Dari Dasawisma Kini Dampingi Perempuan Kena Masalah. Jawa Pos.19 April 2015.Hal.25

Pekerja Sosial Mariani Zaenal dan Anis Sujiati

Mencurahkan tenaga dan waktu untuk mereka yang memiliki masalah hidup, dua perempuan ini layak disebut pahlawan sosial. Bermacam urusan mereka hadapi. Mulai pengentasan pekerja seks komersial hingga perlindungan para korban kekerasan dalam rumah tangga.

            MUDAH saja menemukan rumah Mariani Zaenal, 54, di Banyu Urip Wetan. Bertanaya dengan orang sekitar, pasti ditunjukkan. Hampir semua penduduk di sana mengenal ibu dua anak itu. Di depan rumah berwarna pink tersebut, terdapat plakat bertuliskan Sekretariat Jarpuk. Di sebelah plakat itu, terdapat pula satu plakat bertuliskan Sekretariat Bina Umat.

Saat ditemui, Mariani sedang bersama cucunya. Di ruang tamu rumahnya, ada sebuah meja dan kursi plastik. Sebuah lemari tampak penuh dengan berkas – berkas dalam map dan buku – buku. Selain sebagai tempat tinggal, rumah tersebut dijadikan sekretariat. “Dibelikan anak supaya saya tidak perlu keluar rumah kalau hanya untuk rapat organisasi,” katanya.

Mariani dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan masalah – masalah sosial di sekitar. Dia menyatakan gemar berorganisasi sejak masih muda. Diawali keanggotaan dasawisma, kemudian dia menjadi kader di beberapa kelompok masyrakat. Dari hanya sebagai anggota, karena ketekunan dan komitmennya, perempuan asli Surabaya itu pun merambat naik menjadi ketua di beberapa kelompok.

Pada 1998 masriani mengenal lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dia ditunjuk sebagai kader untuk mendistribusikan beras murah.

Bersama kader lain, dia membentuk kelompok swadaya masyarakat bernama Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk). Kelompok tersebut tidak hanya membicarakan pendistribusian beras murah. Namun, juga soal kesetaraan gender.

Lewat Jarpuk, Mariani belajar banyak soal advokasi kepada orang – orang yang mendapat ketidakadilan gender. “Enam bulan setelah seuami meninggal, pada 2005 itu saya bertemu LSM Wahana Visi dalam sebuah training if trainer (ToT) tentang perlindungan perempuan dan anak,” kisahnya.

Sejak awal Mariani berkecimpung di berbagai organisasi, suaminya selalu memberikan dukungan. Ketika dia akan membacakan kata sambutan untuk membukam acara, suaminya selalu setia mendengarkan, bahkan mengevaluasi yang disampaikannya. “Meski suami meninggal, saya tetap bersemangat berorganisasi. Kalau kata suami, saya harus pintar bersama masyarakat,” kenangnya.

Setelah mengikuti ToT, Mariani wajib menyosialisasikan perlindungan perempuan dan anak. Beberapa kasus ditanganinya. Kemudian pada 2006, bersama beberapa rekan ToT, Mariani mendirikan Crisis Centre Cahaya Mentari. Tujuannya, mendampingi perempuan – perempuan yang mendapat masalah terkait dengan gender.

Mariani pun menangani kasus – kasus besar. Dia bercertia pernah menangani kasus anak laki – laki yang disodomi ayahnya sejak berusia 10 tahun. “Waktu itu dia datang ke saya sudah berusia 17 tahun,” cerita perempuan yang sekarang ketua Jarpuk itu. Saat bertemua, anak tersebut menjadi pekerja seks untuk kaum gay. “ Anak itu ingin berhenti sebegai pekerja sekes. Akhirnya saya kursuskan. Dia memilih kursus salon,” papar Mariani.

Anak itu berhasil lepas dari profesi pekerja seks dan kini bekerja di sebuah salon. Merasa berutang budi, anak tersebut sering datang ke rumah Mariani. “Dia sering memberikan sumbangan untuk anak – anak yatim yang menjadi binaan kami,” katanya.

Dari berbagai kasus yang ditangani, Cahaya Mentari mengusulkan kepada pemerintah Kota Surabaya agar mengadakan pelayanan curhat. Hal itu dimulai dari Kelurahan Putat sekitar setahun lalu. Awalnya layanan diberikan anggota Cahaya Mentari. Mereka datang ke kelurahan dan siap menerima curhat warga.

Layanan itu berkembang terus. Hingga sekarang, tugas mendengarkan curhat tersebut didelegasikan kepada PKK setempat. Hanya masalah berat yang dikonsultasikan ke Chaya Mentari. Pelayanan tersebut kini juga ada di beberapa keluarahan dan kecamatan lain. “jadi, masyarakat tidak perlu jauh – jauh ke tempat kami untuk bercerita tentang masalah mereka,” ujarnya.

Karena kepeduliannya kepada masyarakat, Mariani mendapat berbagai penghargaan. Salah satunyam pada 2010 dia diberi penghargaan nasional sebagai Pekerja Sosial Masyarakat oleh Wakil Presiden Boediono. “Saya puas kalau yang saya bina itu berhasil. Buakn soal penghargaan,” tuturnya.

Mariani juga selalu berupaya untuk membantu pendidikan anak – anak. Tidak jarang, ketika musim ujian, banyak orang tua yang mengadu kepadanya bahwa anak mereka tidak boleh ikut ujian lanjtaran belum melunasi uang sekolah. Kemudian, Mariani biasanya akan berbicara dengan sekolah agar mau mengikutkan anak itu ujian. “Saya boleh hanya lulusan SMP, tapi anak – anak disini harus berpendidikan. Siapa yang akan membangun bangsa ini kalau pendidikan anak dihalangi karena masalah keuangan,” paparnya

Hampir sama dengan Mariani, Anis Sujiatai mendedikasikan dirinya untuk mendapingi orang – orang yang memiliki masalah. Perempuan kelahiran 21 Agustus 1985 itu menjadi manajer kasus di Yayasan Embun Surabaya. Jabatan tersebut membuatnya harus berurusan langsung dengan para penderita HIV/AIDS. Fokus Anis adalah PSK jalanan.

Dia memegang enam wilayah di Surabaya untuk mendampingi PSK jalanan yang mengidap HIV/AIDS. Yakni, sekitar kawasan Morokrembangan, Putat, Dupak, Sememi, Kembang Kuning, dan Wonokromo. “Saya memiliki 65 dampingan pasien positif. Delapan di antaranya sudah meninggal,” katanya.

Setiap Senin, Selasa, dan Kamis, dia punya jadwal memerikasakan kliennya ke puskesmas atau rumah sakit dan menebus resepo. Sementara itu, Rabu memeriksakan klien bayi atau anak HIV/AIDS. Tidak jarang dia harus menebus obat dengan merogoh uang pribadi.

Honor yang didapat dari Yayasan Embun tentu tidak seberapa, Namun, bagi Anis, itu bukan masalah. Pendapatan suaminya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari – hari. Baru, untuk menebus obat pasien HIV/AIDS tersebut, Anis menambah penghasilan dengan berjualan kecil – kecialn. “Jika butuh nebus resepo dan dana yang ada kurang, saya ambilkan dari hasil jualan. Saya jualan apa aja, Kurma, pisang, bros, atau apa pun. Yang pentong halal,” ujarnya.

Hal yang dia sayangkan, kadang klien justru kurang memperhatikan kesehatannya. Kadang lupa minum obat, lalu badan drop. Jika sudah demikian, barulah klien menghubunginya. “Saya pernah disuruh nungguin mbaknya yang sedang menemui tamu dulu sebelum diajak periksa ke puskesmas,” terangnya.

Meski tidak memiliki background kesehatan, dia hafal semua keadaan kesehatan klien. Anis juga paham istilah kesehatan, khususnya tentang HIV/AIDS dan penyakit menular seksual.

Ibu satu anak tersebut harus pandai membagai waktu antara kerja sosial dan keluarga. Anis beruntung karena suaminya mendukung pasiion-nya itu. “Membantu mereka yang terpinggrikan seperti itu membuat saya merasa lebih hidup,” kata perempuan yagn beberapa kali mengikuti pelatihan tentang gender dan HIV/AIDS di luar negeri tersebut.

Sumber: Jawa Pos. 19 April 2015. Halaman 25