Dari Pergelaran New York Fashion Week 2024. Inspirasi Budaya dari Sastra hingga Alam

Jawa Pos. 18 Februari 2024. hal.19

New York membuka rangkaian pekan mode Fall/Winter pada 2024. secara garis besar, kota di pesisir timur Amerika Serikat itu menyajikan desain sartorial chic yang megah. Jaug dari kesan seragam dan membosankan, para desainer mencuplik inspirasi dari berbagai aspek. Mulai dari karya sastra, kehilangan, hingga keheningan alam. (Vogue/WWD/fam/c7/len)

Agus Sunandar Terinspirasi Garudheya. Burung Legendaris dalam Karya Fashion

Jawa Pos. 18 Februari 2024. hal.19

Kuat, indah, dan berwibawa. Tiga kesan itulah yang muncul dari koleksi Garudheya karya desainer Agus Sunandar. Dalam event SPOTLIGHT beberapa waktu lalu, desainer asal Malang itu memamerkan 8 koleksi busana perempuan. Sebelum 8 koleksi dipamerkan, sejumlah kostum yang bertajuk Garudheya juga ditampilkan. Bentuknya tampak menyerupai garuda, burung mitilogi yang menjadi lambang negara Indonesia.

Garudheya sendiri merupakan tokoh yang sosoknya diabadikan di relief Candi Kidal, Malang, kota asal Agus. Garudheya digambarkan sebagai sosok burung raksasa. Selain kuat, Garudheya berbakti dan berbudi luhur. Dia berjuang untuk membebaskan sang ibu dari perbudakan.

Agus sendiri pernah melakukan riset terhadap Garudheya. Setelah itu menuangkan sosok Garudheya dalam bentuk kostum, kini Agus menuangkan sosok burung raksasa ke dalam busana yang lebih wearable. “Namanya tetap Garudheya, tapi ini lebih fashionable dibandingkan kostum. Tapi unsur seninya tetap menonjol,” ujar Agus saat dihubungi Jawa Pos kemarin (17/2) siang.

Ada dua warna dominan dikoleksi tersebut, yaitu hitam dan hijau toska. Agus memilih dua warna itu karena kombinasi keduanya dinilai bisa merepresentasikan Garudheya. Hitam dipilih Agus karena memiliki kesan agung dan kuat, serta bisa menetralkan atau melembutkan warna lain. “Kalau toska kesannya lebih eksotis dan bisa dikaitkan dengan nilai budaya serta alam,” papar Agus.

Di tengah dominasi warna hitam dan toska, ada warna emas. Warna emas tersebut mucul dari aksesori berbentuk sayap, simbol Garudheya. Perpaduan hitam yang kuat, toska yang membumi, serta emas yang mulia menunjukkan kepiawaian Agus menerjemahkan karakter sang burung legendaris ke dalam karya fashion.

Agus dengan cermat memadukan gaya sporty, elegan, dan klasik. Desain pakaian tidak terlampau eksperimental, cenderung timeless. Elegansi muncul dari siluet gaun yang clean. Beberapa bersiluet flowy dan berbahan sifon sehingga pemakaian tampak anggun. Namun, semua itu dikemas dengan gaya sporty yang simpel, mudah dikenakan, dan nyaman. “Gabungan semua itu kerap disebut gaya urban kontemporer,” ujar Agus.

Segala yang kontemporer dan modern lantas dipadankan dengan unsur tradisional. Di koleksi Garudheya, Agus memilih tenun Klaten bermotif geometris serta lurik. Kain-kain itu dijadikan aksen agar busana lebih bercorak dan berbudaya. “Bahan lain yang saya gunakan ada linen dan sifon,” tambah Agus.

Agar karyanya lebih bertekstur, Agus menerapkan teknik quilting atau jahit timbul pada busana. Ini membuat tampilan busana lebih dinamis dan modern. Selain itu, dia menambah ornamen lain seperti ring untuk menambah kesan urban. (c17/len)