Tahun 2023 menjadi momen pertumbuhan industri pertunjukan di tanah air pasca
pandemi Covid-19. Band dan musisi pa- pan atas Indonesia merayakan eksistensinya berkarya melintasi generasi dan jaman. God Bless telah berkarya selama 50 tahun, Dewa 19 dan Gigi merayakan 30 tahun, Padi Reborn telah memasuki usia 25 tahun. Perayaan tersebut dikemas dalam serial show di berbagai kota Pertunjukan mereka selalu mengesankan, di- penuhi lautan fans dan penikmat musik.

Coldplay, kelompok musik dari luar negeri juga akan pentas di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada 15 November mendatang. Grup band rock alternatif dengan vokalis dan pianis Chris Martin itu akan memainkan lagu-lagu hitsnya, seperti Fix You, Yellow, The Scientist, Something Just Like This, dalam konser bertajuk “Music of The Spheres World Tour 2023.”

Musisi merupakan profesi yang dengan karakter khasnya menyuarakan nilai-nilai kehidupan melalui syair lagu dan rajutan melodi. Kehadiran musisi beserta karyanya menjadi penghibur, penyemangat dan menambah nilai di kehidupan ini.

Apresiasi pencinta musik akan karya musisi dapat dibuktikan melalui kehadiran mereka dalam konser-konser di tanah air yang kian semarak. Tiket pertunjukan yang dibanderol mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah pada pre-sale maupun reguler selalu terjual
habis (sold out).

Belum lagi ditambah penjualan tiket on the spot. Alhasil, konser menjelma sebagai ruang untuk mendapatkan pemenuhan dahaga atas karya-karya terbaik yang dimainkan dan di- nyanyikan secara langsung.

Potensi bisnis pertunjukan musik juga cukup besar. Leurdijk & Ottilie (2011) menyatakan pendapatan industri musik di seluruh dunia pada tahun 2009-2010 didominasi oleh 3 hal; radio advertising, hasil penjualan ritel, dan hasil pertunjukan/showbiz. Ketiga porsi penghasilan terbesar dalam industri musik tersebut diperkirakan tetap bertahan hingga beberapa tahun mendatang.

Industri pertunjukan merupakan even yang harus didukung oleh pasar pencinta musik di negeri ini, sebagai antitesa maraknya pembajakan yang sulit dibendung di era digitalisasi. Dengan membeli tiket dan datang ke konser, merupakan wujud nasionalisme dalam
industri kreatif. Tak cukup sekadar datang, tetapi menyaksikan pertunjukan dengan tertib dan menghindari anarki.

Pentas musik rock telah mengalami transformasi yang berjalan konsisten dari waktu ke waktu. Nuansa tertib dan kelancaran jalannya konser yang jauh dari anarkisme semakin membuka kesadaran publik bahwa di balik hingar bingar musik cadas itu tersimpan rasa saling menghormati dan mencintai perdamaian. Antar penonton saling menjaga (mengendalikan) diri dan mengingatkan untuk membangun harmoni sembari menikmati suguhan nyanyian yang disertai melodi keras, cepat nan harmonis.

Citra band atau musisi juga berperan dalam membentuk karakter dan mempengaruhi perilaku fans serta penonton yang datang menyaksikan pertunjukan. Maka karisma yang melekat pada personel band atau musisi merupakan nilai yang otomatis terbentuk pada brand yang kuat bahkan melegenda.

Pentas Coldplay dan musisi papan atas lainnya di Indonesia tidak hanya menjadi keberhasilan penyelenggara acara dan mencerminkan antusiasme pasar musik di Indonesia, tetapi juga terkait dengan strategi pemerintahan Joko Widodo yang ditangkap oleh publik untuk memajukan industri musik di Indonesia.

Pertama, penegakan hukum, terutama yang mengatasi pembajakan.

Kedua, memperbaiki infrastruktur dengan memperbanyak gedung pertunjukan musik yang lebih representatif.

Ketiga, vegulasi insentif dari pemerintah
Dalam menangkal pembajakan di satu sisi dan menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya musik di sisi lain, peran pemerintah untuk mendorong peningkatan kualitas bisnis pertunjukan melalui regulasi yang kondusif dan infrastruktur yang memadai sangatlah penting.

Peran konser
Penyelenggaraan konser menjadi strategi mengatasi penurunan penjualan rekaman fisikal. Di sinilah pentingnya dukungan pemerintah pada industri pertunjukan untuk memberikan insentif, kemudahan dan dukungan lain bagi pelaku usaha yang memiliki passion yang kuat menghadirkan musisi dunia ke panggung- panggung konser di tanah air.

Konser Coldplay di Jakarta merupakan salah satu sejarah bagi Indonesia. Pasalnya tidak mudah mendatangkan musisi papan atas dunia yang memiliki brand sebagai “The Most Successful Band of the 21st Century”. Philip Kot- ler menyatakan bahwa merek sebagai cara mendapatkan uang lebih banyak untuk suatu barang daripada nilai yang sebenarnya. Melalui merek, konsumen dapat langsung mengetahui kualitas produk, fitur yang diharapkan dan jasa yang dapat diperoleh.

Artinya, dengan merek yang terbangun dengan baik, pangsa pasar akan mengikuti dengan sendirinya. Maka, tidak ada ruginya bagi produsen untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi pelanggannya.

Di satu sisi menycjahterakan pelanggan adalah alasan keberadaan produsen, dan di sisi lain untuk mempertahankan dan meningkat- kan pangsa pasar yang ujung-ujungnya akan mengakumulasi laba.

Dalam konteks turisme, brand sebuah destinasi juga menjadi hal yang penting untuk men- ciptakan keunggulan yang berkelanjutan. Daniel Surya, Country Divector The Brand Union
Jakarta, menyatakan, key attributes dan brand promise menjadi strategi penting dalam city branding.

Sementara itu, Handito Joewono dari Arrbey menyatakan, alasan logis untuk melakukan city branding adalah memperkenalkan kota/daerah lebih dalam, memperbaiki citra, menarik wisatawan asing dan domestik, menarik investor untuk berinvestasi dan meningkatkan perda- gangan.

Dengan ilustrasi tersebut, karya/produk dan brand suatu band atau musisi terhubung dengan dimensi market share, profilability dan sustainability. Coldplay hadir di Indonesia sebagai entitas penting dalam industri musik dan pertunjukan yang menghadirkan bukti totalitas dalam menghasilkan karya musikal bermutu tinggi diterima dan mempengaruhi peradaban lintas massa.