Bahaya Komplikasi Diabetes tanp Penanganan yang Tepat,Jaga agar tak Lagi Gagal Ginjal, Jawa Pos. 26 Juli 2016. Hal.23.

Diabetes merupakan penyakit yang menyebabkan aktivitas sehari-hari penderitanya terganggu . Bahkan jika tidak ditangani dengan tepat, diabetes bisa berkembang secara progresif dan menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat. Misalnya , gagal ginjal.

                GAGAL ginjal merupakan penyakit yang tidak  bisa disembuhkan . Perawatannya difokuskan untuk mencegah dan memperlambat agar penyakit tidak berkembang serta meredakan rasa sakit. Saat ini di Indonesia , diabetes merupakan penyebab tertinggi terjadinya gagal ginjal.Di ikuti penyakit batu saluran kemih dan darah tinggi .

Karena itu, penderita diabetes sejak dini harus mencegah terjadinya gangguan ginjal akibat komplikasi diabetes atau nefropati diabetic agar tidak menjadi gagal ginjal. Apalagi, penderita diabetes rentan menderita nefropati diabetik terkait dengan lamanya dia mengindap diabetes.”Diabetes yang diderita lebih dari lima tahun bisa menganggu organ lain. Jika baru menderita, belum bisa terlihat,” kata dokter spesialis penyakit dalam Prof Dr dr Parlindungan Siregar SpPD KGH.

Dia menjelaskan, diabetes merupakan gangguan metebolis menahun Karena pankers tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin adalah hormone yang mengatur keseimbangan kadar gula darah. Akibat ketidakseimbangan hormone tersebut, terjadi peningkatan konsentrasi glukosa di dalam darah (hiperglikemia).

Internis yang juga merupakan konsultan nephrology and hypertension di Siloam Hospitals Lippo Village itu mengungkapkan , seseorang mengindap diabetes jika hasil tes gula darah puasa dia atas 136 mg/dl dan gula darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl. Diabetes juga diketahui dari hasil tes yang menunjukkan kadar gula darah normal saat berpuasa 70/100 mg/dl dan dua jam setelah makan di bawah 200 mg/dl.

Gula darah yang tinggi itu merangsang hormone renin angiotensin aldosterone (RAA) system yang mengakibatkan pembuluh darah mengerut hingga tekanan darah naik. “ Kondisi gagal ginjal yang disebabkan kada gula tinggi di dalam tubuh akan merangsang hormone RAA system sehingga menganggu pemuluh darah ginjal,” kata Parlindungan.

Dia menjelaskan , di dalam ginjal terdapat satuan unit fungsional ginjal atau nefron. Nefron berfungsi untuk menyeleksi zat mana yang diserap tubuh atau harus dibuang melalui urine. Terganggunya pembuluh darah ginjal mengakibatkan aliran darah ke ginjal tinggi sehingga terjadi hiperfiltrasi. Seiring waktu, tingginya tingkat glukosa akan merusak jutaan unit penyaringan kecil di setiap ginjal. Kondisi tersebut lama-kelamaan bisa merusak nefron sehingga fungsi ginjal menurun.

Bagi orang-orang dengan diabetes,masalah ginjal biasanya terlihat selama check-up dengan dokter mereka. Kadang-kadang seseorang memiliki diabetes tiper 2 tanpa menyadarinya. Hal itu berarti tinggi kadar gula darah mereka tak terkendali sehingga perlahan-lahan merusak ginjal .

 

 

Apabila sudah didiagnosis terkena nefropati diabetic, pengobatan yang dilakukan adalah memperlambat penurunan fungsi ginjal. Caranya dengan mengatur gula dan mengonsumsi obat-obatan yang bermanfaat untuk memperlambat proses .” Ada lima stadium mencapai gagal ginjal. Stadium 5 sudah ginjal kronik sehingga harus melakukan cuci darah . Kalau gula darahnya bisa diatur dengan baik, perjalanannya bisa lebih lambat,” tandas Parlindungan. (swn/c7/aan)

 

Deteksi Dini , Lalu Jaga Pola Diet

       DIABETES merupakan penyakit yang berbahaya jika penderita tidak menyadarinya.Menilik data International Diabetes Federation (IDF) , pada 2013 diperkirakan ada 382 juta orang di dunia yang hidup dengan diabetes. Sekitar 175 juta di antaranya belum terdiagnosis sehingga terancam berkembang secara progresif tanpa disadari dan tanpa pencegahan. Diabetes juga disebut sebagai silent killer Karena sering tidak disadari penderitanya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi .

Dokter spesialis penyakit dalam Prof Dr dr Parlindungan Siregar SpPD KGH mengungkapkan , faktor risiko utama diabetes adalah genetik. Secara generik, sifat penurunanya berdasar hukum pewarisan sifat atau lebih dikenal dengan hukum mendel.Misalnya, di antara lima anak, terdapat dua anak yang memiliki kemungkinkan mengindap diabetes. Tiga lainnya tidak. “Genetik berpengaruh hingga 98 persen . Artinya, jika tidak ada turunan yang terkena diabetes, bisa dibilang tidak ada bakat untuk terkena diabetes,”ujar Parlindungan.

Penyakit diabetes terbagi dua jenis . Pertama, diabetes tipe 1 yang dialami saat pankreas sama sekali tidak memproduksi insulin. Tipe tersebut membuat penderitanya sangat bergantung pada insulin dan bisa menyerang seseorang di umur yang cukup muda, sekitar 12 tahun ke atas. Penderitanya   bisa mengalami koma saat tidak mendapatkan insulin.

Kemudian, diabetes tipe 2 yang terjadi saat tubuh tidak menghasilkan pankreas dengan efektif . Pada tipe 2 , awalnya penderita memiliki insulin yang cukup. Namun, menginjak usia 30 tahun, muncul gejala diabetes.

Parlindungan menjelaskan, ada tiga gejala klasik diabetes yang disebut 3P. Gejala tersebut adalah polidipsia (terus-menerus meras haus), polifagia (keinginan  untuk terus makan) , dan poliuria ( sering buang air kecil) .” Ini menjadi gejala awal diabetes . Jadi , kalau orang tua atau kakek nenek menderita diabetes , gula darah meraka harus rutin diperiksa agar semakin cepat diketahu dan ditangani,” ujarnya.

Untuk mengendalikan diabetes , penderita harus menjaga pola diet atau mengatur pola makan . Khususnya membatasi asupan karbohidrat. Misalnya, jika tinggi badan 160 sentimeter, berat badan idealnya 60 kg dengan asupan 1.500 kalori per hari. “ Ahli gizi yang akan mengatur 1.500 kalori ini terbagi atas apa saja. Pastinya , karbohidrat dibatasi,” papar Parlindungan . (swm/c7/aan)

 

Sumber: Jawa-Pos.-26-Juli-2016.-Hal.23.2