Selama ini kita berpikir, kantong kertas lebih ramah lingkungan ketimbang kantong plastic. Benarkah demikian?

Kertas, yang notabene terbuat dari bahan alami, memang lebih mudah diuraikan. Oleh karena itu, kita menyebutnya material yang ramah lingkungan. Namun, desainer Eco Innovator Leyla Acaroglu menggugah kembali kesadaaran kita. Persoalan tentang material ramah lingkungan tidak sesederhana itu. Ia berpikir luas, tentang ekosistem, tak sekedar material. Setiap barang yang kita konsumsi memiliki “siklus hidupnya”. Mulai dari ekstraksi material mentah, proses manufaktur, pengemasan, transportasi, distribusi, penggunaan, dan selesai pakai. Dalam setiap tahapannya, ada interaksi antara manusia, barang, dan lingkungan hidup.

Kembali ke persoalan kemasan plastik atau kertas, kita tidak bisa hanya menilai keramahlingkungannya dari bisa tidaknya benda itu diuraikan. Penguraian terkait dengan material, dan itu hanya salah satu faktor dari banyak hal yang harus dipikirkan tentang dampak lingkungan.

Leyla pada sesinya di Ted Talk menjelaskan bahwa penguraian normal terjadi ketika benda-benda yang berasal dari bahan alami – entah itu roti, kertas, atau beragam sampah organik – dibuang di lingkungan alaminya. Molekul karbonnya secara alami terlepaskan kembali ke atmosfer sebagai karbon dioksida.

Persoalannya, kebanyakan benda bermaterial alami tidak kembali lagi ke alam, melainkan tempat pembuangan akhir (TPA). Di TPA, molekul karbon terurai tidak dengan cara alami karena kondisi TPA yang anaerobik. Kerap tidak ada sirkulasi oksigen di dalamnya. TPA padat dan panas. Molekul yang sama terlepaskan sebagai metan, yang 25 kali lebih berbahaya sebagai gas rumah kaca ketimbang karbon dioksida. Kontribusinya terhadap perubahan iklim akan lebih besar.

Yang membuatnya makin pelik, ini tentu tidak hanya tentang kertas, tetapi juga semua sampah organik, termasuk sisa-sisa makanan kita. Di Amerika Serikat saja, bahan makanan yang terbuang sebesar 40 persen. Kita menyumbang lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada yang kita kira.

Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengelola dengan bijak pola konsumsi kita. Jangan sampai ada makanan yang tersisa atau bahan makanan yang terbuang. Kedua, alih-alih memasrahkan sampah pada tukang sampah yang hanya akan berakhir di TPA, lebih baik sampah organik diolah sendiri. Membuat lubang biopori atau pengolahan kompos di rumah adalah gagasan yang baik. [*/NOV]

 

Sumber: Kompas.5-Maret-2018.Hal_.26