Bertekuk Lutut pada Sepiring Pecak Belut. Tabloid Kontan. 17 Juli - 23 Juli 2017. Hal.40 001-page-001

Oleh: Hendrika Yunapritta

Sedap nian pecak belut ala Pemalang

Ada ujaran terkenal, don’t judge a book by its cover. Begitu pun dalam soal makanan dan jajanan. Jangan menilai rasa makanan dari penampilan warungnya. Cobaa rasakan sajiannya, baru beri penilaian. Naun, semua ujaran dan kalimat sakti itu tetap tampak meragukan saat kami sampai di warung yang katanya punya pecak belut paling istimewa di Pemalang ini.

Masuk dari arah Brebes, menuju ke Petarukan, ada bnayak sekali warung pecak. Lantas, mana yang paling enak? Seorang teman dan mesin pencari Google memberi saran untuk pergi ke warung pecak belut Ma’ Beng. Jadi, ke sanalah kami menuju.

Warung Ma’ Beng tidak sulit dicari. Tapi, begitu ketemu agak sukar untuk percaya bahwa ke sinilah tujuan para pemburu kenikmatan belut. Warungnya berada di jalan kecil yang hanya cukup untuk lewat satu mobil, di pinggir sawah. Lokasinya bukan dijalan utama Pantura. Anda mesti memastikan dengan peta di ponsel atau bertanya pada warna setempat. Warung ini tidak besar, bangunan terlihat seadanya. Lengkap dengan bangku dan meja kayu untuk sekitar 12 orang.

Abdul Azis, sang pemilik warung menyambut kami dengan menanyakan, “Mau berapa porsi?” Pecak belut merupakan sajian utama di sini, meski di etalase warung juga tersedia lele, ayam goreng, telur asin, dan burung puyuh.

Setelah mendengar pesanan dengan seksama, dia segara masuk ke dapur dan sibuk di sana. Tak lama, ia bertanya lagi dari dapur, “Pecaknya mau yang pakai santan atau sambal tomat?” Begitu kami jawab,  satu porsi pakai santan, ia lantas memarut kelapa untuk di ambil santannya.

Ternyata, waktu memasak pecak belut ini lumayan lama. Kami menunggu sampai sekitar 45 menit sembari memandangi sawah yang hijau dan menyeruput teh manis hangat.

Lantas, beberapa porsi pecak belut datang dengan segala perlengkapannya, yakni piring lalapan berisi irisan timun, kacang panjang muda, serta rebusan daun singkong muda.

Satu porsi pecak ini terdiri dari dua sampai tiga ekor belut ukuran sedang yang dipotong-potong. Lumayan banyak, untuk dikonsumsi satu orang . Anda bisa meminta tingkat kepedasan pecak. Mau pecak yang tidak pedas pun akan dilayani.

Warung Ma’ Beng menyediakan dua pilihan pecak, yakni dengan santan atau sambal tomat biasa.

Jenis pecak di Pemalang ini berbeda dengan gaya pecak Betawi dan Banten yang berkuah bening dan rasanya dominan asam segar. Adapun pecak belut Ma’ Beng seperti belut goreng yang dipenyet dalam sambal bawang tomat dan kencur.

Sebelum menyantap pecak belut, Anda bisa mengucurinya dulu dengan jeruk nipis yang tersedia di piring lalapan. Nah, begitu mencicipi pecak belut ala Ma’ Beng, kami jadi maklum, mengapa para penggemar makan enak mau-maunya bergelut di warung kecil itu.

Belut yang liat dan garing  berpadu pada kenikmatan sambal tomat yang melumurinya. Ditambah nas hangat dan rebusan daun singkong muda, wah … pepatah don’t judge a book by its cover  itu, benar adanya. Pecak belut ala warung Ma’ Beng memang sedap.

Pesan dari jauh

Tarini, isteri Andul, mengatakan bahwa warung kecilnya ini sudah terbiasa kedatangan orang-orang jauh, seperti  dari Jakarta, yang kangen mengudap belut olahan mereka. “Soalnya, yang pertama bikin pecak belut ya di warung sini,” katanya.

Dwi Setyo Irawanto, salah satu penggemar pecak belu Pemalang, mengatakan pertama kali mendengar tentang waring ini di bus malam Denpasar-Semarang, sekitar satu decade lalu. “Dalam perjalanan itu, saya bertemu ‘pengelana’ warung-warung enak yang jarang kita temukan di internet atau kit abaca. Salah satunya pecak belut ini,” ujarnya.

Warung Ma’ Beng didirikan oleh Dul, tetangga Tarini, pada tahun 1985. Sekitar empat tahun lalu, kepemilikian warung berpindah kepada Tarini dan suaminya. Mereka menyajikan menu yang sama, dengan resep serta citarasa berbeda.

Nah, setelah mencoba pecel belut ala Pemalang ini, Dwi segera jatuh hati. Maklum, kata dia ibunya dulu serung memasak pecl kencur terong dengan rasa kencur dominan seperti pecak belut tadi. Jadi, “Pecak belut disitu seketika mengingatkan pada masakan ibu. Perasaan ini yang mungkin membuatnya jadi istimewa,” kata Dwi yang selalu menyempatkan diri mampir ke Warung  Ma’ Beng ketika lewat.

Lantaran mengolah dari belut mentah dan masih hidup, Tarini membutuhkan waktu yang lumayan lama utnuk menyiapkan porsi pecak belut pesanan pembeli. Maka, Tarini menyarankan , agar Anda memesan dulu melalui telepon dulu ke sini, supaya enggak kelamaan menunggu,” kata wanita berumur 52 tahun ini.

Pada jam makan masa-masa liburan dan akhir pecan, biasanya Warung Ma’ Beng akan banyak penggemar. Mereka buka dari pukul 07.00 sampai 20.00.

Ketika Lebaran pun, kata Tarini, mereka hanya tutup sehari. “Soalya, waktu itu malah banyak yang nelepon mau makan pecak,” katanya tertawa. Ya mau tidak mau mereka lantas membuka warungnya.

Harga satu porsi pecak belut lengkap dengan lalapan di sini adalah Rp25.000. Ada pun sepiring nasi putih Rp3.000. Saat Lebaran kemarin, harga pecak belut jadi Rp30.000 seporsi. “Soalnya, harganya belut juga jadi mahal. Tapi, habis itu biasa lagi,” kata Tarini.

Ingin bertekuk lutut pada belut? Segeralah menuju warung Ma’ Beng.

Spesialis Belut Sawah

Pecak belut olahan warung Ma’ Beng ini memang lezat. Daging belutnya liat, garing, dan gurihnya mantap. Ternyata, menurut Tarini, sang pemilik warung, kunci rasa nikmat belut goreng itu adalah karena mereka hanya menggunakan belut sawah.

Warung Ma’ Beng ini dikelilingi sawah. Lantas, apakah belutnya dipanen dari sawah sekitar itu? Tidak, kata Tarini. “Kami beli dari Brebes, sudah langganan dari dulu,” ujarnya.

Belut ‘impor’ ini kadang menyulitkkan juga. Pasalnya, kalau jalanan macet, seperti waktu mudik Lebaran, pasokan belut dari Brebes juga terancam telat.

Namun begitu, Tarini mengaku tidak pernah menyajikan belut peliharaan atau belut kolam kepada pembelinya. Katanya, dulu ia pernah menjajal sekali memasak belut panenan dari kolam. “Waktu itu, pasokan dari Brebes belum datang, padahal di sini banyak yang pesan,” tuturnya.

Ia lantas menggunakan belut kolam dari dekat warung. Ternyata, “Pas digoreng, kok enggak bia kering-kering. Jadi masaknya lebih lama. Rasanya juga tidak seenak belut sawah ini,” kenang dia. Saat dipenyet, sambal serta kuah santan pecak, ternyata tidak bisa meresap dengan sempurna ke tubuh belut kolam itu. Jelas saja, pembeli juga keberatan disuguhkan belut yang rasanya berbeda dari biasa.

Maka, sampai sekarang mereka tetap berusaha memenuhi pesanan pembeli. “Bagaimana caranya, pokoknya bisa dapat belut dari sana (Brebes),” kata Tarini, sambil tertawa.

 

Sumber: Tabloid Kontan. 17-13 Juli 2017. Hal 40.