Bermula dari Jari-Jari Kreatif. Kompas. 19 April 2017. Hal.13

Setiap orang memiliki cerita unik dari pengalaman hidupnya. Demikian pula dengan Martha Puri Natasande (31), yang tak pernah menyangka jika dari kreatifnya ketika menekuni hobi kerajinan tangan, dia berhasil merajut kesuksesan usaha kreatif bernama ideku Handmade.

PURI mengaku jika kegemarannya membuat kerajinan tangan sudah muncul sejak duduk di bangku SD.

“Suatu waktu, beberapa teman sekolah saya membawakan oleh-oleh lucu, yang dibawa seusai berlibur dari luar negeri. Di momen itu, saya tersadar tidak mungkin bisa berlibur seperti mereka.  Padahal saya ingin bisa memiliki suvenir lucu seperti itu. Maka, pilihannya, saya bertekad membuatnya sendiri.”

Beberapa saat kemudian, Puri kecil diajak sang ayah berekreasi di daerah Puncak, Bogor. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dia lantas membawa pulang banyak buah pinus kering. Puri lalu membuat pensil berhiaskan buah pinus untuk dipakainya di sekolah.

“Karena banyak yang memesan, saya menjualnya seharga Rp 1.000 per batang.” ucap Puri bersemangat.

Inilah titik awal Puri meyakini bahwa hobi kerajinan tangan bisa mendatangkan pundi-pundi rezeki. Seiring bertambahnya usia, dia gemar membuat beragam jenis kerajinan tangan. Kebanyakan kreasinya Puri berikan sebagai kado untuk teman atau saudara.

“Iseng-iseng waktu SMA, saya membuat kalung. Berbekal rasa percaya diri, saya menyusuri Kemang, yang saat itu menjamur butik-butik kecil. Sembari berjalan kaki, satu per satu butik didatangi, saya coba tawarkan kalung-kalungg buatanku yang ingin dijual dengan sistem konsinyiasi,” kata Puri.

“Kalau tidak berminat, ya tidak apa-apa. Tidak ngoyo. Justru bisa menjadi stok hadiah untuk teman-teman. Kala itu sama sekali belu ada niatan serus berbisinis,” sambungnya.

Sampai suatu waktu, Puri disadarkan seorang sepupu. “Kejadiannya tahun 2008. Sepupuku bernama Lauren mempertanyakan kenapa hasil karyaku banyak dikasih ke orang-orang, kenapa tidak coba dijual. Dia menyarankan untuk berjualan di internet, lewat situs Multiply. Berhubung dadakan, saat ditanyakan apa nama akunnya, saya terceplos saja menyebut Ideku Handmade.”

“Ideku datang dari pemikiran bahwa semua karya yang ditampilkan adalah ide aku. Sedangkan handmade, artinya semuanya adalah kerajinan buatan tangan,” ucapnya terkekeh.

 

Buku “diary”

Selain dipakai berjualan, Puri memanfaatkan Multply dan blog sebagai sarana berbagi ilmu. Dia mengibaratkan keduanya sebagai buku diary.

“Prinsipku, saya tidak pikirin apakah orang suka atau tidak dengan yang kutulis. Tapi saya mencari cara bagaimana membuat buu diary ini terlihat bagus.”

Kebiasaannya memanfaatkan situs media sosial membawa usaha Puri semakin dikenal luas masyarakat, terlebih lagi ketika dia memasukkannya di Instgram.

The power of  instagram itu dahsyat. Aawalnya iseng, tahu-tahu empat tahun masuk di Instagram, follower bertambah banyak, eksposnya luar biasa.

Saat ni, Puri dibantu tim beranggotakan 10 orang. Ideku Handmade bertransformasi menjadi usaha kreatif yang menekuni pernak-pernik buatan tangan personal yang dibuat berdasarkan pesanan.

Rencananya, tahun ini, dia akan mengatur strategi agar bisa membagi timnya ke dalam pembuatan goodybag, dekorasi pernikahan, maupun pesanan korporasi atau branding.

 

Ciri khas

Ideku Handmade juga rutin menggelar workshop sejak 2010, yang awalnya bernama Girls’Day Out. Seiring perjalanan berbagi ilmu, Puri mengamati antusiasme peserta workshop cukup tinggi. Didominasi kaum perempuan dari berbagai usia, dia meyakini setiap perempuan bisa melakukan banyak hal produktif.

“Menurut saya, semua perempuan memiliki multitalenta. Tinggal bagaimana kita mau belajar lebih dengan apa yang disukai,” katanya.

Ketika ditanyakan seperti apa ciri khas desain Puri? Perempuan lulusan Komunikasi Visual Interstudi tahun 2007 ini memaparkan ciri khas desainnya adalah yang simpel dan berwarna-warni.

“Saya senang membuat yang simple, mudah dipelajari, tapi bisa menjadi sesuatu yang bernilai. Kalau ditanya kreasi kesuakaan, saya paling suka menggambar-gambar di bantal berbentuk boneka.”

Sumber: Kompas, 19 April 2017