Mencicipi sajian ala Nasi Uduk Pasar Thomas, salah satu tempat makan yang menawarkan banyak menu dan jam buka yang unik.

Di antara kios-kios lawas di tepi jalan Cideng Timur, Nasi Uduk Pasar Thomas sudah sibuk melayani pelanggan ketika matahari mulai terbenam. Beberapa pembeli mengantre demi mendapatkan sepiring nasi uduk.

Tempat makan yang dinamakan sama dengan pasar di kawasan itu, berdiri sejak 2007. Meski ramai oleh pembeli, tempat makan ini berukuran kecil, hanya spanduk berwarna biru dengan tulisan Nasi Uduk Pasar Thomas yang menjadi penanda tempat ini. Terdapat etalase yang menyajikan berbagai jenis lauk yang bisa dilihat dan dipilih.

Berada di tepi jalan, tidak ada pembeli yang terlihat makan di tempat. Tempat makan ini pun tidak menyediakan meja-meja untuk para pengunjung. Ipat, pemilik Nasi Uduk Pasar Thomas mengaku adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadi alasan di balik ini.

“Dulu waktu buka dari malam ke subuh ada 3 meja panjang, 4 meja pendek. Sekarang tidak ada meja karena PPKM,” ujar Ipat.

Adanya pandemi dan pembatasan-pembatasan yang diterapkan pun membuat Ipat menyesuaikan jam operasional. Bila sebelumnya Nasi Uduk Pasar Thomas beroperasi sejak pukul 23.00 WIB hingga subuh, kini tempat makan ini mulai buka pukul 17.00 WIB.

Meski begitu, Ipat mengaku makanannya masih tetap laris. Dalam sehari, beras yang di gunakan bisa mencapai 50 liter. Walaupun sebelumnya, beras yang dihabiskan bisa mencapai 60-70 liter per hari.

“Kalau awal dagang dari 3 liter beras. Sekarang sudah hampir 50 liter per hari saat pandemi,” katanya.

Sesuai dengan namanya, tentu menu andalan rumah makan ini adalah nasi uduk. Namun, sebagai tambahan ada beragam menu lauk. Tengok saja, ada gorengan, telur dadar, telur balado, orek tempe, bihun goreng, semur jengkol, krecek, udang, kikil, daging ayam dan daging sapi dan beragam menu lainnya. Tak hanya nasi uduk, Anda juga bisa memilih nasi kuning.

Banyak pilihan

Saking banyaknya menu yang tersedia, Anda mungkin akan bingung pilih lauk. Ipat bilang sulit menentukan menu yang paling rekomendasi.

“Yang paling banyak dibeli itu sambel pedas, krecek, juga jengkol. Ada juga gorengan dan telur dadar,” katanya.

Melihat pilihan, KONTAN pun memilih nasi uduk dengan bihun goreng, orek tempe, serta daging sapi. Tentu, ditambah pula sambal pedas serta sambal kacang dan kerupuk.

Nah, nasi kuningnya diteman orek tempe dan bihun goreng, empal, kikil dan sambal kacang. Seporsi makanan ini cukup besar, ditambah lauk dan kerupuk memenuhi piring.

Saat dicoba, nasi uduknya terasa lezat, gurih dan wangi. Daging sapinya dipotong kecil-kecil juga empuk dan lezat lantaran bumbunya meresap.

Empal dari warung ini pun terasa empuk dan gurih. Menu yang ditambah dengan serundeng terasa manis dan berpadu dengan baik. Namun, kikilnya tidak terlalu terasa meski sangat empuk.

Orek tempe yang disajikan tidak terlalu kering, tetapi terasa gurih. Bihun goreng yang disajikan pun tak terlalu manis. Sementara, sambal kacangnya manis dan tepat.

Francisca, salah satu pengunjung Nasi Uduk Pasar Thomas mengaku menyukai beragam menu yang disajikan. Dia bilang cocok dengan nasi uduk di tempat ini karena gurih dan sesuai lidah. Bahkan, ra sanya seperti nasi uduk rumah an. “Rasanya solid banget. Dalam satu piring ada asin, manis, gurih, tapi padu. Nasi uduknya enak, jadi dimakan pakai bihun dan tempe cukup. Lalu harganya murah dan varian lauknya banyak. Cocok banget buat anak kos, tanggal muda atau tua tetep bisa beli,” ujarnya.

Memang, menu yang tersaji di tempat ini bisa didapatkan dengan harga terjangkau. Ipat mengatakan harga menu-menunya mulai dari Rp 1.000 hing ga Rp 17.000 per lauk.

“Kalau yang Rp 17.000 itu untuk daging, ayam Rp 15.000. Untuk daging, kalau sepaket dengan nasi cuma Rp 22.000. Karenanya lebih baik dicampur, jangan dipisah,” katanya.

Meski begitu, Anda belum bi sa memesannya melalui aplikasi pesan antar. Menurut Ipat, pihaknya hingga saat ini memang belum bermitra dengan aplikasi-aplikasi tersebut.

Nasi Uduk Pasar Thomas beroperasi setiap hari. Ipat mengatakan, warungnya libur di akhir atau awal bulan. Bila libur, pihaknya terkadang akan membuat pengumuman.

Memundurkan Jam Buka Warung

Pandemi Covid-19 membuat Nasi Uduk Pasar Thomas harus menyesuaikan jam operasionalnya, sehingga buka lebih awal dari biasanya.

Sebelumnya, waktu kondisi normal, tempat makan ini mulai dibuka pukul 23.00 WIB. Belakangan, kita bisa menyambangi warung nasi uduk tersebut mulai pukul 17.00 WIB.

Ternyata, Nasi Uduk Pasar Thomas pun sudah beberapa kali menyesuaikan jam operasional Ipat mengatakan, ketika pertama kali membuka kedai. Nasi Uduk Pasar Thomas justru beroperasi mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Namun, jam operasional ini diubah lantaran banyaknya permintaan konsumen.

“Banyak konsumen bertanya, bisa tidak dibuka lebih awal. Karena dulu yang membeli kebanyakan pedagang. Akhirnya saya percepat bukanya. Jadi, dari jam 03.00 WIB saya sudah buka dan tutupnya tetap jam 08.00,” katanya.

Namun, lagi-lagi atas permintaan pelanggan, Ipat memundurkan lagi jam buka warungnya. Enggak tanggung-tanggung menjadi pukul 23.00 WIB. Sejak dibuka sejak pukul 23.00 WIB, sajian Nasi Uduk Pasar Thomas menjadi lebih cepat habis. Dia mengatakan, dalam waktu 3 jam biasanya seluruh menu sudah terjual.

Perubahan jam operasional ini pun mengubah jenis pembeli, bukan para pedagang lagi. “Jadi beda konsumennya, ada yang baru pulang main sampai yang baru pulang syuting,” kata Ipat.

 

Sumber: Kontan. 12 Juli 2021. Hal. 24