Asah Keterampilan Anak Memilih Sejak Dini.

Belajar Sebab Akibat dan Konsekuensi dari Pilihan

Jawa Pos. 11 Februari 2024. Hal.20

Momen pemilu di depan mata. Ada keterampilan yang bisa orang tua ajarkan pada si kecil terkait momentum tersebut. Yakni, keterampilan memilih yang tidak didapatkan begitu saja. Asah sejak dini agar anak tumbuh menjadi pemilih yang bijak dalam perjalanan tumbuh kembangnya.

Dalam  kehidupan sehari-hari, anak akan dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mulai yang sederhana sampai kompleks. Ortu sebagai figur otoritas sering kali memilihkan segala hal dengan asumsi anak belum tahu mana yang baik buat dirinya. Padahal, ortu tak bisa selalu mengawasi anak.

“Apalagi kalau anak sudah di dunia luar, pilihannya semakin beragam. Kalau di sekolah makananku tumpah harus bagaimana, harus bermain dengan si A atau si B, kalau teman berperilaku begini saya harus apa. Itu semua kan melibatkan kemampuan memilih,” jelas Elisabeth Santoso MPsi Psikolog.

Keterampilan memilih itu bisa diasah sejak usia 1 tahun saat si kecil sudah paham sebab akibat. Elisabeth mengatakan, anak usia 10-11 bulan mulai belajar sebab akibat lewat perilaku melempar barang. “Benda dilempar akan menjauh, air dituang akan tumpah. Jangan dimarahi. Sebutkan sebab akibat supaya anak belajar konsekuensi bahwa ada aksi ada reaksi. Di situ pengajaran pertamanya,” lanjut psikolog anak di Rumah Tumbuh Kupompong Surabaya itu.

Menginjak usia 1-2 tahun, libatkan anak dalam memilih hal-hal sederhana. Namun, sampaikan background knowledge situasi yang akan dihadapi anak terlenih dulu. Sebab, pengalaman anak masih terbatas. Mereka belum bisa menilai kepantasan pilihan dengan situasi. “Misalnya, ‘Kita dapat undangan acara Imlek. Ada banyak orang, salah satu acaranya makan-makan. Biasanya orang memakai baju merah. Sekarang kita pilih yuk baju yang cocok buat adek’. jadi , pertanyaannya bukan kamu mau pakai baju yang mana, itu terlalu luas,” jelasnya.

Ortu harus punya kepercayaan bahwa mampu menalar. Jika pilihannya dirasa kurang cocok, berikan pilihan sandingan. Kalaupun pilihan anak akan terlihat aneh, jangan dimarahi. Biarkan anak belajar konsekuensi dari pilihannya. “Jadi, bebaskan anak memilih dalam koridor batasan
dan tidak mengekang anak menuruti pilihan kita,” imbuh kreator parenting @psikolog.elisabeth itu.

Anak yang tidak mendapat kesempatan memilih akan meragukan pilihannya. Dampaknya, anak hanya akan mengikuti orang lain. Padahal, dalam kehidupan tidak bisa selalu mengandalkan orang lain.

Kalau sampai dewasa anak belum mandiri membuat pilihan, ortu bisa memberi panduan dan menunda bantuan saat anak bertanya. “Misal, dia sudah kuliah, bingung pilih mata kuliah atau tempat magang. Minta anak mencari tahu plus-minus dari pilihannya dulu dan berikan waktu. Baru kemudian ortu memberi masukan,” paparnya.

Di sisi lain, anak yang tidak mendapat kesempatan memilih harus memperjuangkan pilihannya. Komunikasikan keinginan pada ortu dengan membawa data yang mendukung. Dengan begitu, ortu akan sadar bahwa anaknya mulai bisa berpikiran mandiri. (lai/c18/nor)