Batasi Terigu, Redakan Cemas. Jawa Pos. 5 januari 2014.Hal.29

Pilih produk Gluten Free

Surabaya – Siapa yang tidak tergoda dengan sajian black forest, tiramisu, atau sheese cake. Manisnya kue dan tekstur yang lembut membuat lidah ingin terus mengecap. Sayang, legitnya kudapan-kudapan berbahan terigu itu justru memacu emosi yang meletup-letup, lantas muncullah cemas. Keadaan tersebut terjadi karena kandungan gluten dalam bahan terigu ditengarai mengganggu kerja sistem saraf di otak.

Kelezatannya memang sulit ditolak. Namun, terigu sebagai bahan utama pembuat beberapa jenis makanan malah memicu ketidakseimbangan emosi. Misalnya, yang dialami Wina Taurin. Sejak beberapa waktu lalu, dia mulai mengurangi porsi makan makanan berbahan terigu. “Rasanya jadi nggak enak. Ngak tenang aja,” ungkap perempuan 26 tahunitu.

Perasaan tidak enak tersebut, menurut dia, juga kerap memicu rasa cemas dan emosi. Apalagi, Wina menyatakan, keluarganya memiliki riwayat penyait tertentu. Bahkan, di beberpa kesempatan, kecemasan itu bisa memuncak.

Gluten dan zat padi, emnurut Ketua Persatuan Gizi Indonesia Jawa Timur Andrianto, banyak dijumpai pada tepung-tepungan. Isalnya, tepung terigu, gandum, nasi, maupun jagung. Bagi kalangan yang sensitif, makanan yang dimakan  tidak sekedar mengganggu pencernaan. Diare, misalnya. Lebih jauh, bahan tersebut bisa memicu beberapa perubahan psikologis. “Protein itu biasanya sulit dicerna tubuh,” jelasnya.

Protein, lanjut dia, memiliki hasil akhir berupa petida. Petida yang tidak dicerna di saluran cerna bisa berubah arah dan masuk ke peredaran darah. Muatan petida yang terbawa aliran darah akan terus mengalir menuju otak. Di sana, bahan tersebut kan menghambat pasokan oksigen. Padahal, salah satu fungsi oksigen di otak mengatur keseimbangan psikologis seseorang.

“Protein yang tak tercerna itu bisa masuk ke saraf dan mengganggu neurotransmitter,” kata ahli gizi RS Mitra Keluarga Waru Vivi Dyah Arisandhi AmdGz. Dampaknya, mencullah kecemasan.

Jadi, jika perasaan tida-tida jadi tidak tenang, cemas, atau malah sakit perut sehabis makan kue, orang tersebut bisa sensitif terhadap gluten. Solusinya, mengganti sumber tepung terigu dengan jenis tepung lain. Bagi yang tidak bisa memasak, tidak perlu ikut cemas. Sebab, beberapa gerai roti sudah menyediakan produk gluten free dengan beraneka varian rasa.

Sumber : Jawa Pos, 5 Januari 2014, hlmn 29