Sempat mengadu nasib dengan menjadi TKW di Singapura, Rohimah ke mudian membulatkan tekad menjadi pengusaha sapu.
Pengalaman pernah menjadi seorang Tenaga Kernyurutkan mimpi Rohimah menjadi pengusaha sukses. Ya, wanita asal Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga ini mampu merintis usaha pembuatan sapu glagah hingga mengekspornya ke berbagai negara. Berbicara omzet pun sudah mencapai miliaran rupiah perbulannya
Rohimah lahir dari keluarga yang secara ekonomi bisa bilang pas – pasan di Purbalinga empat puluh satu tahun silam. Kondisi itu yang membuat Rohmah tidak punya kesempatan sekolah tinggi. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sejak masih sekolah, Rohimah sudah punya jiwa wirausaha. Ia jajal usaha membuat dan menjajakan gorengan hingga kudapan lainnya. Motif utama Rohimah berjualan adalah ingin mendapatkan tambahan uang jajan.
Selepas lulus SMA, Rohimah mengaku tidak kepikiran untuk kerja dengan orang lain. Saat itu ia punya mimpi menjadi pengusaha agar bisa membantu menciptakan lapangan kerja di desanya. “Saat itu di tempat saya begitu banyak anak muda yang menganggur,” kenangnya
Di tahun 2002, ia menikah dengan seorang pria asal Purbalingga yang bekerja di sebuah perusahaan pembuat sapu lidi. Setelah menikah, kedua pasangan ini memutuskan untuk membangun bisnis.
Setelah berdiskusi panjang. akhirnya mereka memutuskan memproduksi dan memasarkan sapu. Alasan pertama, sang suami memiliki kemampuan dan pengalaman menggeluti produksi sapu. Alasan kedua, mereka menilai sapu jenis tertentu, terutama glagah masih besar peluangnya.
Akhirnya mereka pun membuat aneka jenis sapu mulai dari sapu lidi dan sapu lantai. Berbeda dengan sapu pada umumnya, sapu glagah ini terbuat dari rumput glagah yang banyak didapatkan di Purbalingga.
Saat awal memulai usaha, mereka hanya berani membuat 100 sapu dalam seminggu. Target pasarnya adalah pasar dan toko kelontong di Purbalingga.
Dua bulan awal merintis bisnis, usaha Rohimah belum berjalan sesuai rencana. Tidak mudah tenyata memasarkan produk sapu glagah. Namun keduanya dengan sabar menempuh pemasaran dari toko ke toko. “Bahkan sempat juga door to door,” kenangnya.
Memutuskan jadi TKW
Kesabaran ada batasnya. Melihat perkembangan bisnis mereka yang mandek, Rohimah pun mengambil jalan lain. Apalagi modal usaha sudah habis.
la mendapat kesempatan untuk bekerja di Singapura menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di tahun 2004. “Saya ambil kesempatan itu karena jiwa memang masih labil saat itu,” akunya.
Setelah dijalani, ternyata Rohimah tidak kerasan bekerja di tempat orang. Hanya berlangsung selama sebelas bulan, ia pun pamit kepada bos tempat ia bekerja.
Rohimah pun kembali ke Purbalingga Kedua pasangan suami istri ini pun kembali memutuskan melanjutkan usaha sapu dengan berbagai perbaikan terutama dalam hal administrasi dan strategi penjualan. “Uang sisa hasil tabungan menjadi TKW sekitar Rp 1,5 juta saya pakai untuk modal melanjutkan usaha,” tegas Rohimah.
Tidak hanya itu, mereka memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Mereka nekad untuk menjajal kerasnya ibukota. Setelah menyewa rumah kontrakan, mereka pun memproduksi dan menjual produk sapu di tempat itu,
Sang suami fokus memproduksi sapu, sedangkan Rohimah mendapatkan tugas keliling daerah Jakarta Selatan dengan menggunakan gerobak. Terkadang pula ia menjajakan sapu di pinggiran trotoar jalan.
Mereka menjual produk sapu antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per batang. Hampir selama dua tahun mereka mempertahankan strategi ini dan mulai mendapatkan hasil. Di tahun 2005, mereka sudah punya lima agen yang siap menampung produk sapu buatan mereka. Rata-rata per minggu mereka memasok 500 hingga 700 sapu ke setiap agen. Di Jakarta pula mereka mendapat kesempatan mengekspor sapu ke Jepang lewat sebuah perusahaan kenalan mereka. Melihat perkembangan yang mulai sesuai harapan, Rohimah memutuskan kembali ke Purbalingga untuk membangun usaha dengan nama Rayung Pelangi. Namun sang suami tetap di Jakarta untuk melanjutkan usaha yang lebih dekat dengan ibu kota. “Saya juga memastikan pasokan bahan baku dari Purbalingga lancar ke Jakarta,” tegas Rohimah.
Bisnis sapu kian berkibar ketika di tahun 2007 mereka berhasil mengeskpor sebanyak 8.000 batang sapu ke Malaysia lewat kenalan lama yang tinggal di sana. Seiring dengan ke berhasilan di pasar ekspor, maka Rohimah dan sang suami pun mendapatkan bantuan pelatihan dari Dinas Perdagangan setempat.
Saat itu pelatihannya mulai dari manajamen perusahaan hingga bagaimana belajar digital marketing dengan memanfaatkan website dan media sosial (medsos). Rohimah mengaku sempat khawatir karena disuruh mengetik sendiri dan menyusun kata-kata promosi. “Sebuah pengalaman pertama kali berinteraksi dengan komputer,” kenangnya sambil tersenyum.
Dengan intens menggunakan promosi dunia maya, maka bisnis Rohimah kian meluas baik di dalam maupun ke luar negeri. Rohimah mengaku hanya menuliskan komposisi, nomor handphone dan menyebutkan nama produk Sapu Glagah pabrik. Purbalingga.
Pernah ditipu konsumen
Saat sedang mulai berkembang, ujian datang menghampiri Rohimah. Di akhir tahun 2008, ia kedatangan pembeli asal Taiwan yang meminta Rohimah mengirimkan satu kontainer sapu.
Belum lagi ia membayar pesanan pertama, sudah datang lagi permintaan kedua sebanyak satu kontainer berikutnya. Alhasil, sudah ada dua pengiriman ke Taiwan. Malangnya, Rohimah kehilangan kontak dengan sang pembeli.
“Total nilai mencapai Rp 1 miliar,” ujar wanita kelahiran tahun 1980 itu.
Saat itu kondisi Rohimah betul-betul terpuruk. Ia sama sekali tidak pernah berpikir ada orang yang berniatan buruk terhadap bisnisnya.
Rohimah bahkan harus menjual sebagian besar asetnya mengingat ia harus membayar utang bahan baku kepada pengepul di Purbalingga. Kalau tidak memiliki mental yang kuat, nampaknya kedua pasangan suami istri ini tidak akan mampu bangkit.\
Untungnya, Rohimah dan suami punya mental sekuat baja. Mereka kembali memperbaiki sistem bisnis terutama mempelajari jenis-jenis perjanjian seperti Memorandum of Understanding (MoU), invoice dan berbagai jenis kelengkapan teknis lainnya.
“Hikmahnya adalah memang sistem usaha kami masih terus harus diperbaiki,” ujarnya.
Dengan cepat, Rohimah mampu bangkit dari keterpurukan. Bahkan produk sapu mereka kian masif terjual di berbagai Negara, mulai dari India, Korea Selatan, Pakistan dan beberapa negara Asia lainnya.
Sebagai gambaran, kini dalam sebulan ia mampu menjual hingga 2.000 batang sapu di dalam negeri dengan harga mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 25.000. Sedangkan penjualan ke luar negeri minimal 60.000 batang tiap bulannya.
Untuk kebutuhan produksi, ia bersyukur memiliki lahan luas di dekat rumahnya. Alhasil, Rohimah menyulap tanah di dekat sebelah rumahnya menjadi pabrik.
Selain memang punya sendiri, ada alasan lain mengapa Rohimah memilih membuat pabrik dekat dengan rumahnya. “Agar proses quality control lebih mudah,” ujarnya.
la mengaku pernah sebelumya membuat tempat produksi yang jauh dari tempat tinggal. Hasilnya ernyata tidak efisien. Rohimah kini sudah memiliki 120 rang karyawan yang mayoritas warga asli desanya.
Rohimah mengaku, menenapkan sistem hybrid antara kekeluargaan dan profesionalisme dalam mengelola karyawannya. Di satu sisi mereka merasa kerja di rumah sendiri, namun di sisi lain harus berusaha mencapai target produksi.
Tak terkendala pandemi
Kondisi pandemi korona yang hadir sejak tahun lalu membuat sebagian besar pelaku usaha terguncang. Pemasaran produk turun tajam, sehingga sampai merumahkan dan melakukan pemecatan terhadap karyawan.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi Rohimah. Justru di masa awal pandemi meruyak di Indonesia, mereka semakin meningkatkan volume penjualan ke luar negeri.
Misalnya, Maret sampai Agustus 2020, CV Rayung Pelangi mengekspor satu kontainer, kemudian meningkat lagi sejak September dengan penambahan dua kontainer ke Korea Selatan. Sedangkan ekspor lainnya sebanyak dua kontainer ke Pakistan.
Sumber: Kontan. 6-12 Desember 2021. Hal. 16

