Rekomendasi rekomendasi Kementerian Kesehatan dan American Academy of Pediatric (AAP). dalam 1.000 hari pertama kehidupan, 80% otak seorang anak sedang terbentuk. Periode ini merupakan masa emas untuk mulai menanamkan sikap baik sejak usia dini, termasuk melalui media buku.
Selain sebagai landasan kesuksesan akademis dan meningkatkan kognitif, membaca buku bersama anak dapat meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak untuk saling menyayangi dan meningkatkan mutu komunikasi.
Membaca buku bersama juga akan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan bahasa, pengembangan literasi, dan meningkatkan ketertarikan anak terhadap kebiasaan membaca sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Mesty Ariotedjo membuat buku menjadi satu wadah bagi orang tua mengenalkan anak membaca. Menurutnya, orang tua harus berupaya meningkatkan antusiasme membaca pada anak usia dini dengan pendampingan, karena anak pada usia tersebut belum bisa mengenal huruf dan kalimat dengan benar.
“Membaca buku itu membangun komunikasi dua arah dan menjalin rutinitas. Rutinitas penting untuk setiap anak. Jika aktivitas tidalk teratur, menjadikan mereka tantrum, emosional, mereka tidak siap dengan kegiatan yang akan dilakukan,” ujamya baru-baru ini.
Rutinitas membaca buku bisa dilakukan pada malam hari sebelum tidur dan siang hari saat bermain, Sementara bahan bacaannya 44.
Orang tua harus mampu meningkatkan antusiasme membaca pada anak saat melakukan pendampingan.
petunjuk yang mengajarkan nilai-nilai perilaku yang baik dan penuh ilustrasi seperti serial buku “Terima Kasih” dan “Maaf” yang baru dirilis Mesty dan ketiga.
Kata “Terima Kasih” dan “Maaf” terdengar sederhana. Namun sejatinya merupakan ungkapan penghargaan dan penghormatan yang penuh makna. Dengan ditanamkannya nilai-nilai moral sejak dini, anak dapat memproses dan menyerap makna utama dari ungkapan tersebut.
Mengajarkan anak usia dini untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain sangat penting karena bisa menjadi bekal untuk mengembangkan rasa bersyukur kepada Tuhan dan diri sendiri.
Kelak anak tersebut dapat menjadi pribadi yang merasa cukup atas nikmat yang didapatnya. Begitu pula dengan kata maaf. “Dengan maaf, dia belajar menyadari kesalahan dan coba memperbaiki. Untuk berkembang lebih baik itu dimulai dari kata maaf.”
Seperti kata Presiden Amerika Serikat ke-26, Theordore Rosevelt, “Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca”. Begitu lah membaca buku membentuk karakter anak.
Principal Child Psychologist tentang Anak Grace Eugenia Sameve mengatakan sikap baik harus ditanamkan orang tua kepada anaknya yang sedini mungkin melalui keteladanan dan mencontohkan.
“Begitu pula dengan cara berkomunikasi. Orang tua adalah guru pertama anak. Negara kita ada nilai tradisi komunikasi yang berbeda-beda, itu disesuaikan, dan dicontohkan dari kecil agar setelah besar, anak menunjukkan kemampuan komunikasi dengan baik,” jelasnya. Selain orang tua mencontohkan langsung. buku menurutya juga menjadi media yang asyik dan mudah untuk mengajarkan nilai baik tersebut. Apalagi saat ini banyak buku berkarakter yang memberi kesempatan kepada anak untuk belajar cara berempati dan memahami pikiran orang lain.
MANFAAT PSIKOLOGIS
Psikolog Klinis Anak dan Remaja Amanda Margia Wiranata menyebut bahwa membaca buku dapat berdampak pada psikologis anak. Menurutnya, aktivitas membaca buku bersama dapat menumbuhkan minat baca pada anak. Apabila minat baca anak sudah terbangun, anak akan semakin tergugah rasa ingin tahunya akan isi atau konten dari buku tersebut. Makin besar rasa ingin tahu anak, dapat memotivasi untuk mbaca dengan baik dan memahami isi buku.
Selanjuthya, ketika anak sudah dapat memahami isi buku yang dibaca, maka dia akan mendapat wawasan yang lebih luas, baik belajar pengetahuan atau kebijakan yang terkandung di dalamnya.
Anak yang senang membaca buku, terlebih dahulu jika bukunya bervariasi, akan memiliki rentang atensi yang lebih lama, mampu berpikir terbuka, coba kritis, mengasah logika berpikir, mengembangkan pemahaman, berpikir abstrak, memiliki kekayaan perbendaharaan kata, pemahaman bahasa yang lebih baik, dan pengetahuan yang pengetahuan luas.
“Pada umumnya anak yang senang membaca akan lebih percaya diri dan mampu menunjukkan prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan dengan anak lainnya,” sebut Amanda.
Lantas bagaimana meningkatkan minat baca pada anak? Menurutnya, bisa dilakukan bersama antara orang tua dan anak secara rutin, sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan. Aktivitas membaca dapat dilakukan saat sebelum tidur atau saat bermain bersama.
Ketika membacakan cerita, usahakan induk membacakan dengan cara dan nada yang menarik minat anak, seperti seorang pendongeng.
Tunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi yang terkandung dalam bacaan, misalkan senang, menjadi sedih, dan marah. “Mengacakan dengan nada datar, yang dapat menurunkan minat anak pada cerita yang sedang dibacakan.” tegasnya.
Untuk anak usia dini, Amanda menyarankan agar memilih buku yang lebih banyak gambar dan sedikit tulisan.
Secara bertahap dapat menggunakan buku yang memiliki tulisan lebih banyak, dengan tingkat kesulitan membaca atau kompleksitas cerita yang lebih tinggi, sesuaikan dengan usia, rentang atensi, dan kemampuan membaca anak.
Sambil membaca, orang tua dapat menunjuk gambar yang terdapat pada buku dan meminta anak memerhatikan hal-hal yang dapat ditemukan pada gambar tersebut.
Sesekali tanyakan kembali mengenal tokoh, cerita kronologi, karena akibat dari peristiwa dalam cerita dan wawasan yang didapat dari cerita tersebut. Ajak anak untuk menceritakan kembali isi buku dengan bahasanya sendiri.
Orang tua sebaiknya menerima cerita apapun yang disampaikan oleh anak dan menghindari kritik kritik saat anak bercerita. Ide bentuk kata- kata yang runut dan teratur.
“Berikan apresiasi atas keberaniannya mencoba. Hal ini akan melatih kemampuan anak berekspresi, mengungkapkan mendorong anak memahami bacaan.” jelasnya. Jika ingin membantu anak bercerita dengan lebih runut dan tertata, menurut Amanda, orang dapat mengajukan pertanyaan 4WIH (uhat, who, when, where, how), dan dorong anak merangkai kembali ceritanya dengan kalimat yang lebih tertata dan runut.
“Dorong anak untuk mulai mencoba membaca kata satu per satu, dan hargal usahanya walaupun masih melakukan kesalahan.”
Kritikan berlebihan saat anak salah membaca buku harus dihindari. Orang tua dapat mengoreksi kesalahan membaca, dengan mengulang pengejaan kata secara benar. Kata pula ungkapan yang menimbulkan tekanan seperti “kamu salah” atau “bukan begitu bacanya”. Apalagi memojokkan dengan kalimat “begitu saja tidak bisa” dan ungkapan negatif lainnya.
Sumber: Bisnis Indonesia, 23 Januari 2021.Hal.7

