Peluang media tanam (metan) premium cocok untuk usaha sampingan de ngan margin minimal 120%
Kalau mendengar istilah metan, orang awam bakal langsung berpikir tentang jenis gas. Tapi, istilah metan sudah familiar bagi para pehobi tanaman. Metan adalah media tanam.
Seiring dengan kian banyaknya penggemar tanaman, pamor metan pun naik. Misalnya saja, metan tidak melulu berasal dari tanah dan pupuk kandang belaka. Saat ini di pasar, ada metan yang berasal dari racikan dari cocopeat, humus, andam, hidroton, dan perlite.
Kemasannya juga bukan pakai karung seadanya atau plastik disablon merek. Ada yang menggunakan kemasan pouch standing yang premium. Harga pun jauh berbeda. Dulu kebanyakan metan dijual dengan harga Rp 5000 – Rp 15.000. Kini, Anda bisa menjumpai metan yang harganya Rp 60 ribu per kemasan.
Sifaul Wardani, pemilik Omah Metan mengungkapkan, empunya tanaman hias yang harganya mahal, tentu tidak mau ambil risiko dengan sem barangan memakai metan.
“Kalau asal pakai metan, risiko kematian tanaman jadi tinggi,” jelas Sifa, panggilan akrab Sifaul.
Sebutlah untuk tanaman jenis aglonema, kalau asal diberi metan yang banyak mengandung pupuk kandang ada risiko busuk batang. Karena sifat pupuk kandang yang panas, kurang cocok dengan aglonema yang batangnya cenderung mengandung air dan tidak keras.
Tak heran, pengoleksi tanaman biasanya memilih metan yang premium. Misalnya yang mengandung cocopeat, humus, andam, hidroton, dan perlite.
Bahan-bahan ini dibilang premium karena harganya lebih mahal daripada metan biasa yang berupa racikan kompos, sekam, atau campuran tanah dengan pupuk kandang.
Sifa menjual produk metan premiumnya seharga Rp 25.000 per dua kilogram. Dalam sebulan dia mampu menjual hingga 500 kg pupuk.
“Lumayan hasilnya untuk sampingan, lagipula proses pembuatannya mudah,” ujar Sifa yang juga punya usaha penjualan tanaman hias yang beromzet Rp 25 juta per bulan.
Sebagai ibu rumah tangga, omzet penjualan tanaman hias dan metan bagi Sifa sudah lebih dari cukup. Apalagi keuntung an yang didapat Sifa bisa lebih dari 50%. Dan lagi, Sifa yang dibantu satu karyawan untuk memproduksi metan itu, hanya memanfaatkan teras dan pekarangan rumahnya yang tak begitu luas.
Hal serupa dialami oleh Rachmad Satrio Putra pemilik usaha Tanaman Istimewa Solo yang memproduksi metan merek Metan Istimewa. Satrio, yang akrab disapa Yoyok, juga seorang pecinta tanaman hias terutama aglonema dan kemu dian berbisnis tanaman hias.
Nah sejak enam bulan ter akhir, Yoyok melebarkan sayap untuk mengkomersilkan metan racikannya. Karena masih bekerja di salah perusahaan ritel asal Korea Selatan, Yoyok efektif memproduksi dan menjual metan racikannya hanya di akhir pekan. Dalam sebulan bisa laku 80 sak. Harganya Rp 35.000 per 2 kg/sak.
“Semua masih saya garap sendiri. Karena respon market bagus, saya mulai tahun ini mau rekrut karyawan,” jelas Yoyok yang memproduksi metan di area pekarangan rumahnya.
Tak cuma Sifa dan Yoyok yang menjadikan metan sebagai sumber penghasilan sampingan, Alfatika Aunuriella atau Tika juga memanfaatkan peluang ini. Sejak awal tahun 2020, Tika memasarkan Metan Sultan melalui media sosial. Sama seperti Sifa dan Yoyok, Tika juga pecinta dan penjual tanaman hias.
“Kebetulan ada teman yang punya usaha penggilingan padi, dan sekamnya menggunung. Jadi saya ajak dia untuk memproduksi metan,” jelas Tika yang menggandeng temannya bernama Alya Mirza untuk ber bisnis metan.
Ketika masih awal jualan, Metan Sultan racikan Tika bisa laku hingga 300 pouch per bulan. Harganya Rp 25.000 per pouch. Ukuran pouch ini bisa untuk 5 pot ukuran diameter 8 centimeter (cm). Sedangkan yang kemasan ukuran 2,5 kg-3 kg bisa laku 50 sak. Harganya Rp 140.000 per sak.
“Kalau akhir tahun lalu per mintaan landai rata-rata terjual 500 pouch dan 100 sak per bulan,” jelas Tika.
Tika bilang, dia menyediakan ukuran pouch karena ingin mengincar pehobi tanaman yang baru. Pehobi baru, biasanya akan coba-coba dulu,
Sumber: Tabloid Kontan. 24-30 Januari 2022. Hal. 14-15

