Oleh Meisia Chandra (Head of Accounts and Consulting , Storms Benefit Indonesia)

Seorang teman menceritakan tentang tempat kerjanya dengan tingkat turnover yang sangat tinggi. Hampir setiap bulan ada yang resign, terkadang tidak hanya satu, tetapi beberapa. Bulan ini pun giliran dia sendiri yang tidak tahan. Apa pasal?

 

Setelah dia bercerita panjang tentang apa yang terjadi, saya pun kemudian dapat mengambil kesimpulan bahwa tingginya tikat turnover disebabkan oleh rendahnya budaya menghargai (recognition). Banyak yang merasa, pekerjaan dan kontribusinya selama ini “tidak dianggap”, “begitu saja dilupakan”, “nothing”, mengutip kata-kata teman saya. Sebaliknya, budaya menghukumlah yang terasa lebih dominan. Karyawan selalu ditekan untuk mencapai target, dituntut untuk terus memberikan lebih banyak, dan mengikut aturan yang dibuat perusahaan. Kemudian, apabila tidak tercapai atau karyawan gagal memenuhi aturan, hukumannya tidak tanggung-tanggung: potong gaji, atau ada yang diturunkan jabatannya.

Kondisi ini tentu menciptakan suasana yang menakutkan, stressful. Dalam kondisi seperti ini, karyawan akan memberikan kontribusi seadanya sesuai tuntutan, dan tidak akan banyak berinovasi. Perusahaan kehilangan kreativitas dan produktivitas karyawan, belum lagi kerugian karena turnover yang tinggi.

 

Pentingnya Recognition

Cerita di atas mengingatkan saya pada buku The Carrot Principle, sebuah buku tentang pentingnya recognition di tempat kerja. Buku ini merupakan hasil salah satu studi manajemen paling mendalam, melibatkan hampir 200 ribu responden dalam kurun waktu sepuluh tahun. Studi ini menemukan bahwa karakter paling sentral dari seorang manajer yang sukses adalah mereka sering memberikan recognition yang efektif pada karyawan mereka. Produktivitas karyawan meningkat tajam ketika para manajer mengambil waktu memberikan pujian konstruktif, atau apresiasi yang bermakna, yang mengakui pekerjaan karyawan dan memotivasi mereka.

Studi ini juga menemukan bahwa, sebanyak 79% dari karyawan yang berhenti dari pekerjaan mereka menyebutkan kurangnya apresiasi sebagai alasan mereka berhenti. Survei Watson Wyatt Reward Plan terhadap 614 perusahaan dengan 3,5 juta karyawan total menunjukkan bahwa rata-rata angka turnover perusahaan dengan strategi reward yang jelas hanya memiliki angka tiga belas persen lebih rendah daripada perusahaan yang tidak memiliki strategi reward yang jelas.

Sebagai tambahan, studi Gallup terhadap hampir 5 juta karyawan menunjukkan bahwa meningkatnya recognition dan pujian (praise) di perusahaan dapat menyumbang pada turunnya turnover, meningkatnya angka kepuasan dan loyalitas konsumen, dan meningkatnya produktivitas secara keseluruhan. Data dari departemen tenaga kerja Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa alasan pertama seseorang meninggalkan organisasi tempat ia bekerja adalah “tidak merasa dihargai.”

Riset KPMG yang saya kutip dari buku yang sama menemukan bahwa angka turnover di kalangan karyawan yang menerima award (penghargaan) sama sekali. Pada saat yang sama Watson Wyatt juga menanyakan kepada karyawan mereka apa motivator utama bagi mereka untuk memberikan kinerja baik. Sebanyak 66 persen karyawan menyebut “appreciation”.

 

Budaya Menghargai

Data-data di atas saya hadirkan untuk Anda yang masih menimbang, apakah lebih baik memotivasi karyawan dengan positive reinforcement (memberikan reward), atau dengan negative reinforcement (memberikan hukuman bila tidak memberikan perilaku yang diharapkan). Penelitian telah membuktikan bahwa memberikan budaya yang positif, budaya yang menghargai, di tempat kerja, terbukti memberikan dampak positif bagi perusahaan, seperti meningkatnya produktivitas, meningkatnya kepuasan konsumen, serta menurunkan turnover. Bukan berarti ini melakukan peniadaan hukuman untuk karyawan yang melakukan kesalahan. Namun penting untuk menciptakan budaya menghargai dan budaya positif yang lebih dominan daripada budaya menghukum.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru. Apabila Anda menanyakan hal ini kepada tiga orang manajer, kemungkinan besar ketiganya akan menjawab bahwa recognition itu sangat penting. Tetapi, apakah mereka mempraktikkannya, atau apakah mereka telah mempraktikkannya dengan benar, adalah hal yang berbeda.

Tidak punya waktu, takut dianggap pilih kasih, khawatir karyawan meminta lebih banyak, manajer lain tidak melakukannya, dan khawatir kehilangan makna adalah beberapa alasan seorang manajer tidak memberikan penghargaan kepada karyawan. Sebenarnya, apabila dilakukan dengan baik, pemberian penghargaan tidak akan menciptakan iri hati dan sebagainya seperti yang dikhawatirkan.

Terkadang manajer tidak ingin memberikan penghargaan kepada karyawan karena merasa memang tugas karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapi sebenarnya, penghargaan tidak selalu harus berupa hadiah berupa uang atau barang. Sedikit perhatian saja dari manajer yang menunjukkan bahwa sang manajer mengetahui pekerjaan karyawan, mengetahui bahwa karyawan telah melakukan bagian perannya dengan baik, dapat membuat perbedaan. Karena di dalam organisasi, setiap orang, sekecil apapun perannya, turut menyumbang dalam pencapaian hasil bisnis.

 

Beberapa Tip

Berikut adalah beberapa tip dari Adrian Gostick dan Chester Elton, penulis buku The Carrot Principle: How the Best Managers Use Recognition to Engage Their People, Retain Talent, and Accelerate Performance. Buku ini membahas tentang bagaimana memberikan recognition yang efektif. Ini adalah karakteristik dari pemberian penghargaan yang akan memberikan dampak positif bagi organisasi:

  1. Pemberian recognition yang efektif dilakukan sesering mungkin

Pemberian penghargaan yang dilakukan setahun atau tiga bulan sekali tidak akan efektif untuk memotivasi dan meningkatkan kinerja. Gostick dan Elton merekomendasikan pemberian penghargaan dilakukan seminggu sekali. Namun, saat ini dengan bantuan teknologi digital, manajer dapat memberikan penghargaan yang tepat kepada karyawan dalam basis harian, bahkan secara real-time, di mana setiap karyawan memiliki kesempatan yang sama untuk menerimanya.

 

  1. Recognition yang efektif mencerminkan nilai-nilai organisasi

Banyak organisasi memiliki nilai-nilai yang dihargai, yang seringkali terpampang di dinding-dinging kantor, seperti pelayanan, kerja keras, inovasi, dan sebagainya. Tetapi tak jarang nilai-nilai tersebut hanya menjadi pajangan saja, tidak terlalu dipedulikan dan seringkali dilupakan begitu saja oleh karyawan.

Betapa akan lebih baik bila manajer mendorong munculnya nilai-nilai tersebut dengan pemberian penghargaan. Contoh: seorang manajer menulis thankyou notes kepada karyawannya yang telah memberi usaha ekstra untuk membuat klien senang. Ucapan terima kasih ini dapat dilihat juga oleh semua karyawan karena disampaikan dalam media sosial internal perusahaan. Pemberian penghargaan ini selain menghargai kinerja karyawan juga mengaitkannya dengan salah satu nilai organisasi yaitu pelayanan. Semua karyawan dapat melihat nilai tersebut diterapkan.

 

  1. Recognition yang efektif setara dengan pencapaian

Akan sangat menurunkan motivasi jika karyawan hanya diberi penghargaan kecil untuk pencapaiannya yang besar. Misalnya, atas usaha seorang karyawan yang telah gigih mengerjar sebuah klien yang mendatangkan revenue miliaran kepada perusahaan, karyawan tersebut hanya mendapatkan sebuah voucher makan di restoran seharga Rp50 ribu. Apalagi di saat yang sama ada karyawan lain yang hanya bekerja seadanya dan tidak terlalu berperan juga mendapatkan hadiah yang sama. Hal ini membuat karyawan yang bekerja keras merasa usahanya tidak dihargai.

 

  1. Recognition yang efektif disesuaikan dengan kebutuhan individu

Apa yang penting dan bermakna bagi seseorang bisa saja dianggap tidak bermakna bagi orang lain. Seorang karyawan yang ambisius mungkin akan sangat menghargai kesempatan makan bersama dengan CEO sebagai sebuah penghargaan, tetapi tidak bagi karyawan lain. Bagi karyawan yang sulit mendapatkan kesempatan cuti karena tuntutan pekerjaannya, pemberian cuti bisa jadi akan menjadi penghargaan yang akan sangat bermakna baginya.

Gostick dan Elton juga mengingatkan tentang pemberian reward berupa uang tunai (cash). Kecuali bila jumlah uang sangat substansial, pemberian cash reward biasanya mudah dilupakan karena karyawan cepat menghabiskannya untuk membayar tagihan dan lainnya.

Jadi tunggu apa lagi? Mulailah dari Anda sebagai leader untuk menciptakan budaya menghargai dalam perusahaan.

 

 

 

 

Sumber: Infokomputer, 5 Mei 2017