Kota Lama
Bangunan di Jalan Bibis Tama banyak yang berubah. Kawasan perkantoran dan perniagaan yang ada di sana awalnya menghadap ke arah Kalimas. Namun untuk memudahkan akses jalan sehingga diubah menghadap ke arah barat atau membelakangi sungai.
(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)
SELAIN itu, karena posisinya dekat sekali dengan sungai Kalimas yang pada masa itu terdapat Pelabuhan di dekat Jembatan merah atau Wilemskade, sehingga menjadi kawasan untuk pergudangan maupun untuk kantor.
Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saat masa kolonial Belanda bangunan sempat mengalami perubahan. Yang tadinya menghadap Kalimas diubah menghadap ke arah jalan utama. “Bangunan yang ada di Jalan Bibis Tama sebenarnya dulu mengahadap ke sungai. Sama seperti bangunan lainnya di sepanjang sungai Kalimas. Perubahannya semua pada masa Kolonial Belanda,” katanya kepada radar Surabaya.
Chrisyandi menuturkan, seperti gedung Societeit Concordia (gedung pertamina) yang dulu menghadap ke sungai, lalu diubah menghadap ke selatan. Untuk diketahui, di kawasan tersebut ada gedung Bataafsche petroleum maatschappij (BPM) yang merupakan kantor minyak sebelum akhirnya dikelola Pertamina.
“Karena akses jalan lebih lebar dan lebih cepat menuju ke beberapa lokasi,” imbuhnya. (Ke Halaman 7)
Dahulu…
Chrisyandi menjelaskan, dahulu kawasan Bibis Tama juga digunakan untuk akses gedung utama yang saat ini menghadap ke barat dan selatan. Karena tidak ada pemukiman, sehingga kawasan tersebut lebih ke arah urusan kantor dan perdagangan. Tak hanya itu, kawasan itu juga untuk perkumpulan orang-orang Eropa yang biasanya digunakan untuk hiburan orang-orang Eropa. “Ya, sebelum dimiliki oleh BPM digunakan untuk perkumpulan (hiburan) di gedung itu (BPM),” jelasnya. (bersambung)
Sumber: Radar Surabaya. 19 Januari 2021. Hal.3,7

