Sumber:https://beritajatim.com/bagong-crying-soul-suarakan-krisis-kesehatan-mental-gen-z-lewat-seni-pertunjukan

Bagong Crying Soul Suarakan Krisis Kesehatan Mental Gen Z Lewat Seni Pertunjukan

14 Juni 2025

Surabaya (beritajatim.com) – Pagelaran seni bertajuk ‘Bagong Crying Soul’ digelar di Dian Auditorium, Universitas Ciputra, sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis kesehatan mental di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z.

Acara ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa Universitas Ciputra dan siswa Sekolah Citra Berkat Surabaya, di bawah arahan Henry Susanto Pranoto, Ph.D., dosen International Business Management Universitas Ciputra.

Pagelaran ini menyuarakan kegelisahan dan luka batin yang sering tersembunyi dalam diri anak muda. Karakter Bagong, tokoh wayang yang dikenal jenaka, diangkat sebagai simbol anak muda yang tetap tersenyum meski menyimpan luka mendalam akibat bullying dan tekanan sosial.

“Generasi Z saat ini hidup dalam tekanan sosial yang sangat tinggi. Mereka terlihat aktif di luar, tetapi banyak yang menyimpan luka dalam diam. Melalui pertunjukan ini, saya ingin membantu mereka belajar untuk berani membuka diri dan mengekspresikan emosi. Kesenian adalah salah satu cara yang aman dan efektif untuk itu,” ujar Henry, Sabtu (14/6/2025).

Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan, sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus depresi dan kecemasan pada remaja hingga 25 persen dalam dua tahun terakhir. Faktor pemicunya antara lain tekanan sosial, kekerasan dalam rumah tangga, dan cyberbullying.

Bagong Crying Soul menampilkan musik orisinal ciptaan Henry serta kolaborasi musik dengan kecerdasan buatan (AI). Penonton diajak membedakan nuansa emosional antara karya manusia dan teknologi, sebagai upaya membangun kesadaran bahwa AI bisa menjadi alat bantu ekspresi, bukan pengganti sisi kemanusiaan.

Panggung dirancang meluas ke area penonton, menciptakan suasana yang intim dan emosional. Sejumlah adegan diangkat dari kisah nyata mahasiswa yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan perundungan.

“Kita harus menciptakan ruang aman bagi generasi muda untuk berbicara, mengekspresikan diri, dan merasa dimengerti. Jika tidak, mereka akan terus menyimpan luka itu sendiri, dan ini yang sering berujung pada keputusan ekstrem seperti menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri,” tegas Henry.

Pagelaran ini diharapkan menjadi awal gerakan kolektif yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental serta membuka ruang ekspresi yang aman bagi generasi muda. [ipl/ian]