Pola konsumsi masyarakat yang cenderung tinggi kalori menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme.

 

Ketergantungan kita akan beras dan gandum yang adalah komoditas impor sebagai sumber makanan pokok sudah amat tinggi, seolah negeri kaya sumber daya alam ini tak punya jenis pangan pokok yang bisa jadi sumber energi. Keragaman pangan pun tak berjalan.

Hal yang muncul ketika bicara soal pangan justru swasembada beras. Jadi, bukan fokus pada swasembada energi, protein, atau mineral yang dipenuhi dari sumber pangan beragam.

Ahli gizi komunitas dari Dr Tan & Remanlay Institute, Tan Shot Yen, mengilustrasikan, dalam pertandingan sepak bola, satu tim menggruduk bola yang sama. Akibatnya, gawang tidak terjaga dan kebobolan. Bola yang diperebutkan itu adalah beras. Semua berlomba berebut beras, sedangkan asupan mikronutrien dan makronutrien, protein, vitamin, dan mineral diabaikan.

“Kita selalu mengandaikan teman makan sayur dan lauk kita adalah nasi, hanya nasi. Padahal, nasi jagung dengan ayam suwir juga enak, ubi rebus dengan abon ikan cakalang lezat, atau papeda dengan kuah ikan asam,” kata Tan.

Dalam Pedoman Umum Gizi seimbang disebutkan, kandungan gizi per satu porsi nasi seberat 100 gram (setara tiga perempat gelas) adalah 175 kalori, 4 gram protein, dan 40 gram karbohidrat.

Komposisi tersebut bisa dipenuhi juga oleg tiga buah sedang jagung segar (125 gram), satu setengah potong singkong (120 gram), tiga potong sedang sukun (150 gram), ataupun satu buah sedang ubi jalar kuning (135 gram).

Ketika keseragaman pangan pokok yang justru menonjol, kemunculan aneka pangan olahan pabrik menjadi menu pelengkapnya. Setiap keperluan nutrisi dipenuhi oleh produk olahan pabrik yang instan.

Makanan hasil serangkaian pemrosesan di pabrik pun kemudian seolah menempati kasta lebih tinggi dibandingkan pangan lokal. Roti menjadi lebih tinggi kastanya dibandingkan nasi pecel sebagai menu sarapan, misalnya. Introduksi berbagai produk makanan dari gandum pun seolah menjadi hal normal bagi masyarakat.

Bicara soal gizi tidak cukup hanya membahas makanan. Bicara soal gizi harus juga membahas soal etnografi, geografi, dan ekonomi. Aspek etnografi dan geografi berkaitan dengan ketersediaan pangan dan kebiasaan konsumsi masyarakat di masing-masing daerah.

Setelah cukup tersedia, harganya harus terjangkau. Bagaimana mungkin masyarakat akan membeli satu sisir pisang jika harganya justru lebih mahal daripada biskuit rasa pisang.

Menurut Tan, masyarakat perlu kreatif dalam mengolah dan menyajikan makanan yang beragam. Jangan sampai pemilihan pangan lokal yang sudah benar justru berdampak buruk bagi kesehatan hanya karena dimasak dengan cara yang keliru.

 

Sesuai Kebutuhan

Sejenak mari kita lihat menu makan di meja makan setiap keluarga Indonesia. Semua anggota keluarga, dari anak, ibu, ibu hamil, ayah, hingga kakek atau nenek mengonsumsi makanan yang sama. Porsinya saja yang membedakan.

Padahal, kebutuhan gizi setiap orang berbeda. Kebutuhan anak yang masih dalam masa tumbuh kembang berbeda dengan kebutuhan gizi ibu hamil, orang dewasa yang aktivitas fisiknya berat, orang dewasa dengan aktivitas memeras otak yang banyak, dan orang lansia.

Orang dewasa yang pekerjaan sehari-harinya di kantor menuntut kinerja otak yang super tentu tidak memerlukan karbohidrat terlalu banyak, tetapi justru membutuhkan asupan protein banyak. Beda dengan pekerja kasar, misalnya, yang pekerjaan fisiknya lebih dominan.

Kebanyakan masyarakat Indonesia masih makan asal kenyang, belum menyesuaikan dengan kebutuhan. Itu merupakan level terbawah dari alasan seseorang makan. “Belum makan dengan kesadaran,” kata Tan.

Saatnya masyarakat naik level dengan menjadikan kesehatan sebagai motivasi makan.

 

Perubahan Paradigma

Pendidikan dan penyuluhan gizi menggunakan slogan 4 Sehat 5 Sempurna sejak 1952 berhasil menanamkan pentingnya gizi sehingga mengubah pola konsumsi masyarakat. Slogan ini diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia Prof Poorwo Soedarmo yang mengacu pada prinsip Basic Four dari Amerika Serikat yang mulai diperkenalkan pada 1940-an.

Prinsip Basic Four ialah menu makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan, serta susu untuk menyempurnakan menu tersebut.

Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan persoalan gizi yang ada saat ini, slogan 4 Sehat 5 Sempurna dinilai sudah tidak lagi relevan sehingga perlu diperbaharui. Prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet hasil kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma pada 1992 diyakini akan mampu mengatasi persoalan beban ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi.

Di Indonesia, prinsip tersebut dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang. Perbedaan mendasar 4 Sehat 5 Sempurna dengan Pedoman Gizi Seimbang adalah konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang seimbang sesuai kebutuhan setiap orang atau kelompok umur.

Selain itu, konsumsi makanan juga harus memperhatikan empat pilar yang menjadi prinsip, yaitu keanekaragaman pangan, pola hidup bersih, aktivitas fisik, dan mempertahankan berat badan normal.

Dengan gizi seimbang, masyarakat diarahkan untuk mengonsumsi pangan yang beragam. Hal itu mencakup aneka kelompok pangan, dari makanan pokok, lauk-lauk, sayur, buah, hingga air, secara seimbang.

Pola konsumsi masyarakat yang cenderung tinggi kalori menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme. Kondisi itu bisa meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Direktur Gizi Masyarakat Kementrian Kesehatan Doddy Izwardy memaparkan, dulu ketika slogan 4 Sehat 5 Sempurna dikenalkan, aktivitas fisik masyarakat masih tinggi. Akan tetapi, kini masyarakat cenderung kurang beraktivitas fisik. Perkembangan teknologi di berbagai sektor menghadirkan kemudahan juga kepraktisan.

Kondisi masyarakat saat ini memiliki konsekuensi. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, sebanyak 26,1 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas kurang aktivitas fisik. Karena itu, aktivitas fisik menjadi pilar penting dalam gizi seimbang.

Selain itu, slogan 4 Sehat 5 Sempurna tidak bisa menggambarkan berapa sebenarnya kebutuhan energi , protein seseorang. Karena itu, banyak orang yang makan berlebih sehingga menjadi kegemukan, dan di saat yang sama ada juga yang kurang makan sehingga kurus kekurangan gizi.

Prevalensi obesitas pada semua kelompok umur pun cenderung meningkat. Obesitas atau kegemukan memiliki kaitan erat dengan tingginya kasus penyakit tidak menular.

Dengan memantau dan mempertahankan berat badan, hal itu menjadi instrumen yang tepat untuk mengevaluasi pola konsumsi kita. (ADHITYA RAMADHAN)

Sumber: Kompas.27-Februari-2018.Hal_.14