Robot tidak selalu menyingkirkan manusia dalam aktivitas industry. Jika dikelola dengan tepat, robot bisa membawa kebaikan bagi umat manusia.
Saat berbincang dengan jawa pos di Surabaya, kamis (4/2), bos mayapada group dato’ sri tahir bercerita banyak hal tentang industry dan kewirausahaan. Dia memaparkan dari empat era industry, yakni masa penggunaan tangan manusia,otomatisasi, era teknologi, dan robotic, Indonesia tertinggal dari barat yang kini tengah memasuki era robotic.
SDM bisa jadi berkah atau beban
“kita masih di era teknologi. Yang era robotic ini,kita enggak ngeh” ujarnya. Banyak pengusaha yang tidak meragukan kecanggihan dan manfaat efisiensi yang ditimbulkan dari penggunaan robot. Namun, sering negara dengan bonus demografi sepeerti Indonesia malah takut. Sebab, robot dianggap akan mematikan pekerjaan yang tersedia untuk rakyat. Hal itu terkait dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang rendah sehingga menimbulkan masalah social. Padahal, kata pria asal Surabaya itu,hal tersebut bergantung pada porsi yang diatur pemerintah. Yakni, menentukan mana saja sector industry yang boleh menggunakan robot dan mana yang tidak. “misalnya,untuk produksi alat alat kedokteran yang butuh akurasi tinggi, ya kita perlu robot. Tapi kalau untuk produksi sabun, pakai tenaga manusia dan mesin saja sudah cukup” paparnya. Dengan pembagian porsi seperti itu, industry tetap bisa mengikuti perkembangan zaman sekaligus efisiensi dari sisi biaya dan waktu. Sarapan tenaga kerjapun tetap tinggi karena masih banyak peluang lapangan kerja. Penggunaan robot bermanfaat jangka panjang. Terutama pada pembangunan infrastruktur. Tahir mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menggenjot pembangunan infrastruktur tahun ini. Dia menilai pemerintah sangat mampu melakukan pembangunan. “pemerintah punya banyak uang dan investor asing antre masuk ke Indonesia. Namun, pemerintah tahu bahwa uang asing yang masuk ke Indonesia itu harus ada jaraknya, bergantung bagaimana pengaturannya” lanjut peraih Ernst & young entrepreneur of the year award 2011 tersebut. Suami rosy riady itu menilai Indonesia harus mendorong pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Konsumsi kelas menengah itu akan bisa mendorong perekonomian. Apalagi Indonesia punya bonus demografi, yakni melimpahnya usai produktif dengan usia 20-40 tahun. Jika industry mampu melakukan efisiensi secara tepat dan serapan tenaga kerja tidak bermasalah, kelas menengah akan semakin tumbuh. Dia mengungkapkan, Indonesia harus menyadari potensinya di bidang SDM: ada dua pilihan: bisa menjadi berkah atau beban. Namun, semua itu bergantung cara pandang dan solusi yang diusahakan negara. Bonus demografi tersebut tidak dimiliki negara negara maju di asia seperti jepang maupun singapura. Juga, tidak dimiliki negara yang sedang berkembang yang kini menjadi kekuatan baru dunia,tiongkok. Jepang dan tiongkok memiliki banyak penduduk usia tua yang tidak produktif.negara harus membayar biaya jaminan social dan kesehatan penduduk usia tua sehingga menjadi beban negara. Sebaliknya, Indonesia punya peluang dengan melimpahnya penduduk usia muda. “coba lihat, orang singapura itu mau kawin, tapi enggak mau punya anak. Beda kan sama kita” ujar pria 64 tahun itu berseloroh. Pertumbuhan ekonomi juga bergantung pada cara pemerintah mengelola keuangan negara. Pajak sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai sumber pendapatan negara. Karena itu, tahir mengaku tengah menunngu kebijakan pengampunan pajak. Jika kebijakan ta amnesty tersebut bisa keluar pada kuartal pertama tahun ini, dia yakin pemasukan uang negara dari pajak akan terdongkrak. Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah melambat. Pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5 persen tahun ini. Tahir menuturkan unutk jangka hingga 10 tahun kedepan, menurut dia, yang terpenting bukanlah angka pertumbuhannya, tetapi apa yang mendorong ekonomi itu tumbuh. Tumbuhnya pengusaha pengusaha baru itu juga diyakini akan mendongkrak kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga jangka panjang. Indonesia kini tengah dilanda masalah harga komoditas yang sedang jatuh. Inilah saat yang tepat untuk memupuk kewirausahaan secara lebih mendalam kepada kaum muda. Sebab, Indonesia terbiasa menggantungkan diri dari berjualan batu bara,CPO,karet serta komoditas lain tanpa memberikan nilai tambah pada barang dagangan itu. Dengan menjadi pengusaha, Indonesia bisa berubah menjadi negara yang tangguh dengan nilai tambah pada berbagai komoditas dan produk. “you ambil emas dari bawah tanah, you bukan pengusaha. Tapi kalau you kasih emas itu nilai tambah sampai jadi perhiasan,you baru pengusaha.”
Sumber: jawa pos,sabtu 6 februari 2016

