Sumber:https://radarsurabaya.jawapos.com/nasional/776912143/asean-qa-forum-2025-di-universitas-ciputra-surabaya-bahas-tantangan-ai-bagi-mutu-pendidikan-tinggi?page=2

ASEAN-QA Forum 2025 di Universitas Ciputra Surabaya Bahas Tantangan AI bagi Mutu Pendidikan Tinggi

3 Desember 2025

RADAR SURABAYA  Universitas Ciputra Surabaya (UC) menjadi tuan rumah penyelenggaraan TrainIQA Workshop 3 dan ASEAN-QA Forum 2025, sebuah agenda internasional yang membahas penguatan penjaminan mutu pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan ini digelar dengan dukungan sejumlah lembaga global, mulai DAAD Jerman, HRK, Potsdam University, AQAN, EUA, hingga SEAMEO RIHED.

Acara yang berlangsung selama lima hari tersebut menghadirkan pakar dan trainer penjaminan mutu dari Jerman serta delegasi sembilan negara Asia Tenggara.

Mereka berasal dari Indonesia, Jerman, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, Timor-Leste, Kamboja, dan Vietnam.

Fokus pada Dampak AI terhadap Mutu Pendidikan

Pada forum tahun ini, ASEAN-QA mengangkat tema Opportunities and Challenges in Higher Education Quality Assurance in the Era of AI.

Tema tersebut menekankan bagaimana kecerdasan buatan (AI) memengaruhi proses pembelajaran, akreditasi, hingga integritas akademik di perguruan tinggi.

Frank Niedermeier, TrainIQA Project Leader dari Potsdam University, menegaskan bahwa perubahan signifikan akibat AI membuat lembaga pendidikan perlu merumuskan pendekatan baru.

“UNESCO dan OECD menekankan bahwa AI mengubah cara kita belajar dan mengajar. Sistem pendidikan perlu memikirkan ulang keterampilan yang harus dipertahankan dan yang dapat digantikan AI,” tuturnya.

Peran UC Surabaya sebagai Penghubung Dialog Global

Head of Institutional Development & Quality Enhancement UC Surabaya, Lenny Rosita, menyampaikan bahwa kepercayaan DAAD dan lembaga internasional kepada UC menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menjadi ruang dialog global.

“Dipercaya menjadi tuan rumah merupakan bukti bahwa Indonesia mampu menjembatani pembahasan mengenai mutu pendidikan tinggi,” ujarnya.

Lenny menambahkan bahwa AI menjadi isu utama karena membawa perubahan yang tidak dapat dihindari oleh perguruan tinggi.

“AI membuka peluang efisiensi pembelajaran dan analisis mutu, tetapi juga menghadirkan risiko terhadap integritas akademik, keamanan data, dan kualitas asesmen.

Forum ini bertujuan merumuskan kerangka yang etis, bertanggung jawab, dan berpusat pada capaian pembelajaran mahasiswa,” jelasnya.

Dorong Standar QA Global dan Kolaborasi ASEAN–Eropa

Sebagai tuan rumah, UC tidak hanya memfasilitasi kegiatan, tetapi juga aktif memberi kontribusi gagasan terkait masa depan penjaminan mutu. Diskusi diarahkan pada integrasi teknologi digital dan AI ke dalam proses akademik.

“Kami ingin memastikan suara Indonesia hadir dalam pembahasan standar QA global serta mendorong kerja sama konkret antarpenguruan tinggi di ASEAN dan Eropa,” tambah Lenny.(rmt)