Peran sentral DJB di Surabaya diamini oleh sejarawan Freddy Istanto. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Sjarikat Poesaka Soerabaia ini menyebut letaknya di pusat bisnis Surabaya menjadi salah satu bukti. Perputaran uang di Surabaya Utara, tepatnya di sekitar sungai Kalimas, cukup tinggi karena menjadi pusat kegiatan ekspor impor. Di kawasan itu, kata Freddy, terdapat gedung Internatio yang merupakan kantor pengelola perdagangan Belanda, serta kawasan pergudangan yang kini lebih dikenal sebagai Jembatan Merah Plaza.
“Hindia Belanda itu kan salah satu pengekspor gula terbesar di dunia. Jalur ekspornya ya lewat pelabuhan Kalimas. Nah, itu pendanaannya juga dari Javasche Bank,” ujarnya saat dihubungi.
Di tempat DJB berdiri, ia melanjutkan, dahulu terkenal sebagai kawasan elit. Hal ini membuat banyak nasabah DJB berasal dari saudagar kaya. “Surabaya ini terbelah oleh Kalimas, menjadi barat dan timur. Sebelah barat dihuni oleh orang-orang Belanda, kawasan bisnis elit. Nah, Javasche Bank kan adanya di barat Kalimas,” ia menambahkan.
Sadar mendapat banyak kepercayaan dari nasabah, DJB tahu betul bagaimana membalasnya. Mereka menjadi pelopor dalam keamanan transaksi dan data nasabah. Hal ini bisa dilihat di ruang transaksi yang berada di lantai 1. Mereka menyediakan 10 bilik transaksi dengan sekat terali besi untuk memisahkan kasir dan nasabah.

Untuk menjamin keamanan aset nasabah, DJB mengaplikasikan Closed Circuit Television (CCTV) alami. Bukan dengan kamera, mereka menempatkan beberapa cermin di setiap sudut lorong yang mengitari ruang brangkas.
“Melalui pantulan cermin, semua pergerakan di sana bisa terpantau dari satu sudut,” Risky menambahkan. Sementara uang dan aset dibawa ke ruang basement, lembar transaksi nasabah diarsipkan di sebuah rak yang hingga kini masih kokoh di lantai 2, atau bagian paling atas gedung.
Setelah DJB dinasionaliasi oleh pemerintah pada tahun 1951, gedung DJB menjadi kantor Bank Indonesia perwakilan Surabaya pada tahun 1953 hingga 1972. Lalu, pada 27 Januari 2012, gedung tiga lantai milik Bank Indonesia ini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Kini, masyarakat yang ingin melihat jejak perbankan di Surabaya bisa berkunjung ke sana secara gratis. Letak DJB pun mudah dijangkau. Untuk penikmat angkutan umum, mereka bisa naik bus kota jurusan terminal Bungurasih-Jembatan Merah Plaza. Atau, jika dari arah Gresik, bisa menumpang angkutan umum jurusan terminal Tambak Osowilangun-Jembatan Merah Plaza. Selain bisa datang sendiri, pengunjung juga bisa datang dengan rombongan dengan mengajukan proposal terlebih dahulu. “Atau kalau gak mau ribet pakai transportasi online saja,” kata Risky.
Pengunjung juga bisa ikut tur yang disediakan oleh beberapa instansi seperti paket perjalanan dari House of Sampoerna, Surabaya Shoping and Culinary Track (SSCT), hingga Suroboyo Bus. “Kami buka tiap hari mulai pukul 8 pagi sampai 4 sore. Tapi karena pandemi, saat ini belum menerima kunjungan masyarakat umum,” ujar Risky.



