Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen Bisnis Hospitaliti di Universitas Ciputra Surabaya
Sistem darurat bencana sebagaimana diinisiasi oleh Kementrian Pariwisata patut diapresiasi dan disempurnakan.
Upaya Kementrian Pariwisata (Kemenpar) dalam menangani dampak letusan Gunung Raung patut diapresiasi. Kemenpar telah menyusun standard operating procedure (SOP) pengalihan moda transportasi yang lebih aman di wisatawan.
Bagi wisatawan mancanegara yang ‘terperangkap’ di Bali, Kemenpar menawarkan dua hal. Pertama, extension program berupa wisata overland ke Banyuwangi di Jawa Timur atau ke Gili Trawangan di Lombok, NTB. Kedua, bebas biaya kamar hotel untuk perpanjangan lama tinggal.
Sebagaimana diketahui, material erupsi Gunung Raung yang berlokasi di tiga kabupaten (Banyuwangi, Bondowoso, Jember) sudah semakin mempengaruhi penerbangan di Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bandara Internasional Lombok, Bandara Selaparang Matara, Bandara Blimbingsari Banyuwangi, Bandara Notohadinegoro Jember dan Bandara Juanda Surabaya.
Imbas kerugian dari peristiwa alam itu amat dirasakan oleh wisatawan, pengelola bandara, dan maskapai penerbangan. Citilink misalnya, menanggung kerugian dengan kisaran Rp 5 miliar.
Fenomena alam ini sekali lagi menegaskan pentingnya sistem darurat bencana, yang secara kebetulan pada momen high season ini berimbas pada sektor pariwisata. Karena itu, sistem darurat bencana sebagaimana diinisiasi oleh Kemenpar patut diapresiasi dan sisempurnakan.
Fakta alam yang terdapat di Provinsi Jatim tidak dapat dilepaskan dari eksistensi gunung berapi. Kebanyakan daerah di Jatim Memiliki gunung berapi. Dari batas paling barat Jatim merembet ke arah timur, terdapat Gunung Lawu (3.266 mdpl), Gunung Wilis (2.563 mdpl), Gunung Arjuna (3.339 mdpl), Gunung Mahameru (3.676 mdpl), Gunung Bromo (2.392 mdpl), Gunung Argopuro ( 3.088 mdpl), Gunung Raung (3.332 mdpl), Gunung Merapi (2.800 mdpl).
Keberadaan gunung berapi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, menghadirkan tanah yang subur. Seperti riwayat 3 kali meletusnya Gunung Kelud pada 1951, 1966 dan 1990, bekas jalur lahar letusan yang kini menjadi dusun pemukiman, tanahnya lestasi. Tak hanya itu, keberadaan gunung berapi juga menjadi sensasi dan atraksi pariwisata tersendiri. Namun di sisi lain, gunung berapi mengancam peradaban manusia yang bermukim di sekitarnya. Di Bali, Gunung Agung pernah meluluhlantahkan peradaban orang-orang Bali pada Maret 1963.
Ada ‘beban’ terrsendiri bagi pengelola daerah yang wilayahnya memiliki potensi pariwisata berbasis alam. Keeksotisan suatu gunung berapi yang tersohor hingga ke berbagai penjuru dunia, suatu ketika harus menutup diri dari kunjungan wisatawan dengan stats siaga I, II, dan III. Daerah dataran tinggi menawarkan sensasi penyegaran jiwa-raga, kesejukan udara dan vila-vila penginapan yang nyaman, suatu waktu menimbulkan derajat kecemasan bagi wisatawan akan bahaya tanah longsor ketika berada di sana.
Hal serupa juga kerap melanda pada daerah destinasi wisata lain yang berbasis alam. Menyikapi ancaman-ancaman bencana alam seperti itu, kerap kali manajemen daerah menggelar ruwatan tolak bala.
RISIKO BESAR
Artinya, sesuatu yang sifatnya menawarkan atraksi alam, memiliki risiko yang besar terkait keselamatan fisik yang semakin hari semakin terasa sensitif di kalangan wisatawan. Jika larangan berkunjung (travel warning) yang dikeluarkan suatu otoritas negara karena ancaman teroris atai ketidakpastian jaminan keselamatan dari moda transportasi udara lebih menyangkut faktor di luar wisatawan (external barrier), maka ancaman yang datang dari alam jauh lebih berpengaruh untuk meredam keinginan orang melakukan suatu perjalanan wisata (internal barrier).
Untuk itulah, pariwisata yang semata-mata mengandalkan warisan kekayaan dan keeksotisan alam semakin tidak dapat menjadi jaminan satu-satunya untuk menarik sebanyak-banyaknya kunjungan wisatawan. Sebaliknya, justru ada kecenderungan yang besar dipandukannya keunikan dan keindahan alam daerah dengan atraksi-atraksi pariwisata lainnya yang bermaksud untuk lebih mengoptimalkan (mengeksploitasi) kekayaan alam tersebut. Pada taraf ini, dua daerah atau lebih yang memiliki potensi wisata alam yang sama, misalnya gunung berapi, yang satu bisa lebih menarik, mengesan dan laris di mata wisatawan dibandingkan yang lainnya.
Dalam pemahaman The World Travel dan Tourism Council (1991), pariwisata adalah industri penting dan tersebar di dunia. Banyak negara yang sibuk mereposisi industrinya dari brand-based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy ( ekonomi berbasiskan experience atau kesan). Experience adalah kegiatan ekonomi produktif yang menimbilkan efek keterlibatan. Segala sesuatu yang berakhiran ‘ing’ dalam bahasa inggris, seperti diving, skiing, dog sledding, hotair ballooning, whale kissing, snorkling, eating, dan seterusnya masuk dalam ketegori ini. Dan semua itu merupakan kemasan pariwisata modern (Rhenald Kasali, 2004).
Jelas adanya, warisan alam yang kondusif untuk pariwisata tidak diberikan ke semua daerah di Indonesia. Daerah yang mewarisi alam yang indah tidak serta merta lebih maju pariwisatanya dibandingkan daerah yang tidak berbasiskan alam. Sebaliknyam daerah yang tidak memiliki kepesonaan alam, semakin ditntut untuk melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk melakukan rekayasa pariwisata yang sajiannya tak kalah menariknya dengan alam yang eksotis dan memesona.
Di sinilah daerah-daerah di Indonesia dapat menemukan, mengembangkan dan mengoptimalkan keunikan dan keunggulannya sendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Karena kita meyakini pada dasarnya setiap daerah adalah unik. Setiap daerah dapat mengupayakan pasarnya sendiri (‘samudra biru’) tanpa harus berhadap-hadapan langsung (‘samudra merah’) dengan pesaing daerah lain memerebutkan wisatawan yang sama (W Chan Kim, Blue Ocean Strategic, 2005).
Sumber : Bisnis-Indonesia.24-Juli-2015.Hal.2

