SURABAYA – Kertas yang disulut api lama-kelamaan akan habis. Itu gambaran yang digunakan dr Prasetia Indra Gunawan SpA saat menjelaskan dampak kejang epilepsi terhadap otak anak. Jika dibiarkan, kejang yang berkali-kali terjadi akan merusak otak. Bahkan, tumbuh kembang anak bakal terganggu.
Nah, dia menganalogikan kejang sebagai kebakaran kecil. Misalnya, kebakaran tersebut terjadi lagi dan lagi, kerusakan yang ditimbulkan tentu meluas. Pada kasus kejang epilepsi, yang rusak adalah otak. Menurut dokter yang praktik di RSUD dr Soetomo itu, kejang epilepsi disebabkan adanya gangguan di dalam otak.
“Jadi, di dalam otak anak terdapat miliaran neuron atau sel saraf. Antara satu dan yang lain ada penghubungnya,” katanya. Dalam kondisi normal, aliran listrik antarneuron berjalan dengan lancar. Lalu, muncul gangguan yang mengakibatkan lonjakan gelombang listrik antarneuron. Terjadilah kejang epilepsi. Setiap kali kejang, ada sel saraf yang rusak. Bisa dibayangkan jika kejang terjadi berkali-kali.
Bentuk gangguannya beragam. Yakni, bisa disebabkan genetik, pendarahan, infeksi, atau kurang asupan oksigen. Gangguan bisa pula terjadi ketika anak tersebut lahir dengan berat kurang dari 1.000 gram.
Kejang epilepsi sangat berbahaya. Sayangnya, Pras kerap menemui orang tua yang tidak menyadari bahwa anaknya sedang kejang. Kebanyakan orang tua mengira kejang ditandai dengan gerakan abnormal seluruh tubuh. Padahal, ada kejang yang hanya menggerakkan tangan, mengernyitkan mata, bahkan diam saja atau disebut movement disorder. “Orang tua harus peka kalau ada pergerakan yang tidak wajar,” saran Pras.
Pras menuturkan bahwa bentuk kejang epilepsi pada anak tidak spesifik. Artinya, gerakan antara individu satu dengan yang lainnya tidak pasti. Ketidakwaspadaan tersebut juga sering dipengaruhi lingkungan. “Kakek atau neneknya bilang kalau movement disorder itu tidak apa-apa, akhirnya diabaikan,” jelasnya. Dampaknya, pasien sering datang terlambat.
Orang tua tidak menyadari bahwa yang terjadi pada anaknya tersebut merupakan tanda-tanda epilepsi. Jika terlalu sering terjadi kejang, bisa jadi, anak mengalami gangguan pengihatan dan pendengaran. “Biasanya, usia enam bulan mengeluh kalau tidak bisa apa-apa. Kan itu sudah terlambat,” katanya. Selain tumbuh kembangnya terganggu, mereka yang terlambat penanganan juga bisa meninggal tiba-tiba.
Untuk itu, dia menyarankan kepada setiap orang tua agar melakukan deteksi sejak dini. Ketepatan diagnosis juga diperlukan. Pras menuturkan bahwa orang tua sebaiknya merekam setiap pergerakan yang tidak wajar. Tujuannya, agar dokter bisa melihat anak mengalami kejang atau bukan. “Terkadang kalau hanya omongan, diagnosisnya tidak tepat,” ujarnya.
Kasus epilepsi anak di divisi saraf anak RSUD dr Soetomo cukup banyak. Setiap bulan ada lima pasien baru. “Selain pasien yang benar-benar sakit epilepsi, ada juga yang misdiagnosis padahal sudah diberi obat antikejang. Kan bahaya,” tuturnya. Peran aktif orang tua memengaruhi ketetapan diagnosis.
UC Lib-Collect
Jawa Pos.28 Maret 2016

