Mengeskpresikan Budaya Lokal agar Kekinian

27 Agustus 2024. Hal. 15

Tiga dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra mengeksplorasi hasil kerajinan masyarakat di Kepulauan Samosir Danau Toba. Budaya lokal itu diolah sedemikian rupa hingga menjadi produk fashion dan produk interior design. Produk fashion sudah dipamerkan di Surabaya Fashion Parade beberapa waktu lalu.

SELAMA lima hari, tiga riset Universitas Ciputra (UC) menyelami hasil kerajinan masyarakat Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan. Selain terkenal dengan pariwisatanya, desa yang berada di kawasan kepulauan Samosir itu juga dikenal dengan kerajinannya. Salah satunya adalah hasil tenunnya.

Dosen-dosen itu adalah Astrid Kusumowidagdo, Enrico Ho, dan Melania Rahadiyanti. Mereka mencoba mengangkat kekuatan lokal itu menjadi karya yang lebih global. Desa tersebut dipilih karena ingin melanjutkan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Astrid.

Namun, kali ini hasil dari penelitian sangat berbeda. Enrico yang merupakan seorang fashion designer membuat produk-produk fashion. Sedangkan Astrid dan Melania merancang produk interior, display, hingga pelengkap lifestyle.

Karya fashion yang digarap Enrico pun telah ditampilkan dalam ajang Surabaya Fashion Parafe (SFP) beberapa hari yang lalu. Di mana, lewat karya fashion tersebut, dirinya mengangkat motifu kiran yang ada di rumah-rumah adat di sana ke dalam karya fashion-nya. “Dan ini pun berhasil menarik perhatian dari masyarakat yang datang ke show kemarin. Banyak yang tanya dan akhirnya tahu kalau ukiran-ukiran itu menjadi salah satu ciri khas rumah di desa tersebut,” jelas Enrico kemarin (26/8).

Sementara itu, Astrid, ketua penelitian, mengungkapkan bahwa tujuan utama riset tersebut adalah meningkatkan peran penting produk dari industri kreatif untuk bisa semakin mengenalkan produk lokal secara global. “Kita mengeksplorasi desain arsitektur, interior, serta produk fashion dan lifestyle yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan sense of place pada destinasi pariwisata,” paparnya.

Timnya berfokus bisa mengekspresikan busaya lokal tapi dengan konsep yang bisa diterima oleh masyarakat saat ini. Di mana hal itu diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk melestarikan warisan dan identitas budaya, serta mempromosikan pariwisata.

Enrico menambahkan bahwa karya yang mereka buat pun sebenarnya tidak hanya untuk mengedukasi masyarakat yang belum tahu akan budaya di sana. Tapi juga untuk mengedukasi masyarakat hingga perajin di desa itu sendiri. Selama riset, mereka menemukan para perajinnya memang sudah berumur. Motif-motif yang dibuat pun selalu mengulang motif yang sudah ada.

“Bukan berarti pakem maupun budaya yang kental harus dihilangkan, tapi harapannya bisa memberikan inovasi lain yang bisa lebih mengglobal,” sambungnya.

Di sisi lain, selain karya fashion, Astrid dan Melani membuat karya berupa produk interior hingga barang-barang pelengkap fashion. Seperti sarung bantal, sepatu, aksesori, hingga handbag. Karya-karya tersebut tetap dibuat dengan menggambarkan kearifan lokal disana. Di mana produk-produk itu akan dibawa ke festival Hidato Hutaraja di desa tersebut pada 2 November 2024 mendatang. (ama/cl7/jun)