Berani Berubah dan Berbagai Hati. Kompas. 26 Maret 2015.Hal.16

Selama 12 tahun jatuh dalam jeratan narkoba, Dodi Ramosta Sitepu (42) mencoba bangkit. Berkat dukungan keluarga dan dukungan keluarga dan rehabilitas sosial di Serambi Salomo, Cisarua Bogor, Jawa Barat, mantan pecandu narkoba itu pun sembuh. Kini hidupnya diabdikan dan menemani dan mendampingi generasi muda penyalah guna narkoba. Ia mendirikan pusat rehabilitasi narkoba di bawah naungan Yayasan Galilea.

Oleh: Megandika Wicaksono

“Hidup ini ada akhirnya, tetapi jangan akhiri hidup dengan narkoba”. Itulah kata-kata bijak yang terpasang di satu sudut Pusat Rehabilitasi Narkoba Galilea, tempat rehabilitasi penyalah guna yang didirikan Dodi. Panti ini didirikan Dodi bersama dua rekan penginjil lainnya, yaitu almarhum Yakobus Joko dan Terra Ferdian.

Pendirian panti rehabilitasi ini didorong oleh banyaknya keluhan orangtua yang anaknya terjerumus narkoba. Sebagai penginjil, Dodi sering menjumpai jemaat yang berkeluh kesah tentang masa depan anak-anak mereka yang terjerat narkoba itu.

Pada Mei 2002, Dodi menyewa rumah di Jalan Rajawali Kilometer 8, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk merehabilitasi lima penyalah guna narkoba. Saat itu, biaya sewa ditanggung Dodi dan keluarga besarnya.

Tidak ada tarif khusus bagi mereka yang menjalani rehabilitasi, tetapi kami menggunakan sistem subsidi silang. Ada yang memberi Rp 300.000 per bulan, Rp 1 juta per bulan, ada juga yang tidak mampu,” kata Direktur Pusat Rehabilitasi Narkoba Galilea itu.

Dukungan pun mengalir baik dari pemimpin daerah maupun tokoh jemaat gereja. Atas kebaikan hati seorang pengusaha bernama Le Ok, tanah seluas 5.000 meter persegi di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 18, Palangkaraya, dihibahkan untuk pusat rehabilitasi.

Setelah 5 tahun berjalan, pada 2007, pusat rehabilitasi pindah ke tempat baru. Hingga kini, sedikitnya 600 penyalah guna narkoba yang direhabilitasi.

Tahun ini terdapat 35 anak usia 17-33 tahun direhabilitasi. Lebih dari separuhnya berasal dari Palangkaraya, dengan waktu rehabilitasi 6 bulan sampai 1 tahun.

Di panti rehabilitasi, ayah dari tiga anak ini dibantu delapan konselor. Mereka menggunakan pendekatan terapi komunitas merehabilitasi orang yang dalam pengaruh ketergantungan narkoba.

Menurut Dodi, komunitas bisa menyembuhkan mereka. Kebersamaan dalam kesetaraan inilah yang memulihkan mereka.

Selain komunitas, lanjut Dodi, peran orangtua pun sangat besar bagi proses pemulihan para penyalah guna narkoba itu. Oleh karena itu, setiap minggu kedua, orangtua berkumpul di pusat rehabilitasi untuk berjumpa dan berdinamika         dalam kelompok keluarga.

“Meskipun bercorak Kristen, semua pemeluk agama bisa menjalani rehabilitasi di tempat itu. Kami terbuka kepada siapa saja. Pendekatannya adalah komunitas, bukan agama. Di sini ada 10 persen anak muda yang non-Kristen,” katanya.

Dalam pembinaan tersebut, Yayasan Galilea juga dibantu Gereja Bethel Indonesia (GBI) Pasir Koja Bandung, GBI Rehobot Jakarta, dan GBI Rajawali Palangkaraya. Kementrian sosial juga membantu proses pembinaan, penyuluhan, dan pelatihan keterampilan.

Dengan fasilitas yang perlu ditingkatkan, pusat rehabilitasi itu memberi pelatihan perbaikan penyejuk ruangan. Yayasan juga memiliki dua kios di Palangkaraya yang menyediakan jasa penatu dan penjualan tas bagi mereka yang selesai menjalani proses rehabilitasi.

Pernah terjerumus   

            Dunia narkoba, bukan hal baru bagi Dodi. Ia pernah terjerumus di dunia narkoba. Sejak kelas 1 SMA di Medan, tahun 1998, ia sudah berkenalan dengan minuman beralkohol, obat-obatan terlarang, dan mengisap ganja. Ketika itu, Dodi bergabung dengan komunitas pembalap liar yang juga rekan sekolahnya.

“Saat itu, agar lebih berani balapan, kami minum obat-obatan terlarang. Disitu adrenalin langsung tinggi dan kesadaran seperti hilang,” kata Dodi, awal Maret ini, di Palangkaraya.

“Hidup saya mulai meresahkan keluarga. Saya mulai jarang pulang, mencuri uang, dan perhiasan orang tua, juga menjual motor,” ujarnya.

Dodi harus beberapa kali pindah sekolah akibat perilakunya. Setidaknya ada empat SMA yang dilalui Dodi di Medan sebelum Dodi menjalani proses rehabilitasi medis di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Fatmawati, Jakarta Selatan, selama dua minggu.

Setelah menjalani detoksifikasi, Dodi pun menyelesaikan SMA tahun 1991, dan bisa kuliah pada jurusan hukum di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Dodi yang indekos mulai menggunakan narkoba lagi. Saat itu, Dodi mulai mengenal dan mengkonsumsi sabu serta ekstasi.

Dia pun sering berurusan dengan polisi karena berkelahi dan balapan liar. Akibat perbuatannya, kuliah Dodi tidak selesai.

Beruntung ayah Dodi memiliki perusahaan sendiri sehingga ia bisa bekerja membantu ayahnya. Karena dukungan keluarga besar dan Lulu Fransisca (42), istrinya, Dodi pun bertekad sembuh dan menjalani proses rehabilitasi medis yang kedua di RS Fatmawati pada tahun 2000.

DODI RAMOSTA SITEPU

  • Lahir: Jakarta, 31 Januari 1973
  • Istri: Lulu Fransisca (42)
  • Anak: Putri Theresia (19), Michael Putra (15), Abiel Rafael (9)
  • Pendidikan:
  • SMA Imanuel Medan, SMA Advent Siantar, SMA Nasrani Medan, dan SMA Garuda Medan (1988-1991)
  • Sekolah Tinggi Hukum Bandung (tidak selesai, 1993)
  • Sekolah alkitab di Majalengka dan Youth With Mission di Lembang (2011)
  • Lighthouse Equipping Theological School Grogol (2004-2007)
  • Institut Keguruan Alkitab dan Theologia (2009-2011)
  • Jabatan:
  • Pendeta Gereja Bethel Indonesia Galilea
  • Direktur Pusat Rehabilitasi Narkoba Galilea

Proses ini dilanjutkan dengan rehabilitasi sosial di Serambi Salomo selama setahun. “Mereka sangat memotivasi dan mendukung saya. Jadi, muncullah rasa keinginan yang besar untuk berhenti karena dapat dukungan yang kuat dari keluarga,” ucapnya.

Tidak berhenti disitu, Dodi yang tersentuh pada firman Tuhan dalam kitab suci membuatnya tergerak belajar dan mendalaminya. Dia pun mendaftarkan diri di sekolah alkitab di Majalengka dan Youth With Mission, Lembang, Jawa Barat. Setelah setahun belajar, Dodi datang ke Palangkaraya pada Desember 2001 sebagai penginjil di GBI Galilea.

Dodi berhasil menyelesaikan pendidikan teologi di Lighthouse Equipping Theological School (LETS) Grogol dan Institut Keguruan Alkitab dan Theologia (IKAT) pada 2011, ia pun menjadi pendeta di GBI Galilea. Pelayanannya kepada jemaat dan sesama diwujudkan secara konkret dalam pendampingan di pusat rehabilitasi itu.

Menurut dia, kunci untuk lepas dari jeratan narkoba adalah keterbukaan. Hal itu pun tertuang dalam untaian kata mutiara di ruang kelas pusat rehabilitasi: “Keterbukaan adalah awal dari pemulihan,”

Sumber: Kompas, Kamis, 26 Maret 2015