Chef Sepsi, Dosen Universitas Ciputra Meramu Muffin Plus Kunyit

Bagi-bagikan Kue Racikan kepada Pegawai Puskesmas di Sekitar Kampus

oleh : Dimas Nur Apriyanto, Jawa Pos

Sebanyak 450 muffin berbahan kunyit serta cokelat  dan 450 kue keju dibagikan Universitas Ciputra (UC) ke puskesmas sekitar kampus. Ada nama Prasetyon Sepsi di balik semua itu. Butuh beberapa kali trial and error sebelum menemukan rasa yang yahud.

BEBERAPA kali jemari tangan kanan Prasetyon Sepsi mencubit adonan kue kejunya. Sesekali, dia menepuk-nepuk adonan berwarna kuning tersebut. Lalu, mendekatkan adonan ke matanya. “Sempurna,” katanya beberapa waktu lalu di Laboratorium Culinary UC. Sedikit tepung terigu dijumput dan ditaburkan dari atas adonan secara merata

Bagi-bagikan Kue Racikan kepada Pegawai Puskesmas di Sekitar Kampus

Sambungan dari hal 13

Tujuannya, adonan tidak lengketTujuannya,adonan tidak lengket. Dia kembali menemukan adonannya perlahan. Pria yang akrab disapa Sepsi tersebui harus cekatan. Sebab, sesekali mengawasi pembuatan muffin juga. Ruang pembuatan muffin dengan kue keju terpisah, tetapi bersebelahan. Untuk membuat muffin dan kue keju itu, dia dibantu delapan orang.

Sesekali, dia berjalan ke ruang pembuatan muffin. Kemudian, dia kembah ke ruang adonan kue keju. Dia mengatakan, muffin hampir beres. Bahan kunyit sudah dicarnpur dengan cokelat. “Tinggal baked saja,” jelasnya.

Beberapa menit kemudian, azoma wangl tercium dari ruang baked muffin. Muffin kunyit Cokelat dipindahkan dari oven, lantas diangin-anginkan. Jawa Pos berkesempatan mencicipi muffin yang telah matang. Rasa kunyit dalam muffin tidak terasa.

Setelah tidak lagi panas, muffin dimasukkan ke dalam kardus. Muffin dan kue keju itu dibagikan kepada tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas sekitar Universitas Ciputa. Salah satunya Puskesmas Made, Kecamatan Sambikerep. “Kami berharap, kue yang dibagikan bisa membantu daya tahan tubuh nakes tetap kuat,” tutur chef 63 tahun.

Sepsi menjelaskan, kunyit bermanfaat meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Curcumin yang terdapat di dalam kunyit menjadi salah satu zat antioksidan yang kuat. Zat tersebut mampu mencegah radikal bebas.

Muffin berbahan cokelat dan kunyit bisa menjadi opsi bagi masyarakat untuk mengonsumsi rempah dalam bentuk lain. Rempah tak melulu dibuat minuman. Jamu misalnya. Bagi Sepsi, tidak mudah menemukan formula resep kue muffin berbahan kunyit, lalu dipadukan dengan cokelat. Apalagi, hal itu merupakan pergalaman pertama untuk pria kelahiran Bojonegoro tersebut. Dibutuhkan empat kali percobaan untuk menemukan resep yang pas. Yakni, rasa kunyit yang tidak mendominasi dengan porsi pas. “Sebelum ini, saya pernah membuat produk bakery dengan rempan-rempah juga,tapi bukan kunyit,” terangnya.

Menurut ayah tiga anak itu, basic recipe merupakan hal yang perlu dipahami. Sebab, hal tersebut menjadi fondasi untuk memodifikasi resep. Kemudian, resep yang telah dimodifikasi itu mulai diujicobakan beberapa kali dengan tambahan bahan retnpah tersebut. Prosesnya diperas, lantas dicampur dengan bahan yang lain mau dikeringkan dan dicampur dengan bahan yang sama.

Kunyit yang digunakan Sepsi berbentuk bubuk. Bukan tanpa sebab. Dia mengungkapkan, kunyit bubuk lebih mudah tercampur dengan adonan cokelat. Saat ditanya apa kesulitan dalam membuat muffin kunyit cokelat dan kue keju, Sepsi hanya tersenyum.

Dia mengatakan, tidak ada hal yang sulit untuk mencoba resep baru tersebut. Menurut dia, hanya perlu ketelitian dan kesabaran. “Menjadi chef itu harus punya sabar yang panjang” ujarnya.

Sepsi berharap produk bakery berbahan tambahan rempah dapat diterima oleh pasar. Scbab, bisa saja di kemudian hari, produk tersebut dikemas menjadi sebuah bisnis. “Kami akan teliti lebih lanjut produk bakery berbahan rempah untuk dapat dipadukan dengan bahan yang cocok Sehingga bisa menghasikan produk yang standar serta dapat dinikmati oleh masyarakat.” jelasnya.

Sepsi terjun di bidang akademi culinary sejak 20 tahun lalu. Karir dosen pertarnanya dimulai di UK Petra.”Tahun 2000 jadi dosen di UK Petra, lalu 2006 pindah ke UC sarnpai sekarang,” ucapnya. Jauh sebelum menjadi dosen, Sepsi mengepakkan sayapnya di dunia masak-memasak. Bahkan, dia hampir berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Brunei Darussalam. Dengan tertawa, Sepsi mengingat kembali kenangan tersebut.

Dia mengungkapkan, waktu itu ada meeting para menteri seluruh Asia di Kerajaan Brunei Darussalam pada 1989. Sepsi menuturkan, banyak temannya yang ditugaskan (task force) oleh manajemen salah satu hotel tempatnya bekerja untuk membantu di Istana Bolkiah, Brunei Darussalam. Sepsi bertugas membuat croissont. Dia menjalaninya dengan senang hati. “Saya suka membuat croissant. Produk andalan yang rnengantar saya setiap hari di lstana Bolkiah,” terangnya.

Chef yang berulang tahun setiap 24 Februari itu iseng bertanya kepada tim manajemen di Bolkiah. Apakah ada lowongan di Bolkiah. Tak diduga, ternyata ada lowongan. Mereka bilang dengan senang hati mau menerima Sepsi. “Saya hampir menjadi warga negara Brunei dan ada beberapa teman yang tidak mau pulang sampai saat.” ujarnya.

Sepsi memiliki mimpi untuk memanfaatkan pangan fungsional yang ada di lndonesia. Hal itu bertujuan untuk menciptakan sesuatu yang berkaitan dengan produk bakery. Dengan begitu, kata dia, produk pertanian Indonesia dapat bersaing.

Secara terpisah, Ketua Program Studi Bisnis Kuliner Fakultas Pariwisata Moses Soediro menilai Sepsi sebagai dosen memiliki kepedulian sosial yang cukup tinggi dan etos kerja yang baik. Sepsi juga sangat sabar. “Selain itu, Pak Sepsi merupakan dosen yang selalu mau belajar hal baru,” terangnya. (*/e6/git)

 

 

Sumber : Jawa Pos, 2 Mei 2020 | Hal 13,23