SURABAYA – Komunitas Pernak pernik Surabaya Lama (PSL) memang tak pernah vakum blusukan. Itulah agenda khas komunitas setiap sebulan. Yakni, mengunjungi gedung atau bangunan lawas, peninggalan sejarah, maupun cagar budaya, terutama di Surabaya Raya.

“Bahkan, selama pandemi, kami tetap konsisten blusukan. Tapi, yang berangkat hanya dua orang. Namun, dengan format dua orang itu, gerak justru lebih cepat. Informasi dan dokumentasi yang bisa digali juga lebih banyak,” ujar Chrisyandi Tri Kartika, salah satu penonton komunitas.

Nah, beberapa bulan terakhir ini mereka mulai blusukan ramai-ramai lagi. Misalnya kemarin (10/7) sekitar 15 anggota PSL mengunjungi dua gedung yang berdampingan di kawasan Taman Bungkul Yaitu, Gereja Katolik Bebas dan Sanggar Penerangan Persatuan Warga Teosofi Indonesia (Perwatin) Surabaya. Di gereja, mereka langsung ditemani beberapa anggota majelis dan pengurus gereja untuk menapaktulitasi sisi-sisi kesejarahan dari bangunan gereja.

“Banyak yang bisa dikulik atau digali anggota PSL. Misalnya beberapa aturan riil dari Gereja Katolik Bebas yang tidak sama dengan gereja Katolik di Roma meski liturginya hampir sama,” ungkap lelaki yang juga pustakawan di Universitas Ciputra (UC) itu. Mereka pun bisa paham mengenai penetapan gereja sebagai cagar budaya.

Sementara itu, di Perwatin, para anggota terkagum-kagum karena menyadari bahwa ternyata tadi Surabaya tumbuh sisi religius serta pengetahuan tentang alam dan ketuhanan yang terbilang beragam sejak tempo dulu. Mereka juga belajar tentang simbol-simbol khas Perwatin.