
Berawal dari kesulitan dalam mendapatkan makanan sehat namun cepat saji usai melakukan olahraga fitness, Putu Depi akhirnya mencoba berkolaborasi bersama rekannya Desi untuk membuka layanan katering sehat berkonsep eat clean.
“Banyak yang kesulitan mencari makan sehat. Saya pikir apa gunanya berolahraga tetapi setelah itu diisi kembali dengan yang tidak sehat,” ujar Depi.
Menurut dia, makanan sehat sebenarnya tidak sulit untuk dibuat hanya perlu menyederhanakan proses dan mengurangi bahan tambahan dalam makanan tersebut. Sayangnya, masih belum banyak yang sadar akan pentingnya makanan yang sehat.
Dalam sebulan Depi melalui katering Tom’s Kitchen atau akun @tomskitchen17 bisa melayani hingga 40 pelanggan dalam satu bulan. Biasanya, banyak sedikitnya peserta katering tergantung dari momen tertentu.
Dicontohkan, biasanya, peserta katering sehat pada masa Lebaran dan Tahun Baru akan berkurang. Namun, setelah itu peminat katering bisa meningkat cukup signifikan.
Tom’s Kitchen berbeda dengan katering sehat lainnya, karena pelanggan bisa bebas memilih satu dari tiga menu yang disiapkan. Hal itu dilakukan untuk mengurangi kebosanan pelanggan terhadap menu-menu tertentu yang kerap menjadi momok ketika berlangganan katering.
Setiap harinya, Depi menyediakan dua kali pengantaran yaitu untuk makan siang dan malam. Untuk menu makan siang diantarkan mulai pukul 11.00 WIB dan santap makan malam mulai pukul 16.00 WIB.
Bagi yang sekedar ingin mencoba menu makanan sehat yang ditawarkan, bisa mencoba katering harian, yang artinya tidak perlu terikat dalam jangka waktu tertentu.
Untuk satu paket menu makan siang atau makan malam dibanderol Depi dengan harga Rp. 35.000 per boks. Harga tersebut sudah termasuk biaya untuk pengantaran seputar wilayah Kota Mataram dan Lombok Barat.
Agar tidak bosan, Depi kerap meminta masukan menu apa yang ingin disantap oleh pelanggan. Masukan dari pelangga tersebut diolah dan dimodifikasi olehnya agar tetap masuk dalam konsep makanan sehat.
“Saya pernah buat semacam ayam taliwang. Sebisa mungkin rasa dan aromanya dibuat mirip. Namun, memang untuk makanan sehat butuh effort yang besar, apalagi kalau harus mencari alternatif bahan pengganti seperti santan,” ujar Depi.
Dalam menjalankan bisnis katering sehat ini, Depi enggan disebut sebagai katering diet. Menurutnya, menjaga pola makan saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup untuk menurunkan berat badan.
Tak jarang, Depi mendapatkan pelanggan yang berekspektasi tinggi untuk mendapatkan berat badan ideal hanya dengan beberapa hari mengikuti katering sehat.
Sama seperti di kota besar, peluang dalam menjalankan bisnis ini dinilai masih terbuka lebar di Mataram. Pasalnya, banyak orang membutuhkan makanan untuk hidup sehat. Sayangnya, hal tersebut masih belum diimbangi dengan kesadaran masyarakat.
“Banyak yang mau hidup sehat, tapi banyak yang malas untuk mengolah. Maunya yang cepat, instan. Jadi kami mencoba menggarap peluang pasar ini. Kebetulan di Mataram belum banyak katering yang menggunakan konsep seperti ini,” ujar Depi.
Selain itu, diet dan menjaga pola makan sehat merupakan dua hal yang berbeda. Dalam menjalankan pola makan sehat, menurut Depi tidak perlu harus menghilangkan unsur dalam makanan seperti garam atau gula. Dua unsur tersebut tetap dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja takarannya yang harus dibatasi sehingga tidak berlebihan.
Depi menargetkan, dalam beberapa tahun mendatang Tom’s Kitchen akan membuka gerai makanan sehat dengan konsep eat clean. Rencananya, gerai tersebut akan dibuka dekat dengan tempat berolahraga yang ada di Mataram. Hal tersebut untuk memudahkan masyarakat dalam mencari makanan sehat dengan harga yang relatif murah.
Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.5
