Bisnis untuk Sejahterakan Petani. Kompas. 25 Juli 2016. Hal.16

ALDRIAN IRVAN KOLONAS

Lahir: Singapura, 6 februari 1988

Pekerjaan : CEO Vasham Kosa sejahtera

Pendidikan: Econoic and Political science, university of southern California,AS

Saya tidak ingin mendorong revolusi. Saya Cuma ingin petani dapat menghaslkan lebih baik,” ujar Aldrian Irvan Kolonas (28) dalam perbincangnan santai diselah-selah konferensi wirausaha social Asia yang digelar DBS foundation di singapura, 15-17.

Oleh kris Radianto Mada

Irvan-begitu pemuda itu disapa- tekun membaca pemikiran-pemikiran Mao Zedong, tokoh komunitas asal Tiongkok. Minat itu tumbuh terutama saat dia belajar ilmu politik di economic and political science, University  of Southern Califonia, Amerika Serikat.

Dia teropsesi untuk mendorong perubahan sosial dalam kehidupan nyata. Meski kuliah politik, impian itu tidak dijalankan lewat jalur politik melainkan melalui jalur ekonomi kerakyatan.

Dengan bendera Vasham Kosa Sejahtera yang didirikan pada 2013, kini pemuda itu bermitra dengan 7.000 petani jagung dilampung dan jawa Tengah. Dalam lima tahun kedepan, dia ingin memperluas kemitraannya dengan 200.000 petani.

Vasham adalah salah satu lembaga usaha sosia Indonesia yang mendapat banyak pengakuan secara global. Salah satunya berbentuk investasi 2,5 juta dollar AS dari lembaga investasi asing. Usaha social menerapkan prinsip dan tata kelola usaha profesional. Namun, alih-alih keuntungan, tujuan utamanya adalah untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan social.

Keluarga saya belum sepenuhnya setuju dengan pilihan ini. Ayah saya bilang, cari uang susah dan saya malah cari cara paling susah untuk mendapat uang,” tutur Irvan.

Komentar itu terucap saat dia memutuskan keluar dari bisnis keluarga. Selain di bisnis pakan ternak, keluarga Kolonas juga punya rekam jejak panjang dibidang investasi, Portofolio keluarga juga tercatat diberbagai lembaga.

“lulus kuliah, saya kerja diperusahaan keluarga,’’ ujar pemuda yang mencurahkan enam hari per pecan untuk Vasham kosa sejahtera itu.

Di rumah petani

            Kisa Muhammad Yunus yang sukses membangun Grameen Bank di Banglades memberi inspirasi untuk membantu orang lain melalui jalur bisnis. Irvan mulai mewujudkan keinginan itu selepas mengikuti Innovative Dynamic Edukation and Action for Sustainabiliy ( IDEAS) Indonesia pada 2012. Setiap peserta IDEAS Indonesia diminta merancang program untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

Dari diskusi dengan keluarga, diputuskan dia akan membantu petani jagung. Pilihan itu karena jagung akrab dengan bisnis pekan ternak yang digeluti keluarganya. Alasan lain petani di Indonesia paling banyak mesuk  kelompok masyarakan yang perlu diperbaiki taraf kesejahteraannya.

Pilihan itu tidak mudah karena tak tahu soal petani. Untuk menggali lebih dalam, ia memutuskan berangkat kelampung dan tingggal dirumah petani disana. Lampung dipilih karena mudah dijangkau dari Jakarta, tempat Irvan dan keluarga tinggal.”waktu itu, saya enggak betah tinggal dirumah petani. Tetapi, saya harus lakukan agar tahu apa yang dibutuhkan,” kenangnya.

Dia mengambil kehidupan petani dan berbincang dengan mereka. Tenyata, ada beberapa fakta yang tidak mengenakkan,.” Petani tergantung kepada tengkulak karena itulah pilihan paling rasional untuk mereka. Tengkulak yang biasa hadir paling dekat dengan petani. Walau menawarkan harga rendah petani tetap memilih menjual kepada tengkulak,” katanya.

Ada serangkaian asumsi lain yang tidak tepat sehingga berbagai program perbaikan taraf hidup petani tidak sesuai target. Salah satunya, program kelompok tani.”masalahnya, kelompok tani dibuat berdasarkan desa. Lahan anggotanya tidak tergabung dalam satu hamparan bersama. Anggota  satu lagi lahannya disini. Anggota satu lagi lahannya ditempat lain,”tuturnya.

Kondisi itu menyulitkan mekanisasi dan ekstensifikasi petanian. Tidak efisien jjika menyewa traktor untuk menggarap 0,5 hektar lahan diujung desa, lalu dipindahkan keujung lainnya,” karena itu, saya bikin pendekatan kelompok tani berbasis hamparan. Mereka bisa bekerja sama untuk menggarap lahan dalam satu hamparan sekaligus,”kata Irvan.

Setelah ada kelompok tani dan lahan jelas, pemudah itu juga menemui sejumlah pihak untuk mendapatkan bibit, pupuk, dan berbagai kebutuhan pertanian lain. Pemeliknya adalah kelompok tani yang bermitra  dengan Vasham kosa sejahtera.” Vasham tidak bisa membeli pupuk subsidi, petani yang berhak,” ujarnya.

Investasi dan rugi

            melalui Vasham, Irvan membeli hasil panen para mitranya. Kini, setiap hektar lahan di Lampung dan Jawa Tengah menghasilkan rata-rata 10 ton jagung per tahun.” Kami sudah survey, penghasilan mitra sudah naik 30 persen dibandingkan dengan sebelum kemitraan dimulai,” ujarnya.

Kenaikan pendapatan iti karena Vasham  menawarkan harga lebih tinggi ketimbang tengkulak. Dengan 350 anggota staf di lapangan, Vasham bisa memutuskan rantai pembelian.” Salah satu penyebab petani menerima harga rendah dan pembeli akhir membayar harga tinggi karena karena rantai distribusi terlalu panjang. Vasham berusaham memangkas itu,”tuturnya.

Sementara pekerja Vasham karyawan tetap. Itu menghabiskan biaya besar. Belum lagi dana untuk membangun sitem di perusahaan. “ kami menghitung kerugian sampai 2018. Biaya tetap dan investasi awal baru bisa tertutupi setelah itu,” katanya

Untuk menutup biaya perusahaan Vasham, antara lain, mengandalkan investasi. Selain 2,5 juta dollar AS yang sudah diperoleh, Vasham juga masih membidik investor lain.” Vasham memang punya misi social tetapi dikelolah secara professional. Investor melihat rencana bisnis kami jelas dan dampak sosialnya besar, jadi mereka mau invetasi ,”ujarnya.

Irvan menuturkan, banyak lembaga investasi dengan dana miliaran dollar AS yang khusus menanamkan modal ke lembaga usaha social. Lembaga-lembaga investasi itu biasanya mencari perusahaan yang bisa menerima investasi minimal 500.000 dollar AS” mereka ingin dananya benar-benar membawa manfaat kemasyarakat. Selain itu karna alasan efisiensi “tuturnya.

Di Indonesia, banyak lembaga usaha social yang belum mencapai skala itu, bahkan kurang dikelolah layaknya perusahaan. Kendala itu itu tidak bisa diselesaikan jika hanya mengharapkan proseur alamiah. Harus ada campur tangan pihak lain untuk membesarkan usaha sosial sehingga layak menerima suntikan modal lebih besar.

“Sekarang saya sedang bombing tiga wirausaha sosial agar bisa mencapai taraf layak invests,”ujarnya.

Diselah mengelolah Vasham, Irvan menyempatkan diri menonton televise dan film bioskop. Ia suka menonton apa saja. “saat menonton, rasanya semua lepas. Saya Cuma focus ke yang dilayar. Kalau John Snow ( salah satu tokoh dalam serial televisi Game of Thrones) sudah dilayar saya bisa lupa semua,” katanya.

Sumber: Kompas.-25-Juli-2016.-Hal.162