Halaman parkir depan PT Victor Indah Prima, pabrik produk mebel kayu, yang sudah dikenal di pasar ekspor Asia Tenggara itu tampak berbeda sejak setahun terakhir. Sebagian gedung pabrik seluas 2.000 meter persegi dan memiliki dua lantai itu direnovasi menjadi bengkel kerja kreatif dengan interior minimalis.
Lantai pertama memiliki beberapa ruangan yang berfungsi sebagai kelas dan ruang kerja perusaha produk kerajinan tangan. Lantai kedua memiliki empat ruang bengkel kerja untuk produksi produk kayu, logam, tekstil, dan kulit, serta proses pengerjaan akhir produk. Empat ruangan itu memiliki ukuran 5 meter x 3 meter.
Itulah Inoestri Maker Space, bengkel kerja kreatif yang dimiliki pengusaha muda, Leonard Theosabrata. Leo, begitu pria ini biasa dipanggil, dikenal masyarakat umum sebagai pemilik The Goods Dept dan Accupunto. The Goods Dept adalah toko yang menjual produk pakaian lokal buatan anak muda. Toko ini menerapkan standard kurasi tegas bagi anak muda yang akan menjual produk pakaiannya. Adapun Accupunto adalah perusahaan yang memproduksi mebel.
“Saya mendirikan Indoestri Maker Space ini karena melihat banyak produk kreatif lokal yang bermunculan, tetapi jarang bisa berkembang secara kontinu. Sejumlah produk bahkan memiliki kemiripan dan tidak otentik,” ujar Leo kepada Kompas, Sabtu (17/1), di jakarta.
Dia menilai, para pengusaha tersebut lebih suka menyerahkan proses pengerjaan mereka kepada para tukng. Pengusaha itu akhirnya tidak memiliki kapasitas dan kemampuan memproduksi kerajinan yang kreatif, ontentik, dan berkelanjutan.
Leo menyampaikan, ide membuat bengkel kerja (maker space) diilhami oleh bengkel kerja di luar negeri. Bengkel itu menjadi tempat berkumpul (space) komunitas pembuat beragam produk kreatif, bersosialisasi, berbagi ide, bekerja.
“Spirit yang saya usung adalah self made (membuat sendiri karya). Saya mengajak siapa saja yang mau bergabung dalam Indoestri harus memiliki spirit itu,” tutur Leo.
Indoestru Maker Space menyediakan kelas dasar pembuatan produk berbahan dasar kayu, logam, tekstil dan kulit, serta penyelesaian akhir produk (surface). Adapula kelas pengenalan pembuatan merek, keramik, dan arsitektur dasar.
Untuk bergabung dalam Inoestri Maker Space, orang bisa mendaftar sebgai anggota tetap ataupun tidak. Jika menjadi anggota tetap dia boleh menggunakan fasilitas mesin dan alat industri. Saat ini, jumlah anggota 60 orang. Pengajarnya adalah Leo dan pengusaha produk kreatif yang memang memiliki spirit self made.
Pemilik Contonnier, usaha perlengkaoan bayi dan interior anak, Irene Ng, adalah salah seorang instruktur. Sudah dua pekan Irene mengisi kelas sulam gaya bebas (free style embroidery). Dia mengajar untuk perempuan muda berusia 20-30 tahun.
“Saya senang dan tertantang membagikan ilmu sulam bebas di Inoestri Maker Space ini. Sprit self made itu sudah jarang dimiliki generasi muda. Banyak produk kreatif lokal bermunculan, tetapi saya sukar menemukan orang yang mau memproduksi sendiri dengan sungguh-sungguh,” kata Irene.
Menurut Nancy, peserta, bergabung dalam kelas Indoestri menambah pengetahuan dasar membuat kerajinan (MED)
Sumber : Kompas, 19 Januari 2015, Hlmn 19

