Georgea Radji da Desain Batik. Surya. 16 November 2014.Hal.9

GEORGEA RADJI DAN DESAIN BATIK

Pepatah buah jatuh tak jauh dair pohonnya, berlaku bagi seseorang dalam menjalani kehidupan. Profesi dan kemampuan orangtua diikuti oleh si anak. Hal itu terjadi di keluarga Radji saat Georgea Radji mengikuti jejak sang ayah, Sonny Radji, menjadi desainer.

Butik Georgea Desain di kawasan Jalan Musi, Surabaya, penuh dengan baju-baju kebaya rancangan Georgea. Baju-baju itu tengah disapkan untuk gelaran fashion shows di Grand City, Sabtu (15/11) malam. Kebaya-kebaya modern dan klasik berjejer dan dikenakan di tubuh manekin.

“Agak berantakan sebab lagi siap-siap untuk acara,” kata Geogea kepada Surya saat ditemui di butiknya.

Tidak dapat dipungkiri, Georgea mengaku mendapatkan ilmu desain dari ayahnya. Melalui ayahnya, dia mulai menimba ilmu serta  jalan menuju kariernya sebagai seorang desainer.

Pengaruh ayahnya sangat kuat. Bahkan, sampai sekarang, Georgea tetap fokus membuat baju-baju kebaya seperti yang dilakukan ayahnya dulu.

“Baju-baju lain saya juga buat. Tapi memang, spesialisasi saya pada akhirnya mengikuti jejak ayah, membuat kebaya,” sambungnya.

Sewaktu kecil, Georgea sudah menunjukan kesukaannya menggambar. Ketika melihat ayahnya bekerja, perempuan ebramput panjang inin mencontoh gambar-gambar rancangan itu.

Kendati demikian, karier di dunia fashion tak langsung dengan terjun membuat pakaian. Gergea mengaku awal terjun ke dunia fashion dengan memulai membuat aksesoris.

Mulai 2007, dia membuat aksesori untuk fashion. Terkadang dipakai sama ayah. Baru setahun berikutnya, Gergea mendalami desain baju.

Meski pengaruh ayahnya sangat kuat, Gergea menyatakan dirinya tidak lantas membuat rancangan yang mirip.. ibu saut orang putra ini tetap menunjukan karakternya yang khas.

“Tidak mungkin membuat kebaya yang sama seperti ayah. Saya tetap harus menunjukan pribadi saya sendiri,” tuturnya.

Mendesain Batik

Baju-baju karya Georgea berbeda drastis ketimbang rancangan ayahnya. Dijelaskan, ayahnya senang membuat kebaya yang glamor. Bahan kebaya banyak ditambahi apilkasi brokat, payet, berlian, swarovski, dan lainnya, guna menampilkan kesan glamor itu.

“Desain kebaya ayah sangat klasik dan biasanya untuk ibu-ibu 40 tahun ke atas. Kalau saya, lebih umum dan luwes desainnya,” paparnya.

Georgea menunjukan desain kebayanya yang lebih dinamis dan fungsional. Kebaya potongan sleeves dengan desain korset menjadi rancangan signature yang cocok bagi perempuan energik yang produktif.

“Saya juga merancang kebaya anak-anak yang asma sekali tidak menampilkan kesan tua,” tambah Georgea.

Tak puas mendesain kebaya, dia merambah membuat desain batik. Desainnya ini orisinal, yang kemudian dibuat dalam bentuk batik tulis.

Awal mendesain batik karena kegemarannya mengisi waktu luang atau bosan mendesain baju. Di atas kertas, Georgea membuat sketsa pola tumbuh-tumbuhan, serangga, desain etnik, dan lainnya. Setelah terkumpul banyak, dia merasa pola-pola itu sangat cocok jika dibuat desain batik.

“Saya bekerja sama dengan perajin batik tuis di Solo. Saya buatkan desainnya, mereka yang membatik. Ini saya mulai sekitar 2012,” katanya.

Pola-pola desain batiknya kebanyakan unsur alam, flora, dan fauna. Namun, tak jarang mengedepankan pola simetris dan asimetris, tergantung peruntukannya.

Sebab, ungkap Georgea, pola-pola desain batiknya sudah mulai banyak dipesan orang. Tak hanya untuk bahan batik tulis, desain-desainnya menjadi pola interior hingga logo perusahaan.

Awalnya tak sengaja, ada klien yang curhat butuh desain batik seragam hotel. “Saya tunjukan gambar-gambar pola saya, dan mereka suka. Sejak saat itu, berlanjut sampai sekarang,” ungkapnya.

Toh, Georgea tak sembarangan membuat pola batiknya. Ibu dari Jethro Filber (4) ini memproduksi sesuai peruntukannya. Apalagi, peemsan pola-pola batiksemakin luas,tak hanya Jatim.

Di antara dua pekerjaannya, membuat kebaya dan desain batik, Georgea merasa lebih nyaman mendesain batik. “Honornya juga lebih menggiurkan. Puluhan sampai ratusan juga,” bebernya. (irwan syairwan)

Sumber: Surya/16 November 2014/Hal 9