Kota Lama
Kesan histrois kawasan Bibis Tama saat ini masih menyisakan ceritan dan bangunan yang masih ada. Selain gedung Bank Mandiri dan gedung Pertamina yang dulunya menghadap ke depan sungai. Ada lagi bangunan yang saat ini masih bertengger megah.
(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)
PUSTAKAWAN Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, kawasan Bibis Tama sarat akan bangunan cagar budaya peninggalan kolonial Belanda. Seperti yang saat ini bangunan menghadap ke Jalan Veteran dengan nama gedung Asuransi Wuwungan atau saat ini merupakan gedung bank BCA. “Bangunan itu berdiri tahun 1920, ini dulu mempunyai karakteristik bangunan menonjol het nieveu bouwen,” katanya kepada Radar Surabaya.
Chrisyandi menjelaskan, arsitektur khas Eropa masih melekat di bangunan tersebut. Karena bagian bangunan seperti batu bata diplester, kolom kayu penutup kaca persegi dan lengkung, perisai, genteng, beton tulang masih terlihat. “Karakteristik bangunan sudah jelas menonjol arsitektur Eropa, apalagi ada bentuk gravel kombinasi segitiga silindris yang ada di bagian bangunan itu,” jelasnya.
Bangunan itu hingga kini masih berada di pinggir Sungai Kalimas atau tepat di Jalan Bibis Tama dan pintu utama sekarang sudah berubah posisi. “Sekarang pintu utamanya di Jalan Niaga yang sekarang Jalan Veteran. Karena jalan itu (Veteran) kini sudah cukup ramai dan jadi jalan utama,” katanya.
Sementara itu, menurut pengamat sejarah kota Surabaya Purnawan Basundoro, upaya pemkot dalam merawat bangunan di kawasan kota tua sudah ada sejak tahun 1996. Ketika itu 80 bangunan yang ditetapkan bangunan cagar budaya, kemudian berlanjut samapi dengan 273 bangunan yang menjadi cagar budaya tua. (Ke Halaman 7)
Bekas Gedung…
“Bukan hanya dicat, namun yang paling penting konteks merawatkannya dalam rangka mengenal peninggalan dan bukti-bukti sejarah Kota Surabaya. Selain dirawat juga ditawarkan kepada publik untuk dinimkati,” katanya.
Selain itu, perlu juga keterlibatan masyarakat juga untuk menjaga dan merawat bangunan cagar budaya, sehingga ada sinergi antara masyarakat, pemilik bangunan dan pemkot Surabaya.
“Bangunan-bangunan kota lama kebanyakan dibuat untuk berdagang, masyarakat (pemilik bangunan) hanya fokus dalam berdagang, namun membiarkan bangunan ini menjadi tidak terawat padahal itu nilai sejarah yang tinggi dan sangat luar biasa,” pungkasnya. (bersambung/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 8 Februari 2021. Hal.3,7

