Inovasi etnomusiklog asep nata (52) sulit berhenti. Setelah gamelan keramik hingga karinding towel, ia unjuk gigi dengan pelok song pada awal tahun 2017 ini. Ia tekun membuat berbagai terobasan demi memanggungkan kekayaan dan keragaman music tradisional nusantara.
Oleh Cornelius Helmy
Lantunan lagu “love me tender” terdengar bulat saat bibir Asep nata meniupkan udara kelubang biji manga yang dikeringkan. Ada beberapa nada meleset. Namun cukup jelas, menebak lagu yang dipopulerkan raja Pop Elvis Presley, sekitar 50 tahun lalu.
“ini lagu anak-anak maksudnya lagu anak-anak waktu saya kecil,” katanya. Decak kagum lekas hadir dari beberapa orang yang merubunginya. Mereka tidak menyangka, biji manga bisa jadi alat music. “ini inovasi instrument music saya bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan. Namanya pelok song,”katanya.
Dalam bahasa Sunda, Pelok artinya biji mangga. Song adalah nyanyian dalam bahasa inggris. Kurang lebih artinya, nyanyian biji mangga. Pagi jumat (20/1) itu, Asep kembali pentas secara Eksplorasi Instrument Tiup yang digelar Lembaga Bahasa Sunda Universitas Pasundan (Unpas) di Bandung, Jawa Barat. Hadir puluhan anak TK Alam Al Ikhlas Bandung, beberapa mahasiswa dan wartawan. Butuh waktu tiga bulan bagi Asep bersama mahasiswa Unpas untuk menciptakan terobosan itu. Asep sengaja mengundang para siswa TK. Pelok song berpotensi menjadi sarana pendidikan usia dini. Tidak hanya mudah dibunyikan. Instrument itu juga mengajak semua penikmatnya mencintai lingkungan dengan memanfaatkan sampah biji mangga jadi bermanfaat.
Setelah dikeringkan, serat buah mangga yang masih menempel pada biji mangga di potong dan diampelas. Biji itu dibelah di salah satu sisinya agar bisa mengeluarkan isi dalam biji sehingga menyisakan kulit luarnya saja. Untuk mendapat sumber bunyi, sisi biji ditempelkan lagi menggunakan lem. Biji lantas dilubangi sebagai jalan keluar-masuk udara. Lubang tiup di buat lebih besar di pangkal biji sedangkan lubang pengatur nada dibuat dengan bor. “Penentuan lubang dilihat dari besar atau kecilnya biji. Untuk bagian yang lebih besar, bisa dibuat enamlubang, nada rendah biasanya dibagian yang lebih besar,”katanya. Menurut Asep, sebagai penghasil bunyi, pelok song sudah ideal. Pelok song menghasilkan banyak nada berbeda. Namun dari sisi alat music pelok song masih harus disempurnakan. Tak mudah menemukan biji mangga untuk menghasilkan nada yang diinginkan. Tebal tipis biji mangga memengaruhi suara.
Paling ideal, pelok song dibuat dari biji mangga yang matang di pohon karena kulitnya lebih tebal. Namun tak mudah menemukannya. Sebagian besar mangga yang beredar di pasaran itu hasil pemeraman instan sehingga kulit bijinya sangat tipis. “Kami membuat 200 pelok song tapi hanya 40 buah yang bisa dipakai. Apabila kulitnya terlalu tipis, tidak bisa digunakan. Semoga kedepannya lebih ideal memberi warna pada instrument music ocarina. Instrumen tiup ini punya ruang untuk memantulkan suara,”katanya.
Keragaman
Asep mengeluarkan beberapa benda dari kotak plastic kecilnya. Tangannya hati-hati mengangkat benda berbentuk burung montok yang tengah mengerami telur. Panjangnya sekitar 15 sentimeter dengan lebar 6 sentimeter. “instrumen ini namanya mamanukan atau artinya burung-burungan dalam bahasa sunda. Dulu waktu kecil di Sumedang (Jawa Barat), saya dan teman-teman sering memainkannya dnegan cara ditiup seperti peluit. Sekarang sudah sulit ditemukan ocarina seperti ini. Ini saja saya buat sendiri.” Katanya. Dia lalu memperlihatkan semacam pipa berukuran 15 sentimeter. Dibuat dari kayu keras ada dua lubang dan sua lubang kecil di kedua sisinya. Benda itu bernama tulila, instrument tiup dari Sumatera Utara. Tulila biasa digunakan untuk memancing kehadiran burung di hutan. “Beda lagi di daerah Timor. Instrumen serupa disebut veku. Biasa digunakan menggembalakan ternak. Meski berasal dari beberapa daerah, cara meniupnya serupa,” katanya.
Tradisi ocarina juga tumbuh disejumlah Negara. Salah satunya ocarina dari peru (Peruvian Ocarina). Ia mengeluarkan benda mirip lonceng sapi tanpa bandul di dalamnya. Lukisan kecil ular dan orang menari jadi penghias benda terbuat dari keramik itu. Asep mendapatkannya saat mengunjungi Prancis. “Ini saya kumpulkan setelah berkeliling sejumlah daerah di Indonesia dan sedikit Negara lain. Saya pelajari kekayaan musiknya. Selalu ada yang baru dan memberi semangat,” katanya. Ia pernah menjadi anggota pendokumentasian alat music tradisi dalam Smithsonian Folkways Music of Indonesia tahun 1997. Dipimpin Philip Yampolsky, etnomusikolog asal Amerika Serikat sekaligus dosennya di Program ETnomusikologi Universitas Sumatera Utara, Asep ikut mengunjungi tempat alat music seperti Yospan (Biak), kecaping (Bugis), talempong (Minangkabau), hingga wayang susak (Lombok). Semuanya terangkum dalam kompilasi compact disc (CD) volume 4, 11, 12, dan 14. Semua memberi pelajaran tentang pentingnya inovasi dan menggali tradisi. Saya berharap saat terus di bunyikan semua alat music itu akan terus mewarnai kekayaan khazanah keluarga music Indonesia,” katanya.
Inovasi
Pemanfaatan sampah biji mangga bukan inovasi pertamanya. Ia pernah mengembangkan gamelan berbahan tanah liat dan keramik. Gamelan keramik mengundang decak kagum saat ditampilkan dalam festival music tembi 2013. Gamelan tanah litany menarik perhatian penonton di festifal gamelan Yogyakarta 2015. Asep berkolaborasi dengan musisi jazz Richard Bennet dan Paula Bennet. Saat itu, irama lagu “cucokrowo” yang dimainkan Asep selaras dengan “Red River Valley” yang dibawakan Richard dan Paula.
Inovasinya juga hadir melalui karinding toel. Karinding adalah alat musik bambu tradisional Sunda, sedangkan toel dalam bahasa Sunda artinya disentuh. Asep membuatnya tetap dari bamboo tapi dengan membrane bunyi yang disederhanakan. “Saya juga membuat karinding dari sampah kartu perdana nomor telepon seluler,” katanya. Ketua lembaga budaya Sunda Universitas Pasundan Hawe Setiawan mengatakan ketekunan Asep sukses memperlihatkan kekayaan bangsa yang beragam. Perbedaan bukan menghancurkan, melainkan menyatukan. “pelok song dan alat-alat inovasi asep jadi buktinya,” katanya.
Beranjak siang, anak-anak TK Alam Al Ikhlas mulai kelelahan meniupkan pelok song, namun, Deffan Azka (5)salah seorang siswa masih bersemangat meniup pelok song, bahkan ia maju dan mendapatkan tepuk tangan peserta sanggar kerja (work shop). Asep lantas membuka dialog. Dari beberapa pertanyaan dia tergelitik usulan salah seorang guru TK. “Bisa tidak pak, pelok song dibunyikan seperti angklung? Satu nada dimainkan bersama. Terlalu sulit jika anak TK memainkan satu lagu sendirian katanya. “Oh, bisa sekali. Pasti bisa,”katanya. Pertanyaan itu melucut Asep dan rekan-rekannya. Sukses mengeluarkan bunyi dan nada, ia mengatakan masih ada yang disempurnakan. “Kami akan kembali mencari biji mangga yang ideal. Ada juga rencana membuka klinik pelatihannya. Disana, kami akan sediakan partiturnya agar bisa dimainkan bersama,”katanya.
ASEP NATA
Lahir : Sumedang, 24 Juni 1964
Pendidikan :
- SD Lengkong Besar Bandung (lulus 1977)
- SMP Pasundan 1 Bandung (1981)
- SMA Pasundan 1 Bandung (1983)
- Jurusan Etnomusikologi Universitas Utara (1994)
Pekerjaan
Dosen Luar Biasa Jurusan Seni Musik di Universitas Pasundan
Sumber: Kompas 8 Februari 2017

