Surabaya– Susah- susah gampang . Kalimat itu kerap terucap dari sebagian besar peserta saat kali pertama mencoba membuat batik tulis. Dalam event The Beauty of Batik Indonesia di East Coast Center, ada pelatihan mbatik singkat buat pengunjung.
Mereka bisa merasakan bagaimana menggoreskan malam di atas kain. Secara bergiliran, mereka mengisi pola dengan menggunakan canting yang sudah disediakan. “Kami ingin memperkenalkan batik motif Madura,” ujar Syarif Usman, pemilik rumah Batik Jawa Timur.
Pria 36 tahun itu mengajarkan pola teknik khas Madura, yaitu pembatik langsung menggenggam kain yang hendak diberi pola. Menurut dia, teknik tersebut tidak digunakan pada batik Jawa yang biasanya menggantungkan kain saat dibatik,”Teknik menggenggam kain batik menghasilkan gambar yang lebih abstrak dan bebas karena pembatik bisa leluasa memutar kain saat menggambar,” tuturnya saat ditemui Senin (19/9).
Di atas meja sudah disiapkan berbagai alat membatik seperti canting, malam yang dipanaskan di atas kompor listrik, dan kain primisima. Peserta dipandu untuk menggoreskan malam di atas kain yang sudah diberi pola dengan pensil.
Pada sesi itu, peserta diminta mengisi motif gurik gepper yang artinya kupu-kupu di dedaunan. Motif tersebut menggunakan warna cokelat sebagai dasarnya. Sementara itu, kupu-kupunya menggunakan warna yang lebih kontras seperti kuning, merah, dan hitam. “Batik Madura sangat khas dengan warna dominan hijau, biru, merah, dan cokelat,” ucapnya sambil memonitor tutor yan lain.
Di tengah sesi, syarif mengarahkan peserta agar tidak panik saat tangannya tidak sengaja terkena tetesan malam. “Kalau menetes di tangan, biarkan saja mongering. Setelah itu baru di kelupas,” ungkapnya. Ketika tangan yang terkena malam panas dilap secara paksa, tambah dia, malah menimbulkan iritasi. Maria Margaretha, 24, salah seorang peserta, mengikuti setiap arahan Syarif dengan hati-hati. “Grogi, takut salah,” tuturnya setelah menggoreskan malam sedikit demi sedikit (esa/c15/jan)
Sumber: Jawa-Pos.21-September-2016.-Hal.40

