Waktu tempuh sepeda itu hampir pasti.  Jarang meleset dari perkiraan, “kata Reza Adhiatma (29). Jadi, bersepeda di kota padat dan penuh kemacetan seperti Jakarta ini memang sering menim- bulkan keterkejutan orang. Sejak rutin bersepeda ke kantor, setiap bertemu dengan rekan sekerja di lift, pertanyaan waktu  Tempuh ini menjadi pertanyaan kedua setelah jarak.

“Satu jam 15 menit?”  begitu reaksi rekan tadi begitu tahu waktu tempuh dari rumah ke kantor yang berjarak sekitar 20 km.  Keluwesan sepeda menerobos setelah Seperti kata Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat, pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah dibayar.

kemacetan dan jalur-jalur tikus memang membuat motor dan mobil seperti raksasa bertubuh tambun.  Terlebih dengan diperlebarnya beberapa trotoar di Jakarta yang bisa dimanfaatkan untuk jalur sepeda.

Waktu tempuh dan kepastian tadi menjadi beberapa faktor yang muncul- nya kurir sepeda seperti yang ditekuni Reza.

SATU SEPEDA SETARA TIGA KURIR MOTOR

Westbike Messenger Service tempat Reza bekerja sebagai pemula di bidang kurir sepeda di Indonesia.  Pada tahun 2013, Hendi Rachmat (42) bersama dua rekanannya, mulai membangun bisnis jasa logistik di Kekuatan jualannya adalah ramah lingkungan karena menggunakan sepeda.

Merek dagang Westbike sendiri awalnya nama toko sepeda yang didirikan Hendi pada 2010 di daerah Jakarta Barat.  la menjadi jasa pengantaran paket atau dokumen dengan sepeda untuk mengisi waktu luang anak-anak komunitas yang masih pada kuliah waktu itu.

Sempat moncer, Westbike Messenger (WBM) terusik saat Go-Jek membikin Go-Send pada 2015. “Tahun itu orderan kami turun 90 persen,” ujar Hendi seperti dilansir Kompas.com.

Namun demikian, kemudian usikan itu tak lantas menenggelamkan WBM.  Bahkan setelah berbadan hukum, mereka digandeng oleh perusahaan JNE.  Diberi nama JNE EcoCourier, bisnis patungan ini berkembang ke lima kota.  Mulai dari Bandung, kemudian Surabaya, Medan, dan terakhir Lampung.

Dalam riset yang dilakukan JNE, ternyata kurir se peda setara dengan tiga kurir motor untuk wilayah-wilayah tertentu.  Seperti daerah perkantoran dan mal yang seperti menganaktirikan sepeda motor dalam hal parkir.  Selalu di tempatkan di daerah yang jauh.  Meski, seperti Reza, tak semua gedung ramalh dengan pesepeda, namun penempatan parkir sepeda masih manusiawi.  Meski tak ada, pe ndekatan pribadi dengan satuan petugas keamanan gedung bisa menyelesaikan soal ini.

Dari hobi Kurir sepeda sebenarnya bu- kan hal baru di masyarakat kita.  Dulu, ketika dunia digital belum mencengkeram sendi kehidupan masyarakat, kita mengenal Pak Pos.  Dalam salah satu lirik lagu anak- anak Pak Pos, ada kalimat yang bunyinya begini, Surat kubawa naik sepeda. Ketika mobilitas menuntut kecepatan, Pak Pos bersepeda sudah jarang kita temui lagi atau malah sudah punah.

Namun jangan membayangkan Reza seperti Pak Pos kala itu. Jika Pak Pos menggunakan sepeda onthel dengan tas bagasi di boncengan, Reza menggunakan sepeda kekinian layaknya anak-anak muda perkotaan.  Surat-surat atau barang yang akan dikirimkan ditaruh di dalam tas ranselnya.  Di dalam ransel itu pula ia membekali diri dengan seperangkat alat pematut diri sehingga ketika bertemu dengan penerima paket tidak “rmemalukan”.  “Ada baju dan seperangkat alat mandi. Selain perkakas sepeda untuk kondisi darurat,” kata Reza sambil memerinci apa saja perkakas itu, seperti ban dalam dan penyangga rantai.

Menjadi kurir sepeda tak semata-mata pekerjaan bagi Reza.  Terselip hobi di dalamnya.  Seperti kata Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat, pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar.  Makanya, saat ditanya bagaimana perasaan menjadi kurir sepeda selama seki- tar lima tahun ini, Reza langsung berucap, “Seru.

“Saya sendiri yang menjalani rutinitas bersepeda ke kantor yang bisa merasakan kenikmatan bersepeda yang menyelap-nyelip di jalanan Jakarta.  Ketika mereka terdiam dalam kemacetan dengan minim aktivitas mengobrol dan memainkan jari jemari, saya dan orang-orang seperti Reza selalu bergerak.  Memangkas waktu.

Pengguna jalan yang ramah dengan pesepeda adalah pemilik kendara dan pribadi.  Yang parah penge ndara motor dan pengemudi angkot.

“Pas jam sibuk, saat mobil dan kendaraan lain diam, kami masih bisa jalan. Bergerak. Ketepatan perkiraan waktu penggiriman hampir 80 persen,” kata Reza.

Saya mengiyakan saja, Reza mengawali menjadi kurir sepeda semenjak masih kuliah.  Ho- binya bersepeda khususnya fixie membawanya pada pekerjaan kurir yang mengilhami sebuah film Premium Rush pada 2012.

Margasatwa yang menyebalkan

Fixie merupakan singkatan dari fixed gear.  Jadi sepeda fixie merupakan sepeda dengan gir belakang yang dibuat ‘mati’ dengan poros roda belakang sehingga kayuhan pedal akan berputar terus.  Kelebihan sepeda ini minimalis, lebih ringan, dan perawatan yang enggak ribet.  Namun butuh pengerialan lebih lama karena menganclalkan rem dengan hentakan kaki ke belakang dan pedal yang selalu berputar.

“Tiap hari sudah menggunakan sepeda fixie. Jadi sudah hapal triktrik mengendalikan sepeda ini. Seperti pas belok bagaimana cara mengumpulkan. Dari Atas Sadel Kiriman Paket Tiba Tepat Waktu pedal tidak menelusuri tanah.  Kami juga belajar membaca situasi di jalanan.  Memprediksi pergerakan kendaraan yang ada di depan, “kata Reza. (Jika bingung bagaimana melihat aksi kurir sepeda dengan sepeda fixie di tengah kemacetan, film Premium Rush tadi wajib ditonton.)

Dari interaksi yang sangat intens itu, Reza hafal betul dengan  Pengguna jalan di Jakarta. Menurutnya, pengguna jalan yang ramah dengan pesepeda adalah pemilik kendaraan pribadi yang parah pengendara motor dan pengemudi angkutan umum. “Kadang-kadang saya sampai gebrak-gebrak kap angkot,” kata Reza yang merasa bersyukur belum pernah mengalami kecelakaan  . “Kalau tersenggol sih sudah biasa,” tambahnya dengan derai tawa.

Menggunakan gir depan ukuran 47 dan gir belakang (COG) 17, sehari Reza biasa melajukan sepedanya dalam kecepatan antara 20 dan 25 km / jam. Baginya, kombinasi gir depan dan  belakang seperti itu yang paling cocok. Enggak terlalu berat, tapi enggak terlalu enteng juga un- tuk melahap jalanan jalanan Jakarta yang relatif datar.

Jalanan di Jakarta yang paling menyebalkan itu da  erah Margasatwa.  Jalanan rolling (naik turun), “kata Reza yang pernah menjajal daerah Bandung dengan tanjakan tiada habis. Schari Reza bisa mengantarkan 10 paket.

Sehari sebelumnya sudah bisa mendapat kan pesanan pengantaran.  Dengan demikian ia bisa menyusun rute pengantar dan pengiriman barang dari rumah tinggal di Ciledug “Pada hari H saya tinggal atur rutenya saja. Mau dari mana dan selesai di mana.”  Nah, kalau ambil dan kirim paket di seputaran Semanggi, Kuningan, dan Tebet bisa diperkirakan berapa jarak jelajah Reza.  Untuk rumah- Semanggi saja sudah 28 km pergi pulang Belum dengan putar-putar mengambil dan mengir imkan paket.  “Sehari pernah mencapai sekitar 100 km,” tambah Reza.

Berbekal tas pungggurig bervolume sekitar 201, memang daya angkut Reza terbatas.  Ukuran barang yang akan dikirim paling gede seukuran kotak sepatu.  Sebagai kurir

SEMPAT JADI SASARAN PERAMPOK

Berbeda dengan becak, kurir sepeda lebih tangkas karena tak mengantar barang besar.  Jadi, meski kontras dengan kecepat- an kendaraan di era sekarang. kurir sepeda masih memperoleh tempat.

Diperkirakan perusahaan kurir sepeda pertama ada di Amerika Utara pada 1880-an.  membuka pengiriman barang menggunakan kurir bersepeda.

Di AS kurir sepeda mulai marak pada 1894, saat kurir kereta api kerja di San Francisco.  Seorang pemilik sepeda di Fresno memperoleh ide brilian dengan membuka jasa pengiriman menggunakan sepeda dari Fresno ke San Francisco yang mendulang sukses.  Langkah ini mengikuti perusahaan besar seperti Western Union, dan bahkan diikuti Kantor Pos AS.

Kehadiran UPS dan DHL mulai Baily mengikis peran kurir sepeda.  Namun masih bisa bertahan di wilayah lokal karena bisa memberikan layanan pengantaran lebih cepat.  Sayangnya, karena paket kiriman kurir sepeda lebih berharga (sering berupa uang).  maka mereka menjadi sasaran perampok.  Pada satu titik bahkan mereka menjadi sasaran geng yang khusus merampok.

Reza percaya dengan klaim penganut soal isi.  No boleh mengecek isinya.  Yang pasti, ia menjamin ketepatan waktu pengiriman.  Nyaris tak meleset dari perkiraan.

 Ada lombanya lo

Relatif tidak banyak masalah yang berkaitan dengan Reza terkait dengan sepedanya.  Soal nya, sebelum memulai hari, ia selalu mengecek kesiapan sepedanya.  Seperti rantai dan tekanan angin ban.  Itu mutlak, katanya.  Sementara sebulan sekali ia membongkar sepedanya.  Rantai dibersihkan. BB (braket bawah). dibuka dan dilihat, kotor enggak.  Dratdrat dibersihkan.  Ini bisa makan waktu seharian, “kata pemilik sepeda merek PIAS dan Borneo ini.

” Selama ini yang sering (masalah) hanyalah larangan pecah.  Ganti.  Ganti sampai 5 menit. “Katanya.

Reza termasuk kurir yang berun- tung karena pernah mengikuti lomba kurir sepeda tingkat dunia. Tak hanya sekali, tapi tiga kali. Tahun 2016 di Paris, Prancis; 2017 di Montreal, Kanada; 2018  di Riga, Latvia.Tahun 2019 lomba ini diselenggarakan di Jakarta, Indones ia.  Enggak Hisa jadi peserta karena harus jadi panitia, ”jelas Reza.

Dalam lomba itu mereka harus menyelesaikan urutan yang sudah ditetapkan.  Mirip dengan pekerjaan sehari-hari mereka.  Hanya saja dalam lomba ini setiap detail.  Harus taat aturan, Seperti kalau mau nyalip kendaraan memberi tahu, enggak boleh berhenti di tikungan, harus berhenti di pinggir jalan, menggembok sepeda saat ditanggalkan, serta bagaimana perilakunya saat menerima dan menyerahkan paket.

“Yang menangani siapa yang paling cepet dan paling banyak mengantarkan paket,” ujar Reza.

Meski belum pernah mem- peroleh podium namun Reza bersyukur bisa mengenal dunia perkuriran-sepeda di negara-negara lain.  Seperti di Paris, tahap yang diperoleh kurir lebih gede.  Soalnya, di sana kurir sepeda men- jadi andalan logistik murah.  Bahkan ada sepeda cargo, sepeda dengan kotak angkut yang lebih besar.  “Daripada pakai mobil boks yang mahal bisa pakai ini,” kata Reza.

Sementara kultur kurir sepeda di Montreal sudah terbentuk.  Tak ada persaingan di antara perusahaan kurir sepeda.  “Habis kerja mereka kumpul bareng. Di taman, ngobrol bareng Seru menurut saya. Jalur sepeda di sana lebih nyaman. Tapi mereka lebih ketat aturan sepedanya. Harus pakai helm, pakai rem. Lampu.”

Nah, kapan Indonesia akan se- perti itu?

 

Sumber: Intisari. No.690. Maret 2020