SURABAYAFashion memang tidak pernah ada matinya. Dari masa ke masa selalu ada tren baru yang diikuti jutaan orang di dunia. Perkembangan gaya busana bisa dilihat dalam kurun waktu sepuluh tahunan.

“Pada 1950-an tren fashion-nya itu Teddy Boys,” ujar Robbi Ertiga, pembicara dalam acara talk show Bonjour! Surabaya Fashion Exhibition di Galaxy Mall Exhibition Center kemarin (2/2). Pada masa tersebut, para penjahit mulai memperkenalkan jas panjang dengan satu kancing dan pas di badan.

Model itu merupakan bentuk dari keinginan masyarakat untuk mengurangi kesenjangan sosial pascaperang panjang di Inggris.

Gaya busana itu pun berubah di era 1960-an. Orang-orang mulai bosan dengan warna gelap dan netral. Pakaian cerah pun mulai bermunculan. Perubahan tersebut terus terjadi selang satu dekade. “Kalau masuk 1990-an bisa dibilang kesimpulan dari tahun-taun sebelumnya,” tambah desainer muda itu. Pakaian dengan gaya ripped jeans dan baju oversize banyak digemari. Mengenakan baju itu terkesan “memberontak”, tetapi lebih kalem dibanding era punk.

Era 2000-an orang-orang semakin menyukai gaya busana yang simpel. “Jujur nih, kalau di Indonesia itu tren fashion-nya sering telat. Kayak 2018 ini, di luar sudah kembali ke era 1980 atau 1990-an, sedangkan Indonesia masih 1970-an,” ucap Wiyata Widya, narasumber lainnya.

Selain Wiyata dan Robbi, masih ada Novita Tanwijaya dan Cathlin Ivana sebagai pembicara. Mereka adalah siswa dari Lasalle College. (dwi/c15/dio)

 

Sumber: JawaPos.Metropolis.3 Februari 2018.Hal 25