AROMA rempah dalam cangkir hangat yang disajikan di atas meja lobi Universitas Ciputra Selasa (10/10) menguar kuat. Didominasi wang jahe, kapulaga, dan kayu manis. Sekilas mirip wangi jamu. Tapi, tunggu dulu ada satu aroma khas yang menyelinap dan membelit indra penciuman. Aroma kopi jenis robusta. Meski samar, wanginya sangat kental.
Jawahir Muhammad kembali menuangkan ke dalam cangkir mungil khas Arab berwarna emas itu. Sejurus kemudian, Abdullah Novel Mahri menyeduh kopi tersebut dengan air panas dari teko kecil. Aroma perpaduan kopi dengan rempah-rempah semakin kuat.
Fadly Abdul Aziz Hassan yang sejak tadi duduk di tengah-tengah mereka langsung menyeruput kopi yang telah diseduh. Tegukan pertama, cowok 21 tahun itu masih terdiam tanpa komentar. Dia kembali meneguk kopi tersebut. Hingga kopi di dalam cangkir itu habis. “Enak, kalau saya orang Arab, rempahnya sudah pas. Kopinya juga masih terasa,” katanya.
Ya, kopi arabika perpaduan rempah-rempah itu adalah racikan tiga alummus Universitas Ciputra, mereka adalah Fadly, Abdullah, dan Jawahir. Kopi dengan merek Kampoong Arab tersebut diproduksi sejak 2014. Saat ini produk itu tidak hanya laris di pasar lokal, tetapi juga internasional.
Usaha industri rumahan itu dibentuk ketika Fadly, Abdullah, dan Jawahir masih duduk di bangku kuliah semester II jurusan international business management (IBM). Pada 20 April 2014, mereka mulai mendirikan bisnis. Awalnya, dia ingin membuat bisnis pepes jamur. “Ide kami ditolak oleh dosen. Katanya tidak cocok untuk bisnis,” kata Fadly.
Saat itu, sang dosen hanya memberikan waktu satu minggu untuk menemukan ide. Mereka berupaya manggali ide ke mana-mana. Namun, hasilnya nihil. Hingga akhirnya, Fadly melihat kebiasaat ibunya, Siti Maimunah, dalam menjamu tamu. Setiap tamu datang, itu Fadly selalu membuatkan kopi Arab. Yakni, kopi yang telah dicampur dengan rempah-rempah. Mulai kapulaga, kayu manis, cengkih, hingga jahe. “Itu sudah tradisi di keluarga kami. Di kampung kami,” ujarnya.
Fadly dan Abdullah adalah penduduk asli Kampung Ampel. Penduduk di kampung tersebut mayoritas orang Arab dan keturunannya. Berbagai budaya Arab pun masih diterapkan di kampung itu. Termasuk menjamu tamu dengan kopi arab. “Di Ampel ini banyak sekali yang suka dengan kopi arab. Rasanya sangar khas,” ujar cowok kelahiran 21 Januari 1996 itu.
Selain sebagai jamuan tamu, kopi arab diproduksi sendiri oleh banyak penduduk lokal dan dijual di Kampung Ampel. Kemasannya masih sangat tradisional. Meski begitu, penikmatnya hanya penduduk Ampel. Sangat jarang ditemui orang non-Arab yang menyukai kopi itu. “Banyak orang awam yang mengira kopi arab itu jamu. Aroma rempahnya sangat kuat,” kata CEO PT Kampung Arab itu.
Dari situlah, Fadly dan Abdullah ingin mengembangkan kopi khas Kampung Ampel. Kebetulan, keduanya adalah keturunan Arab. Tinggalnya pun di Kampung Ampel. Kemudian, mereka menggandeng Jawahir sangat familier dengan budaya Arab. “Kalau pas weekend Jawahir sering main ke rumah,” ujarnya. “Sering juga minum kopi arab,” imbuh anak satu-satunya pasutri Abdul Aziz Hassan dan Siti Maimunah itu.
Kopi arab itulah yang dikembangkan Fadly, Abdullah, dan Jawahir. Apalagi, Indonesia sangat lekat dengan budaya minum kopi. Mereka pun ingin mengenalkan kopi arab ke selutuh kalangan. Sebab, di dalam kopi tersebut terdapat akulturasi budaya Indonesia dan Arab. “Ini kopi tradisional. Jadi, sebagai anak muda, kami ingin mengembangkannya,” ujarnya.
Kemudian, Fadly dan kedua temannya melakukan riset market. Mereka ingin mengetahui alasan masyarakat tidak bisa menerima kopi arab. Hasil riset tersebut menyebutkan bahwa kebanyakan orang menganggap kopi arab adalah jamu. Sebab, terkandung banyak rempah.
Tiga pemuda itu langsung meracik kopi arab dengna takaran rempah yang lebih rendah. Awalnya, kopi tersebut dicampur dengna rempah-rempah yang lengkap. Misalnya, kopi, kapulaga, cengkih, jahe, dan kayu manis. Kemudian, mereka menghilangkan cengkih dari racikan kopi arab tersebut. “Sampai tiga kali uji coba racikan kopi,” kata cowok penghobi flog football dan memanah itu.
Kopi arab sejatinya adalah kopi tradisional orang Arab. Cara membuatnya pun snagat tradisional. Biasanya, orang Arab langsung membuat kopi fresh from the oven. Biji kopi dab rempah-rempah tersebut disangrai. Kemudian, ditumbuk atau diblender.
Fadly mengatakan, cara tradisional tersebut masih dilakukan warga Kampung Ampel. Namun, dia dan kedua temannya ingin membuat kopi tradisional arab itu dalam kemasan. Tujuannya, masyarakat bisa menikmatinya dengan mudah. “Kami rebranding kopi arab. Packaging-nya dibuat lebih bagus,” katanya.
Fadly melakukan tes market kopi racikannya kepada orang-orang Arab dan non-Arab. Tes market tersebut dilakukan pada saat car free day (CFD). Satu per satu pengunjung CFD mencicipi kopi arab racikannya tersebut. Kopinya terasa, begitu juga rempahnya. Pas. “Bahkan, kopi racikan kami ludes dibeli masyarakat,” ujarnya.
Setidaknya riset ini menciptakan kopi arab sesuai dengan lidah orang Arab maupun non Arab membutuhkan tiga bulan. Sebagai mahasiswa, tentu tidak banyak modal yang dimiliki. Mereka pun iuran Rp 1,5 juta per orang sebagai modal dasar. Kini omzet yang dihasilkan per bulan minimal Rp 15 juta.
Abdullah menyatakan tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia bisnis. Hanya berbekal nekat, dia bersama teman-temannya akhirnya mampu menjalani bisnis tersebut. Bisnis itu pun memiliki misi mengenalkan tradisi kopi arab atau kopi tahlil kepada seluruh kalangan masyarakat. “Semua learning by doing,” kata cowok kelahiran 18 mei 1995 itu.
Sebelum dipasarkan, kopi arab hasil racikannya telah dikonsultasikan dengan ahli kopi Indonesia. Kopi-kopi yang digunakan adalah jenis robusta dari Malang. Sementara itu, rempah-rempah mayoritas dibeli dari warga lokal Kampung Ampel. Kopi racikan tersebut diberi merek Kampoong Arab. “Biar orang bisa langsung tahu kopi tradisional Arab,” ujar putra pasutri Novel Mohammad Mahri dan Safiera Abdul Malik Ba’shen itu.
Kini kopi arab racikannya dikemas dalam bentuk sachet. Jadi, bisa diminum cepat saju. Sementara itu, kopi arab murni tanpa gula dikemas secara menarik. “Awalnya, packaging-nya masih stoples. Tetapi, saat dipaketkan, mudah pecah,” ujarnya.
Memasarkan produk tersebut, lanjut dia, gampang-gampang susah. Bahkan, dalam tiga bulan awal merintis bisnis kopi Kampoong Arab, tidak ada untung. Selain membuat tes market beberapa titik CFD, dia membagi-bagikan kopi racikannya kepada warga di Kampung Ampel. Selain it, kepada jamaah di masjid-masjid. “Sampai mulai banyak yang mengenal kopi Kampoong Arab. Baru kami jual ke toko-toko,” katanya.
Pada 2014, produk kopi Kampoong Arab akhirnya didaftarkan izin pangan industri rumah tangga (PIRT). Kemudian, thaun berikutnya mulai menyusun nutrition fact. Hingga label halal dan hak paten pun dipunyai. “Sekarang produk kami sudah bisa dipasarkan secara luas,” ujar dia.
Abdullah menambahkan, untuk mengenalkan kopi Kampoong Arab secara luas, dirinya juga sering mengikuti berbagai pameran atau bazar. Awalnya, pemasaran kopi tersebut hanya seputar Surabaya. Hingga akhirnya terus berkembang keluar kota. Mulai Jakarta, Jateng, hingga Aceh.
Dia juga sering memasarkan produknya melalui media sosial. Salah satunya bergabung dengan e-commerce di indonesia sebagai branding. Dari situlah, produknya kian dikenal. Bahkan, perusahaan yang dirintis sudah memiliki beberapa agen dan distributor. Kini penjualannya tembus pasar internasional. Misalnya, Arab Saudi, Hongkong, dan Australia. “Awalnya, hanya buat oleh-oleh. Lama-lama bisa terjual di pasar internasional,” ungkapnya.
Meski mengandalkan media sosial sebagai tempat promosi, Abdullah tetap memilih transaksi direct dengan pembeli. Sebab, pembeli bisa langsung merasakan kopi yang diracik. “Sekarang kemasannya sangat modern. Dibuat lebih elegan,” ujarnya.
Tidak hanya berhenti di kopi arab, tiga pemuda tersebut juga akan mengembangkan bisnisnya dengan produk baru. Misalnya, teh dan ussu khas Arab. Bahkan, kini mereka telah membuat kafe yang menyediakan beragam minuman khas Arab. “Rencana juga akan ada angkringan. Tapi, kopinya kopi arab,” sambung Jawahir.
Jawahir menyatakan ingin sekali memiliki tempat produksi yang besar. Sebab, selama ini tempat produksi kopi Kampoong Arab masih di rumah fadly. Jika telah memiliki tempat produksi yang cukup luas, tidak tertutup kamungkinan untuk memberdayakan warga Kampung Ampel. “Kami ingin perusahaan kami semakin berkembang dan lebih profesional lagi,” katanya.
Kini tiga pemuda tersebut bisa dikatakan sukses di usia muda. Setelah lulus dari Universitas Ciputra Jumat (6/10), mereka sudah memiliki impian dan masa depan. Yakni, menjadi pengusaha sukses dengan mengangkat akulturasi budaya Arab dan Indonesia.
Tidak terasa, secangkir kopi yang disajikan di atas meja telah habis. Abdullah pun kembali menuangkan air panas ke dalam cangkir-cangkir mungil tersebut. Kali ini aroma rempah bercmapur kopi robusta begitu terasa. Mereka terus bercengkerama dengan santai. Sesekali menyeruput kopi arab itu. (*/c6/ano)
Sumber : Jawa-Pos-Metropolis.13-Oktober-2017.Hal.25,35

