Peninggalan Zaman Kuno Itu Tersimpan di Museum Modern yang Fitiristis
6 Januari 2024. Hal. 18
Selain tersohor memiliki banyak pantai serta gua-gua yang layak disinggahi, Pacitan tengah bermetamorfosis menjadi salah satu pusat wisata sejarah. Dua museum yang mengusung tema berbeda kini menjadi ikon baru kabupaten itu.
SEJAK lama, Pacitan dikenal sebagai ibu kota prasejarah dunia. Sebab, di kabupaten itu ditemukan aneka peninggalan kehidupan masyarakat zaman prasejarah.
Benda-benda bernilai sejarah tinggi tersebut, antara lain, kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, mata panah, serut, dan alat-alat dari tulang (spatula). Diyakini, manusia purba dari Sangiran dan Trinil memanfaatkan Pacitan sebagai bengkel peralatan.
Seluruh peninggalan itu, termasuk bagaimana gambaran kehidupan manusia zaman purba, bisa di saksikan di Museum Song Terus, sebuah museum yang berada di Desa Wareng, Kecamatan Punung.
Museum yang terletak sekitar 100 meter dari Gua Tabuhan itu masih tergolong baru. Mulai dibangun pada 2016, lalu diresmikan dan dibuka untuk umum pada Oktober 2022.
“Museum ini menyajikan perjalanan manusia, kebudyaaan, dan lingkungan alam di Gunung Sewu sejak zaman prasejarah,” kata Kepala Unit Museum Song Terus Albernus Nikko Suko Dwiyanto.
Semua peninggalan tersebut juga masuk dalam geopark (taman alam) kawasan Gunung Sewu yang telah ditetapkan UNESCO. Mulai Pacitan (Jawa Timur), Wonogiri (Jawa Tengah), hingga Gunungkidul (DIJ).
Meski Museum Song Terus menyajikan ragam barang maupun kehidupan kuno, wisatawan yang datang bakal merasakan nuansa modern. Sebab, desain museum di atas lahan seluas 2,5 hektare itu sangat futuristis.
Wajar, desainernya bukan sosok sembarang. Dia adalah Ridwan Kamil, mantan gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai arsitektur andal.
Museum Song Terus memiliki enam ruang galeri. Masing-masing ruang mempunyai tema khusus dan berurutan. “Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengunjung dalam memahami sejarah Geopark Gunung Sewu, mulai bentang lingkungannya hingga peradabannya dari dulu sampai sekarang,” terang Nikko.
Museum Song Terus juga menjadi salah satu museum nasional yang mempunyai program pameran objek pemajuan kebudayaan. Pada tahun ini, pameran kebudayaan yang diselenggarakan di museum itu bertema Jagat Mbah Sayem. “Mbah Sayem merupakan julukan pada sosok rangka manusia purba yang ditemukan para peneliti pada 1999 di Gua Song Terus,” ungkapnya.
Nikko menambahkan, temuan tersebut dianggap bersejarah dan bermanfaat, “Temuan Mbah Sayem ini membuktikan adanya sejarah manusia purba di Jawa yang diduga telah ada di gua-gua pada kawasan Gunung Sewu sejak ribuan tahun lalu,” bebernya.
Selain menyajikan galeri foto dan material benda bersejarah, pameran objek pemajuan kebudayaan diselingi kesenian arak-arakan hasil bumi yang melibatkan warga desa setempat. (hyo/her/c7/ris)
sumber: Jawa Pos

