Bencana erupsi Gunung Merapi enam tahun lalu menyisakan rasa prihatin di hati Boy T Harjanto (42), fotografer dari Yogyakarta. Ia berempati kepada para korban erupsi Merapi yang berusaha bangkit kembali. Ia pun memamfaatkan foto-foto yang pernah dibuatnya demi membantu korban untuk segera berdiri.
OLEH ALOYSIUS B KURNIAWAN
Embun pagi masih menyelimuti rerimbunan rumput gajah di lereng Merapi sisi selatan akhir Desember 2011 silam. Dari jauh tampah sesosok laki-laki berambut gondrong mengendarai sepeda motor butut sembari mengapit sebuah kardus besar. Sampai di dekat rumah almarhum Mbah Maridja, juru kunci Merapi, di kinahrejo, Cangkringan, Sleman lelaki itu membuka kardus berisi tumpukan buku. Buku-buku itu ia bagikan kepada warga disana.
Itulah keseharian Boy T Harjono setahun setelah erupi Merapi hingga saat ini. disela kesibukannya sebagai fotografer lepas, Boy menyempatkan diri membuat buku fotografi, mengedit, dan menerbitkannya secara mandiri. Buku-buku tersebut ia berikan kepada warga untuk dijual kepada wisatawan di kawasan wisata erupsi Merapi. Hasil penjualan buku ia serahkan seluruhnya kepada korban erupsi Merapi di tujuh Desa di Kecamatan Cangkringan, Sleman.
Boy tergerak membantu warga di sekitar lereng Merapi karena ia merasa punya kedekatan dengan mereka. Sebagai fotografer lepas yang bekerja untuk media dalam dan luar negeri, Boy tekun mengabadikan momen-momen menjelang erupsi, saat erupsi, hingga setelah erupsi Merapi pada 2010.
Setelah bencana berakhir, setiap hari ia berjumpa dengan warga korban erupsi Merapi yang terpuruk lantaran tak bisa lagi bertani. Hampir semua kebun yang mereka miliki saat itu rusak disapu abu Merapi. Masa depan buat mereka tampak segelap debu Merapi.
Agar tetap hidup mereka berusaha apa saja. Ada yang mencari uang menjadi pemandu wisata bencana, ada yang jualan apa saja kepada wisatawan. Di antara mereka, banyak yang menjajakan foto-foto bencana Merapi atau video erupsi yang mereka unduh di Internet. Agar wisatawan tertarik, mereka menceritakan kisah-kisah tragis dibalik foto-foto tersebut.
MELIHAT HAL ITU, Boy mendapat ide untuk membantu mereka. “saya pikir mengapa mereka tidak menjual buku tentang erupsi Merapi?” kata Boy, Selasa (8/11), di Yogyakarta.
Ia segera mengumpulkan koleksi foto-foto jepretannya. Kemudian, ia mulai menyusun dan mendesain sebisanya menjadi buku. Dengan miodal Rp 7,5 juta, ia mencetak 500 kopi buku fotografi di percetakan milik temannya. Maka, terbitlah buku edisi pertama berjudul “Merapi 120 FPS (Frame Per Second).
“Buku-buku itu saya berikan semua secara gratis kepada warga Merapi di shelter-shelter (tempat pengungsian sementara). Mereka bebas menjualnya dengan harga berapa pun. Saya tidfak memungut uang sama sekali dari penjaulan buku itu.,” ungkapnya.
PULUHAN RIBU
Hanya dalam tempo tiga bulan, buku edisi pertama ludes terjual. Warga Lereng Merapi kemudian meminta Boy untuk mencetak ulang. Maret 2012, Boy akhirnya mencetak ulang buku tersebut sebanyak 1.000 kopi dengan biaya Rp. 10 juta. Sama seperti cetakan pertama, hanya dalam waktu tiga bulan buku itu habis terjual. Pada cetakan kedua ini, sebagai ucapan terimakasih, sebagian warga berinisiatif memberikan restoran sukarela sebesar Rp. 7.500 per buku kepada Boy.
Dengan menyerahkan uang Rp 7.500 per buku, warga masih mengantongi keuntungan hingga Rp 42.00 per buku karena setiap buku dijual rata-rata Rp. 50.000 kepada wisatawan. Meskipun uang setoran itu masih dibawah biaya produksi per buku., yaitu Rp 10.000, Boy tak mempermasalahkannya. Bahkan, pada Juni 2012, ia kembali mencetak satu judul buku baru berjudul Merapi Vulcano sebanyak 1.000 kopi.
Respons warga lereng Merapi dan wisatawan terhadap buku-buku fotografi Boy tergolong luar biasa. Pada tahun kedua, dua judul bukunya telah tercetak 8.500 kopi. Karena laku keras, warga pun mulai menaikkan uang setoran menjadi Rp. 10.000 per buku, sebagian ada yang berani Rp. 15.000 per buku.
Tahun demi tahun berjalan dan tetap saja Boy tak pernah membanderol harga tetap untuk buku-bukunya. Ia pun masih mengeluarkan uang dari koceknya sendiri setiap mencetak ulang buku-bukunya. Uang itu ia peroleh dari honornya sebagai fotografer lepas dan hadiah dari beberapa perlombaan foto yang ia menangi. Sejauh ini, Boy telah menyusun dan menerbitkan delapan judul buku, yakni Merapi 120 FPS, Merapi Vulcano, Erupsi Merapi, Kelud, Mount Merapi, dan fotografi Boy telah dicetak sebanyak 28.500 kopi. Sebanyak 25.000 kopi diantaranya telah terjual.
Dengan estimasi harga per buku Rp 50.000, uang hasil penjualan buku yang dijajakan para korban erupsi Merapi bersama sang fotografer ini sekitar Rp. 1,25 miliar. Boy sama sekali tidak mengira jika usahanya membuat buku fotografi akan menghasilkan pendapatan sebesar itu. Apalagi, uang hasil penjualan buku bisa dinikmati hampir seluruhnya oleh ratusan warga di tujuh desa di Kecamatan Cangkringan, Sleman, meliputi Kinahrejo, Petung, Ngrangkah, Pangukrejo, Kopeng, Jambu dan kaliadem.
BANYAK PRESTASI
Di dunia fotografi jurnalistik Indonesia, nama Boy T Harjanto sudah tidak asing lagi. Pada 2009, lelaki kelahiran Solo ini menyabet dua penghargaan jurnalistik bergengsi sekaligus, yaitu Mochtar Lubis Award dan MH Thamrin Award. Ia juga pernah meraih medali perunggu dan medali emas dari WAN-IFRA, asosiasi surat kabar dan penerbit dunia, pada 2011 dan 2012.
Selain penghargaan-penghargaan bergengsi tersebut, boy juga puluhan kali mennag dalam aneka macam lomba foto jurnalistik. Sejak akhir 2009, Boy yang pernah bekerja di Jakarta selama enam tahun akhirnya memutuskan Hujarah ke Yogyakarta, tepat saat aktivitas vulkanik Gunung Merapi mulai berholak, sebelum akhirnya meletus dengan dasyat pada Oktober dan November 2010. Sejak saat itu, hatinya tertambat di Merapi dan dekat secara emosional dengan warga sekitar.
Bagi sebagian warga di lereng Merapi, Boy mungkin lagi bukan sekedar sesosok fotografer yang setia mengabadikan aktivitas Merapi, melainkan seorang pahlawan yang menyokong kehidupan mereka sehari-hari.
SUMBER : KOMPAS, KAMIS 17 NOVEMBER 2016

