Dari Pegawai ke Pebisnis.Tabloid Kontan.24 Juli-30 Juli 2017. Hal 27 001-page-001

 

Oleh Jennie M. Xue, Kolumnis Internasional dan Pengajar Bisnis

Jika Anda percaya bahwa menjadi pebisnis adalah jalan tol untuk menjadi kaya raya, pikirkan kembali baik – baik. Seoang pebisnis memang mempunyai kemungkinan leih besar untuk menjadi kaya raya karena penghasilan yang diterima tidak teratas.

Namun, hal itu bukan terjadi seketika dalam waktu sekejap. Perlu konsistensi, motivasi membara, manajemen waktu, dan skill – skill lain yang perlu di pelajari dan dipoles hingga optimal. Dan untuk memulai bisnis diperlukan kerenaian untuk mencoba, selain optimisme membara.

Sky is the limit, katanya. Nah, jika Anda masih berstatus sebagai pegawai, isakah memulai bisnis? Tentu bisa. Berapa modal awal yang perlu dimasukkan, mengingat jumlah aset teratas?

Menurut Patrick McGinnis, seorang venture capitalist dan penulis buku 1% Entrepreneur, tidak lebih dari 10% dari penghasilan bulanan dapat dipakai untuk memulai bisnis baru dari nol. Jadi, jika besar gaji Anda Rp. 20 juta, sisihkan 2 juta untuk memulai bisnis setiap bulan.

Kok sedikit banget? Bukankah untuk memulai suatu bisnis diperlukan modal miliaran rupiah? Tergantung bisnisnya, tentu. Jika Anda ingin membuka sebuah department store atau pabrik elektronik, tentu perlu modal super – besar.

Namun, Anda kan pebisnis pemula. Gunakan saja 10% dari penghasilan yang ada. Bisnis dimulai dari kecil – kecilan namun sustainable. Tidak perlu gengsi – gengsian dengan memulai bisnis yang bermodalkan miliaran rupiah, padahal hasilnya tidak jelas.

Logikanya, angka 10% itu cukup besar untuk pemula, namun tidak cukup besar untuk mengganggu pengeluaran sehari – hari. Sedikit berhemat sudah cukuplah. Tidak perlu sampai mengencangkan ikat pinggang sampai kehabisan nafas, begitu kira – kira.

Angka 10% itu juga berlaku untuk jumlah jam yang Anda luangkan untuk mempelajari luar dalam bisnis yang akan dimulai. Jadi, dari 10 jam kerja, tambahkan satu jam saja untuk mempelajari bisnis tersebut, jadi Anda tidak terlalu ngos – ngosan membagi waktu.

Angka 10% itu termasuk “angka ajaib.” Bahkan sejak zaman dahulu kala di gunakan sebagai standar pajak, upeti raja, dan sebagainya. Sedangkan angka 20 dari Teori Pareto 80/20 agak terlalu besar untuk bereksperimen.

Di Google, misalnya 70% waktu digunakan untuk mengerjakan tugas – tugas sesuai job description. Sedangkan 20% untuk menjalankan proyek – proyek baru. Nah, 10% lagi dipakai untuk melakukan hal – hal yang sama sekali berbeda dari deskripsi pekerjaan dan proyek – proyek baru.

Tak perlu gengsi – gengsian memulai bisnis bermodal miliaran rupiah, padahal hasilnya tidak jelas.

Jadi, dari 10 jam kerja perhari, hanya tujuh jam digunakan untuk menjalankan tugas utama. Dua jam lagi untuk menjalankan proyek – proyek aru dan satu jam lagi untuk “bermain” dengan berbagai konsep baru yang menggelitk.

Kenali risiko

Jika Anda bekerja lebih dari 10 jam per hari, hitung saja berapa jam 10% itu. Pasanglah weker agar tidak berlarut – larut. Gunakan waktu sebagai “intermeso”, selingan ketika senggang.

Lantas, apa saja yang perlu Anda perhatikan tentang suatu ide bisnis? Dengan kata lain, bagaimana Anda bisa mengambil keputusan untuk memulai bisnis atau tidak ?

Pertama, kenali luar dalam bisnis tersebut, tidak hanya dari segi positifnya. Apa saja yang enak dan tidak enak dari bisnis tersebut.

Kedua, hitung leads yang telah tampak di hadapan anda. Leads adalah siapa saja yang akan dibidik. Satu contoh kasus, misalnya seseorang yang hendak memulai bisnis kostum balet khusus untuk kompetisi.

Yang perlu Anda cari tahu adalah ada berapa murid balet di kota Anda berdasarkan jumlah kursus alet. Survei dengan berbagai cara untuk mengetahui jumlah murid rata – rata perkursus. Itu adalah jumlah sales leads. Berapa angka konversinya? Tergantung dari ada berapa kompetisi balet per tahun dan kostum apa yang digunakan mereka.

Siapa pemasok kostum kompetisi selama ini ? jika memungkinkan, kunjungi mereka untuk lebih mengenali kompetitor.

Ketiga, cari tahu berapa keuntungan dari penjualan suatu produk. Berapa proit mark – upnya. Pakaian balet anak – anak leotard untuk latihan biasa, mungkin harganya hanya ratusan ribu rupiah saja. Cari tahulah berapa marjin keuntungannya. Berapa harga kostum balet kompetisi yang eksklusif? Tentu berbeda dan bisa mencapai beberapa juta rupiah.

Perhatikan jumlah leads-nya. Jelas murid alet ana – anak ada ribuan orang, namun yang sangat berprestasi sebagai balerina bisa dihitung dengan jari. Hitunglah baik – baik jumlah leads-nya. Jika terlalu kecil, maka ini bukan bisnis yang feasible.

Bisa dipahami mengapa penjualan mi instan sangat tinggi. Ya, karena leads-nya ada 245 juta orang di Indonesia dan hampir setiap hari lebih dari separuh penduduk pasti makan mi instan. Luar biasa, bukan?

Yang terakhir, kenali risiko – risiko bisnis dan bagaimana mengatasinya sebelum hal – hal yang tidak diinginkan terjadi. Ini sangat penting agar Anda semakin siap ketika ada tantangan yang perlu diatasi.

Silahkan menyisihkan 10% dari gaji dan waktu untuk memulai bisnis baru.

Sumber : Tabloid Kontan. 24-30 Juli 2017. Hal. 27