Banyak optimism tentang wajah Indonesia yang bakal menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di asia. Namun, ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Salah satu yang utama adalah biaya logistic yang masih harus ditekan.
Liburan akhir tahun lalu bani maulana mulia memilih ke candi Borobudur di jawa tengah sebagai tujuan. Betapa ramai disana.
Bangun pelabuhan harus seperti mendirikan mal
Sopir yang mengantarkannya kemudian bercerita tentang hal kurang menyenangkan beberapa waktu sebelumnya. Pengalaman buruk yang sulit dilupakan. Sopir tersebut pernah mengantarkan tamu warga negara asing yang sengaja datang hanya untuk melihat keindahan candi Borobudur. Namun, sesaat setelah mereka turun dari kendaraan, pedagang souvenir keliling menghampiri dan menjajakan dagangan dengan memaksa. Merasa terintimidasi, turis itu memutuskan balik badan dan masuk kembali ke kendaraan. Kemudian pulang. “ribuan kilometer yang sudah dia lalui dari negaranya ingin lihat candi Borobudur jadi batal. Kasihan kan? Hanya karena pengalaman yang tidak menyenangkan bagi dia, dia cabut(hengkang). Nah, investor juga sama!” kata bani saat berbincang dengan jawa pos di gedung samudera Indonesia,Jakarta, jumat (5/2). Managing director PT Ngrumat bondo utomo,holding samudera Indonesia group, itu mengungkapkan, turis tersebut sudah mendengar betapa cantiknya Borobudur. Sama halnya dengan investor yang sudah mendengar betapa cantiknya iklim investasi di Indonesia. Namun,hanya gara gara ketemu pengusaha yang salah untuk jadi mitra local,mereka bisa kapok. “banyak kejadian” ujar bani. Di industry yang dijalankan samudera Indonesia, kata bani, banyak ditemukan pihak yang mengejar keuntungan sesaat. “itu pedagang diborobudur, kalau baik, pulangnya mungkin itu bule belanja. Tapi, sikapnya yang mau kemaruk di depan mendorong orang pergi” ungkap pria kelahiran Jakarta,25 februari 1980, itu beranalogi. Bani mengakui, banyak investor asing yang antre masuk ke industry berbasis kelautan di Indonesia. Mulai investasi penunjang bisnis perkapalan atau pelayaran membangun atau mengelola infrastrukturnya seperti pelabuhan,bahkan menjadi operator perkapalan itu. Cucu soedarso sastrosatomo,pendiri samudera Indonesia group, tersebut menuturkan, pihak asing sangat menyadari potensi dan kebutuhan modal transportasi laut di Indonesia. Itulah yang membuat calon investor berbondong bonding masuk. Saying,masih banyak orang Indonesia yang belum menyadari hal tersebut. Karena itu, sejauh ini pembangunan dan pengoptimalan sector kelautan berjalan lambat. Syukur pemerintah saat ini mulai menggalakkan berbagai rencana disektor maritime, baik untuk transportasi maupun arus barang. “tanpa pemerintah koar koar saja, kita tetap akan membangun. Jalan sendiri. Apalagi pemerintah koar koar, ikut terlibat langsung juga. Itu akan lebih baik” tegasnya. Menurut dia, harus disadari, tidak ada satu pun negara seperti Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta. Kebutuhan untuk memperbaiki pelayanan sangat mendesak. “moda paling efisien untuk transportasi barang itu lewat laut. Karena itulah 90 persen global trade lewat laut. Lagi pula, sejak zaman (patih) gadjah mada pun, kekuatannya maritime juga” ungkapnya. Terlebih, teknologi untuk mesin dan desain kapal saat ini semakin maju. Semakin efisien dari sisi bahan bakar dan cepat dari sisi pergerakan. Daya angkut semakin besar. Tantangan pemerintah Indonesia menuju negara dengan perekonomian berpengaruh di dunia saat ini adalah meningkatkan daya saing. Salah satunya menekan biaya logistik. Jika itu bisa diatasi, Indonesia akan makin cantik di mata pemodal asing. Biaya logistic di Indonesia saat ini sangat tinggi. Berdasar riset biaya logistic 2015 dari kadin, biaya logistic di Indonesia saat ini mencapai 24 persen dari total produk domestic bruto atau senilai rp 1820 triliun per tahun. Itu merupakan biaya logistic termahal di dunia. Biaya logistic di Indonesia jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia yang hanya sekitar 15 persen serta amerika serikat dan jepamh yang masing masing 10 persen. Kadin memerinci biaya logistic itu terbagi dalam biaya penyimpanan (rp 546 triliun) dan transportasi (rp 1092 triliun) serta biaya administrasi (rp 182 triliun). Selain sangat tingginya biaya, mutu pelayanan logistic ditanah air dinilai buruk. Contohnya, waktu jeda untuk barang barang impor mencapai 5,5 hari dan biaya angkutnya mahal.karena itu tidak heran jika belum lama ini presiden joko widodo geram dan memerintahkan persoalan dwelling time segera dituntaskan. Biaya tinggi tersebut terjadi karena masih minimnya infrastruktur. Contohnya, galangan kapal. Untuk servis saja, kata dia, jauh lebih banyak kapal yang antre masuk docking daripada jumlah galangannya. “itu belum bicara yang berkualitas. Yang sekadar ada saja masih sangat kurang” katanya. Populasi kapal sekarang dirasa tidak cukup untuk memenuhi permintaan. Dari sisi kapasitas daya angkut juga tidak cukup. Jumlah pelabuhan pun tidak cukup. Akhirnya tidak efisien. Prinsip membangun infrastruktur laut, terutama pelabuhan, kata bani harus membangun seperti mal di perkotaan. Di satu kota seperti Jakarta atau Surabaya, misalnya bisa terdapat banyak mal. Lalu, apakah ketika satu mal beroperasi mal yang lama menjadi sepi? “tidak! Malah sama sama penuh kan? Akhirnya dari sisi harga juga bersaing memberikan yang terbaik. Pelabuhan juga begitu” tegas alumnus faculty business and law di deakin university,Melbourne, Australia,itu. Kunci membuka bottleneck logistic itu memang dimulai dari pelabuhan. Ketika itu terjadi, kapal besar bisa masuk. Kapasitas pun naik. “jadi apapun lah judulnya. Mau tol laut, taksi laut apapun lah. Yang terpenting segera direalisasikan” ujarnya. Bani yakin jika pelabuhan dijawa dibangun, bahkan tidak jauh dari tanjung priok, misalnya di cilamaya, keduanya akan tetap sibuk. Sebab memang kebutuhannya tinggi. Antrean yang ada sekarang terlalu panjang. Memang, menurut dia Indonesia relative sulit mengejar atau bahkan menggantikan singapura sebagai hub pelabuhan untuk transportasi laut inteernasional,tapi setidaknya bisa bersaing. Jangan ragu untuk mencontek kebijakan yang diberlakukan di negara lain seperti singapura. “sontek saja. Singapura, misalnya. Dia bahkan berani kasih insentif aka ada bonus cash back bagi perusahaan pelayaran yang mencapai volume tertentu. Siapa yang tidak mau? Perushahaan kami juga sering dapat bonus itu” ujarnya. Indonesia merupakan negara yang penuh anugrah, terutama jika dikaitkan dengan sector kelautan. Tidak mungkin semua lokasi diakses dengan pesawat terbang. Bani yakin, ketika infrastruktur laut memadai,bukan hanya urusan arus batang, potensi pariwisata juga terbukak lebar. Wisatawan akan bingung memilih lokasi tujuan karena terlalu banyak tempat indah yang mudah serta murah untuk di gapai.
Sumber: Jawa pos,7 februari 2016

