Bersenang-senang di Keramain, Tetap Peduli pada Lingkungan
9 Maret 2024
Lepas dari pandemi, ruang publik kembali bergeliat dan semarak. Konser, bazar, pameran, car free day, dan banyak lainnya ramai pengunjung. Namun, apa yang tertinggal dari keadaan yang sudah kembali normal itu? Tak jarang sampah sisa makanan dan minuman menjadi pemandangan tak sedap di mata.
Ribuan ton sampah sisa gelaran acara menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pengelolaannya. Lantas, bagaimana seharusnya berperilaku dengan penuh kesantunan ekologis di tengah normalitas keramaian publik tersebut?
Setiap kita, baik itu pengunjung maupun penyelenggara dan pengisi acara di berbagai event keramaian sebenarnya bisa mengambil peran kontributif yang perhatian pada lingkungan tempat acara itu berlangsung
Sebagai pengunjung hal yang dapat kita lakukan, antara lain, membawa botol air minum sendiri dan menyimpan dahulu bungkus atau sisa makanan selama acara konser/festival berlangsung agar dapat membuangnya pada tempat yang disediakan setelahnya. Selain itu, kebiasaan membawa kotak makan sendiri sebagai ganti kotak bungkus makanan sekali pakai merupakan kebiasaan baik untuk mengurangi limbah sampah yang sulit di daur ulang.
Sementara itu, dari sisi penyelenggara, mereka dapat menyediakan tempat isi ulang air minum gratis serta mengatur jumlah dan letak tempat sampah di beberapa titik yang mudah dijangkau pengunjung. Sebisanya tempat sampah itu sudah terpilah antara sampan organik dan non organik, Penyelenggara tidak hanya fokus pada capaian keberhasilan keuntungan penjualan tiket, tapi juga mindset bisnisnya yang memiliki value waste management dari penyelenggaraan operasional event.
Penyelenggara juga bisa berkoordinasi dengan para pengisi acara melalui kesepakatan dan regulasi penyelenggaraan acara yang memiliki komitmen “hijau”. Di antaranya, pengadaan konser ramah lingkungan serta menyeimbangkan layout tempat acara yang juga menyediakan akses ruang terbuka hijau karena tingginya trafik mobilitas kendaraan pengunjung di sekitar lokasi acara.
Bila perlu, penyelenggara melalui evaluasi acaranya dapat memberi aturan reward maupun punishment bagi para pengisi acara atas berhasil tidaknya mereka mematuhi aturan kebersihan lingkungan dan kemampuan mengelola sampah produksi dari stand mereka selama acara berlangsung.
Upaya-upaya tersebut merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab sosial kita kepada masyarakat luas dan bumi tempat kita berpijak. Tujuannya agar kita tak lagi harus bersakit-sakit ke tepian karena tindakan, kebiasaan, maupun perilaku yang hanya mengejar kesenangan karena adanya keramaian sehingga abai pada aspek ekologis.
Euforia gelaran konser maupun festival tetap bisa dijalankan tanpa menegasikan kepedulian pada lingkungan sekitar tempat penyelenggaraan Mari jadikan kesantunan ekologis ini sebagai paradigma baru. Bagaimana penyelenggara dan pengisi acara mengeksekusi berbagai project keramaian mereka, serta bagaimana kita sebagai pengunjung yang menikmati kesenangan it juga memiliki green awareness, Jadi, sudah siapkah Anda menjadi agen perubahan untuk hal ini? (*)

