Bagi pelaku bisnis, pandemi virus korona (Covid-19) jelas merupakan pukulan yang maha berat.  Pelaku bisnis mengalami penurunan penjualan imbas lemahnya daya beli di masa pandemi.  Bahkan banyak dari saya reka gulung tikar lantaran bisnisnya terus merugi.

Namun, tidak semuanya berakhir mengenaskan.  Bagi saya yang tak mau menyerah dan pasrah dengan keadaan, selamat tangan berat ini bisa menjanjikan sebuah kesempatan bisa esarico, pemilik merek sepatu pandemi akhir segalanya.  Bahkan, korona nis untuk berbicara ke depan.

Tanya saja kepada Aditya Cakasi di Bentangan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah. Sebelum pandemi, Rico, sapaan akrabnya, hanya memproduksi sepatu sekolah.  Selain itu, ia juga menjadi distributor lokal Aero Street yang berlosepatu merek lain.  Penjualannya bahkan sempat menurun di awal-awal masa pandemi.

Namun, tidak lama kemudi- an, kinerja bisnisnya justru meletus.  Tidak tanggung-tang- gung, penjualannya kini melon- jak hingga 9.000 pasang sepatu per hari.  Bagaimana ia menapaki kisah suksesnya?

Rico sudah berkutat dengan sepatu bisnis sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).  Saat itu, ia berjualan sepatu keliling ke pasar-pasar.  “Saya memang sudah telanjur suka dengan sepatu da- ri awal,” kenangnya.

Masuk jenjang perguruan tinggi, Rico sempat kuliah di Jurusan Manajemen Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.  Namun, baru berjalan satu semester, ia memutuskan berhenti kuliah dan memilih fokus pria- jalani usaha penjualan sepatu.

Dari usahanya itu, ia berhasil mengumpulkan uang dan membeli sebuah mobil Suzuki Carry untuk menunjang bisnis sepatunya.  Dengan mobil itu, jangkauan pasamya-luas hingga ke Wonosobo dan Surabaya.

Memasuki tahun 2006, ia tidak bisa menjadi distributor sepatu sekolah dan sandal Swallow.  Sebagai dijangkauan pasamya hampir ke seluIndonesia.  tributor, Menjadi distributor sepatu sekolah dia jalani selama hampir kurang lebih delapan tahun, hingga tahun 2014. Sampai akhirnya di tahun 2014, ia mulai berpikir untuk butor.  “Kalau gini-gini saja, bistidak bisa menjadi distrinis akan menjadi mentok,” ujarnya.

Dari situlah ia mulai memutuskan untuk belajar memproduksi sepatu.  Didorong tekad yang kuat untuk sukses di bisnis ini, ia lalu ke Guangzhou, China, belajar mengenal mesin produksi sepatu.  “Selama dua bulan saya belajar intensif di sana,” ujarnya.

Setelah menguasai permesinan, termasuk desain sepatu, Rico pun memulai memproduksi sepatu merek itu sendiri di tahun mesin langsung dari Tiongkok 2015. Untuk itu, ia hanya membeli Rp 300 juta.

Tidak hanya itu, ia juga membeli lahan seluas 1,4 hektare sebagai lokasi pabrik sepatu bot.  Tahap awal, ia mempekerjakan total 20 orang.

Bahan baku lokal Puncak bisnisnya tercapai pada tahun 2018, saat ia sudah memiliki 1.400 orang tenaga kerja.  Kala itu, ia sudah memiliki dua pabrik dengan kapasitas produksi hingga 10.000 pasang per hari.

Untuk keperluan produksi, ia menggunakan bahan baku lokal Indonesia.  Bahan baku itu ada yang didatangkan dari Jakarta, Bekasi, ngerang, Pasuruan, Surabaya, Bandung, dan “Bahan lainnya. Baku semua 100% kita ambil dari Indonesia. Ada di Indonesia, di Bekasi, Tangerang,  Jakarta, Pasuruan, dan lain lain, “terang- semua nya.

Selain bahan baku lokal, ia juga memanfaatkan karyawan atau tenaga kerja dari penduduk sekitar.  Meski awalnya saya belum melihat atau memiliki keterampilan tentang kerajinan sepatu, namun bimbingan dari pabrik, saat ini ratusan bahkan Ribuan karyawan tersebut sudah cukup terampil memproduksi sepatu.  “Sepatu bisnis ini padat karya. Pegawai kita semuanya lokal. Tidak ada yang orang asing,” tegasnya lagi.

Namun, di saa bisnis sepatunya sedang naik dun, Rico dan kebanyakan pengutan dalam mengalami guneangan menyusul merebaknya pandemi korona.Di awal pandemi, pernintaan sepatu produksinya anjlok.

Bahkan, penjualan sepatu Aero di pasar offline sempat anjlok hingga 90%.  Saat itu, penjualan harian Rico sudah mencapai 6.000 pasang perhari.  “Bayangkan, omzet kita tinggal sisa 5% -10%,” ungkapnya.

Kendati bisnisnya sempat nyungsep dalam, dia masih tetap mempertahankan 1.400 karyawan yang bekerja di pabik sepatunya.  “Saat itu saya berkomitmen untuk mempertahankan dan tidak boleh ada yang dikeluarkan,” ucapnya.

Karena tidak ingin ada pengurangan karyawan, dia lalu memutar otak, bagaimana bisa menghasilkan produk yang diterima banyak orang.  Maka, setelah melakukan riset dan survei, ia memutuskan untuk memperluas segmen sepatu.  Tidak hanya sepatu sekolah.

Sejak itu ia terdorong membuat model sepatu olahraga, jalan-jalan, dan pesta.  Intinya yang kasual dan bisa dibicarakan untuk kepentingan apa saja.  Supaya menarik, pilihan varian dan warnanya juga harus lengkap.

Usahanya itu mulai terwujud di bulan April 2020, dengan meluncurkan produk baru.  Tenyata, model sepatu anak muda yang dikembangkannya sangat membantu mendongkrak omzet.  Salah satunya adalah model Aerostreet Tiger 2D Cartoon yang memiliki.

 

Sumber: 25 Januari-31 Januari 2021. Hal.22