DI Kota Surabaya banyak bangunan tua dan bersejarah. Sebagian bangunan terawat dan difungsikan dengan baik, dan sebagian dibiarkan kosong dan tak terawat. Namun dengan digencarkannya wisata heritage oleh Pekot Surabaya, banyak bangunan lawas yang jadi toko atau hunian, yang awalnya kosong dan tak terawat, kini berubah dengan disulap menjadi kade atau restoran.

Menurut founder Surabaya Heritage Society Freddy H Istanti, mengalih fungsikan bangunan lawas yang kosong dan tak terawat menjadi resto, kafe, dan kantor menjadi salah satu upaya melestarikan cagar budaya dan warisan masa lalu.

Freddy mengatak, fenomena baru bangunan lama atau cagar budaya yang di repurposed building (bangunan yang difungsikan ulang) seperti bangunan kantor yang dijadikan kafe memang tengah marak di Kota Pahlawan. “Iya bangunan lama di Surabaya yang dialih fungsikan ulang juga bermanfaat untuk merawat dan melestarikannya,” kata Freddy.

Menurut Freddy, sebtulnya di Surabaya selain bangunan lama yang dijadikan resto atau kafe seperti yang ada di sepanjang Jalan Tunjungan masih banyak lagi di kawasan lain. Contohnya di resto De Soematra yang memanfaatkan bekas kantor bekas Arsitek Insiyur Anemer (AIA), sekarang menjadi resto yang modern dengan nuansa masa lalu.

Kemudian untuk bangunan lama dengan fenomena baru ini sudah terjadi sejak tahun 2010-an. Selain di Jalan Tunjungan dan Jalan Sumatra, juga ada di Jalan Bali, Imam Bonjol, Diponegoro, Darmo, Dr Soetomo, hingga Jalan Kartini, dan di kawasan Peneleh.

Awalnya banyak bangunan kuno di Surabaya yang besar-besar lalu dialihfungsikan untuk bangunan publik. Sementara bangunan tersebut sudah menjadi restoran, kantor, bank , dan galeri.