Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/surabaya-raya/pr-3929874423/bergerak-ke-garis-depan-bencana-fk-uc-terjunkan-dokter-ke-sumbar-waspadai-bom-waktu-krisis-kesehatan

Bergerak ke Garis Depan Bencana, FK UC Terjunkan Dokter ke Sumbar, Waspadai Bom Waktu Krisis Kesehatan

19 Desember 2025

PR SURABAYA – Tak sekadar mengobati, tim medis UC Surabaya membidik ancaman wabah dan krisis kesehatan tersembunyi pascabencana Sumatera Barat.

Ketika sorotan publik mulai meredup pascabencana, ancaman justru kian nyata.

Universitas Ciputra, UC Surabaya memilih melangkah ke garis depan dengan menerjunkan tim medis Fakultas Kedokteran (FK) ke wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat.

Bergerak karena empati, bukan karena kewajiban, langkah ini bukan sekadar aksi sosial, melainkan strategi kemanusiaan guna mencegah krisis kesehatan yang kerap luput dari perhatian.

Sebanyak 8 dokter dan 2 mahasiswa FK UC disiapkan untuk menjalankan misi kemanusiaan mulai 21 Desember 2025 hingga akhir Januari 2026.

Mereka akan berkolaborasi langsung dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) guna memastikan bantuan medis tepat sasaran dan terintegrasi dengan kebutuhan lapangan.

Bagi UC Surabaya, fase pascabencana justru menjadi periode paling krusial. Minimnya air bersih, sanitasi buruk, serta keterbatasan fasilitas kesehatan berpotensi berubah menjadi “bom waktu” kesehatan jika tidak ditangani secara sistematis.

Penyakit ringan dapat dengan cepat berkembang menjadi wabah serius di tengah masyarakat yang sedang berjuang memulihkan diri.

Tim FK UC hadir sebagai penyedia layanan medis primer, yakni garda terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan.

Layanan ini menjadi titik kontak pertama masyarakat terdampak, sekaligus kunci dalam pencegahan penyakit jangka panjang.

Koordinator Tim Medis FK UC, dr. May Fanny, menegaskan bahwa layanan medis primer tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan kesinambungan perawatan.

Mulai dari skrining kesehatan, hingga edukasi gaya hidup sehat menjadi bagian penting dari misi ini.

Tim juga berperan sebagai penghubung rujukan bila pasien membutuhkan penanganan lanjutan.

Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan Endro Dwi Radianto, menekankan bahwa kolaborasi dengan FK Unand dilakukan agar misi kemanusiaan ini tidak berjalan sporadis.

“Fokus kami di Sumatera Barat, dan tim akan berkoordinasi penuh dengan FK Universitas Andalas hingga akhir Januari 2026. Ini penting agar bantuan benar-benar efektif dan berkelanjutan,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat 19 Desember 2025.

Sementara itu, Dekan FK UC, Prof. Hendy Hendarto, mengungkapkan bahwa tim tanggap bencana mengusung tiga pendekatan utama.

Pertama, penanganan cepat penyakit akut yang lazim muncul pascabencana, seperti infeksi saluran pernapasan, diare, penyakit kulit, hingga gangguan psikologis akibat trauma.

Pendekatan kedua adalah pencegahan wabah penyakit melalui surveilans dan deteksi dini.

Menurut Prof. Hendy, kegagalan penanganan awal sering kali menjadi pintu masuk merebaknya wabah baru di wilayah bencana.

“Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan ketika wabah sudah meluas,” tegasnya.

Pendekatan ketiga difokuskan pada edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Di tengah keterbatasan sarana kesehatan, perubahan perilaku menjadi benteng utama perlindungan masyarakat.

Tak hanya mengandalkan tenaga medis, FK UC juga menyiapkan dukungan logistik berupa obat-obatan dan perlengkapan medis yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Kesiapan ini menjadi faktor krusial agar penanganan medis tidak terhambat oleh keterbatasan sumber daya.

Misi kemanusiaan FK Universitas Ciputra Surabaya ini menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kelas.

Di saat krisis, kampus turun langsung menjadi bagian dari solusi, menjaga agar pemulihan pascabencana tidak berubah menjadi tragedi kesehatan baru.***