 Agustus 1962
ARI MALIBU
- Lahir: Makassar, 18 Desember 1960
- Diskografi
- :Becoming dew (2007)
- AriReda menyanyikan puisi (2015)
- Suara dari jauh (2017)
Goenawan naik panggung karena sejatinya album yang diluncurkan malam itu bersumber dari sepuluh puisi karya dia pada periode 1961-1990. Semua puisi itu digubah menjadi lirik lagu oleh M Umar Muslim. Umar menyerahkan 24 puisi Goenawan dalam bentuk lagu kepada mereka
Reda memilih syair yang kata-katanya enak dinyanyikan. Ari memilih berdasarkan melodi dan alur nada. Sepuluh lagu yang terpilih adalah yang sesuai dengan kriteria itu, diantaranya “Z”, “Kwatrin Muslim Gugur (IV)”, dan “Sajak Anak-anak Mati”. Umar, apalagi Goenawan, takt ahu-menahu pilihan mereka sampai hasil rekaman matang. Kendali ada di tangan AriReda.
Ari menyebut lagu di album baru ini mengukuhkan karakter lagu mereka dengan peran yang berimbang. Harmoni suara satu dan suara dua terdengar apik selaras dengan petikan gitar yang bening. Ikatan kimiawi yang mengental membuat Ari dan Reda cepat menyelesaikan rekamannya. Jadwal rekaman empat hari di Studio Kua Etnika Yogyakarta bisa kelar tiga hari.
Lepas identitas
Sepuluh tahun lalu mengeluarkan album perdana :becoming dew yang semua lagunya bersumber dari puisi Sapardi. AriReda identik dengan puisi Sapardi. Membaca puisi “Aku Ingin”, misalnya, mau tak mau terkenang dengan melodi lagunya.
Lewat album ketiga ini mereka sepertinya hendak melepas ikatan identitas itu. Interaksi intens dengan Goenawan terjalin ketika mereka tampil pada Pekan Raya Buku Internasional Di Frankfurt, Jerman, pada Oktober 2015.
Sepulang dari Frankfurt, jadwal manggung AriReda padat. Mereka merancang sendiri tur bertajut Still Crazy After All These Years, Mei 2016, untuk mengenalkan album kedua AriReda Menyanyikan Puisi, di enam kota selama tujuh hari.
Selama tur dan juga pentas lainnya, mereka bertemu dengan pendengar lama dan kawan baru. Diantara mereka ada pemusik muda umumnya memainkan corak folk atau pop akustik. Para pemusik ini terang-terangan mengaku terinspirasi dari AriReda, seperti band Payung Teduh, duo Teman Sebangku, Banda Neira, dan Frau.
“Beberapa grup indie yang lagi naik daun itu bilang terinspirasi dari kami walau tidak sama (musiknya). Kami seperti memunculkan warna baru,” kata Ari. Reda menambahkan, “pengakuan” itu yang membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab pada apa yang telah mereka mulai melagukan puisi.
“Saya merasa tiga tahun belakangan ini jumlah manggung justru lebih banyak daripada tiga puluh tahun sebelumnya, ha-ha-ha,” kata Reda.
“Dijodohkan”
Pentas pertama mereka terjadi berkat mendiang Ferrasta Soebardi alias Pepeng. Pepeng yang kelak jadi pembawa acara dan penyiar ternama itu menyenangi vokal Reda. Ia lantas “menjodohkan” Reda dengan temannya, Ari, yang piawai main gitar. Pentas di kampus Universitas Indonesia besutan Pepeng pada 1982 itu jadi awal petualangan Ari dan Reda.
Pepeng sering memberi order manggung, baik di pasar seni maupun kampus. Mereka masih membawakan lagu terkenal, seperti milik Bee Gees, Simon and Garfunkel, John Denver, hingga Paul McCartney.
Pada 1987, mendiang AGS Arya Dipayana, kenalan Reda, mendapat proyek musikalisasi pusis dari Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hassan, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek itu bertujuan mendekatkan puisi ke kalangan pelajar dan mahasiswa.
Arya Dipayana memberikan lima lagu gubahannya untuk dinyanyikan Ari dan Reda, diantaranya “Gadis Peminta-minta” dan “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”.
Proyek itu dianggap sukses dan dilanjutkan pada 1988 dengan jumlah puisi lebih banyak. Lagu “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni” mulai mereka bawaka. Dua tembang ini yang membuat duet Ari dan Reda terkenal dan memutuskan terus melagukan puisi meskipun proyek resminya sudah selesai.
“Buatku lebih dari 50 persen berhasil. Bagi anak SMP sekarang, puisi sudah bukan hal yang menyeramkan lagi. Mereka mulai menyukai. Itu, kan, tujuan awalnya, mengenalkan puisi Indonesia ke anak-anak yang lebih muda,” kata Ari yang sering dikira lulusan UI, padahal dari Akademi Pimpinan Perusahaan.
Namun, sebelum sampai pada titik sekarang ini, ada periode ketika mereka “menghilang” dari pentas. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing saling tak berkabar. Hingga pada 2006, mereka kembali bertemu, lantas memutuskan membuat album. Maka meluncurlah album :becoming dew pada Januari 2007.
Lingkaran baru
Walau sudah punya album mereka seperti bingung harus berbuat apa. Peredarannya mereka titip di tempat yang laporan penjualannya suka-suka saja. Pentas pun sesekali, “Kalau ada yang ingat,” celetuk Reda.
Celakanya lagi, ada orang yang mengunggah lagu mereka ke internet tanpa permisi. Mereka memilih mengabaikan hal-hal yang tak menyenangkan itu. Hingga pada 2011, mereka tampil di Bentara Budaya Bali. Mereka terkaget-kaget karena penontonnya membeludak, nyaris semuanya remaja dan hafal lagu-lagunya. “Kami terpacu lagi,” kata Ari.
Titik balik sebenarnya terjadi pada 2014. Mereka diundang tampil di RRec Fest in The Valley. Festival paduan kamping dan musik itu gagasan kelompok seni Ruangrupa Jakarta. Indra Ameng, curator acaranya, mengundang mereka mendapat lingkaran baru.
Salah seorang yang terpukau di sana adalah Felix Dass (33), yang banyak menulis tentang musik. Ia menawarkan diri mengurusi AriReda. Tetak-bengek manajerial band dirancang bersama. Dari lingkaran itu pula mereka terhubung dengan label rekaman sehingga melahirkan rekaman kedua.
Perjalanan menyuarakan puisi pun dimulai lagi. Kali ini digerakkan golongan lebih muda dan putarannya lebih kencang.
Sumber: Kompas, 22 April 2017 Hal 16

