Jika sudah cinta, alasan jadi nomor dua,” kata Ir (HC) Ciputra, Sabtu (16/8) sore, menanggapi pertanyaan wartawan tentang alasannya mengoleksi lukisan-lukisan Hendra Gunawan, pelukis kelahiran Bandung yang meninggal pada 1983.
Pemimpin Grup Citra itu hadir dalam peresmian Ciputra Artpreneur, kompleks kesenian yang dibangun sejak 2010. Kompelks itu berada di dalam kompelks Ciputra World 1, Jakarta Selatan, yang berlokasi di sentra kawasan bisnis, hotel, dan perdagangan.
Kompleks seni itu diharapkan bisa menjadi tempat pameran seni, pertukarna gagasan atau diskusi, dan pendidikan melalui seni, baik seni tradisional maupun kontemporer.
Mengenakan paduan jas dan celana warna hitam dengan dasi kupu-kupu, lelaki kelahiran tahun 1981 itu antusias menjelaskan Artpreneur dan makna seni bagi kehidupannya. “Kalau Anda marah, pertama kali Anda harus ingat akan Tuhan. Yang kedua, ingat akan lukisan,” kata bapak dua putri dan dua putra ini.
Seni bagi Ciputra adalah darah yang mengalir deras. Bisnis tanpa etika dan seni bagaikan sungai yang kering-kerontang.
Publik pun mengingat, pada 1977, Ciputra membangun Pasar Seni Ancol yang menjadi wadah kreativitas seniman dari berbagai daerah serta menjadi tempat pertemuan seniman, kolektor, dan pengusaha.
“Ini (seni) adalah soal rohani, mental, bukan material. Saya sulit menerangkannya,” kata Ciputra.
Seperti halnya dia menilai bisnis, kepeloporan menjadi tolak ukur yang ia pakai untuk menilai karya Hendra Gunawan.
Ciputra dan Hendra sangat dekat. Mereka saling berkirim surat. Berikut petikan surat Hendra kepada Ciputra pada 1983 yang kini dipajang pada sebuah tiang di galeri Ciputra Artpreneur.
“Pak Cip Yth, walau Pak Cip sudah mahir berenang di baja pijar dan baja dingin, tapi yang tetap kami nilai dari pribadi Pak Cip bukan dollarnya, melainkan manusia seni budaya yang telah pernah mengangkat ratusan belokan kelas ribuan seniman dari neraka kesengsaraan kerja cipta seni. Termasuk saya adalah seniman yang hampir bisa hidup melukis terus dengan makan dari sisa-sisa makanan yang terciprat pada taplak meja makan orang-orang kaya. Ini bukan berarti bahwa karya saya tidak bertingkat jejeran tertinggi di Asia tapi memang pematangan seni saya membutuhkan kepahitan yang paling tidak enak di lapisan bumi closet tingkat Ciliwung. Sendang karya cipta Pak Cip dibutuhkan untuk pencakar lan ke-7. Tapi toh kita bertemu di tempat yang sama. Di Taman Budaya Ancol Jaya.”
“Ada tiga seniman yang memiliki kepeloporan tinggi, yakni Sudjojono, Affandi, dan Hendra Gunawan. Lukisan Hendra saya lihat bagus sekali karena komposisi warna, spontanitas, dan maknanya,” ujarnya.
Ada sekitar 130 lukisan Hendra yang dikoleksi Ciputra.
Putrinya, Rina Ciputra membantu mengumpulkan lukisan itu sejak 1980. (RINI KUSTIASIH).
Sumber : Kompas.18-Agustus-2014

